Sabtu, Juli 2, 2022
BerandaBerita TerbaruTeori Keadaan Tetap yang Ditolak Banyak Ilmuwan, Apa Alasannya?

Teori Keadaan Tetap yang Ditolak Banyak Ilmuwan, Apa Alasannya?

Teori keadaan tetap dikemukakan oleh tiga orang ahli auto fisika. Mereka adalah Thomas Gold, Fred Hoyle, dan Hermann Bondi. Mereka mengemukakan teori berkaitan dengan proses pembentukan alam semesta.

Memang perdebatan panjang mengenai misteri kehadiran alam semesta tidak pernah selesai. Ilmuwan terus mengeluarkan berbagai teori mengenai bagaimana dan kapan alam semesta bisa tercipta.

Baca Juga: Teori Mengembang dan Memampat, Ini Kelebihan serta Kekurangannya!

Teori satu ini menjelaskan bahwa alam semesta tidak memiliki awal dan tak akan berakhir sepanjang masa.

Mengenal Teori Keadaan Tetap yang Kontroversial

Ada beberapa teori terkenal mengenai asal pembentukan alam semesta. Para ilmuwan berlomba-lomba dalam menemukan berbagai teori baru yang masuk akal dengan bukti sebelumnya.

Semua itu berawal dari sebuah ilmu bernama kosmologi. Albert Einstein adalah orang pertama yang mempelajari teori tersebut.

Pada tahun 1915, Albert Einstein menyempurnakan teori relativitas umumnya yang kemudian berlanjut untuk mulai diterapkan dalam pendistribusian zat di luar angkasa.

Dari situlah teori asal-usul alam semesta akhirnya terus berkembang sampai akhirnya seorang astrofisikawan dari Belgia bernama George Lemaitre menemukan sebuah teori.

Lemaitre mengemukakan teori yang mengatakan bahwa alam semesta berasal dari sebuah atom purba tunggal panas dan padat sebelum akhirnya meledak keluar. Teori tersebut akhirnya terkenal dengan nama Big Bang atau ledakan besar.

Baca Juga: Tabrakan Tiga Galaksi di Konstelasi Cancer, Apa Akibatnya?

Teori Lemaitre mendapat dukungan oleh seorang ahli fisika Amerika, George Gamow. Setelah teori Big Bang, mulai muncul berbagai teori lainnya, termasuk teori keadaan tetap.

Pada tahun 1948, tiga orang astrofisikawan bernama H. Bindu, T. Gold, dan F. Hoyle yang berasal dari Universitas Cambridge mengemukakan teori alam semesta terbarunya.

Teori mereka menjelaskan bahwa alam semesta tidak pernah memiliki awal dan akhir. Menurut mereka, alam semesta yang ada saat ini terus berkembang dalam keadaan tetap dan tidak akan berubah.

Hal itulah yang akhirnya membuat pemikiran tersebut mendapat nama keadaan tetap. Menurut teori keadaan tetap, segala materi yang ada di alam semesta terus datang, baik dalam bentuk atom hidrogen maupun galaksi lama.

Fakta yang Mendukung Teori

Galaksi tersebut akan terus bergerak menjauhi kita dalam proses perkembangannya. Keberadaan teori ini berdasar prinsip kosmologi sempurna.

Kosmologi sempurna menjelaskan bahwa alam semesta manapun dan kapanpun akan selalu sama. Fakta yang mendukung teori ini adalah sebuah galaksi baru memiliki jumlah yang hampir sama dengan galaksi lama.

Dengan kata lain, teori ini menjelaskan bahwa alam semesta memiliki ukuran yang tidak terhingga. Selain itu, alam semesta juga tidak memiliki usia akhir dan akan terus seperti saat ini.

Teori keadaan tetap sangat populer pada awal abad ke-20. Namun, keberadaan teori ini ternyata mendapat beberapa penolakan dari sebagian besar kosmolog profesional, bahkan ilmuwan lainnya.

Hal itu karena adanya kebenaran bukti teori ledakan dahsyat atau Big Bang yang menjelaskan bahwa alam semesta memiliki batasannya sendiri.

Alasan Teori Ditolak Sebagian Besar Ilmuwan

Sebelumnya dikatakan bahwa teori keadaan tetap sangat ditolak oleh sebagian besar ahli karena bertentangan dengan isi teori Big Bang.

Baca Juga: Nebula Terbesar di Alam Semesta yang Tertangkap Teknologi Manusia

Pada teori tetap, ruang angkasa berkembang hingga menjadi lebih kosong dengan galaksi yang saling menjauh.

Tidak sampai di situ, teori keadaan tetap juga mengatakan bahwa zat baru selalu tercipta di luar angkasa untuk membentuk galaksi baru. Keberadaan galaksi baru tersebutlah yang akan menggantikan galaksi lama.

Dalam hal ini juga sudah sepakat bahwa zat pembentuk galaksi di luar angkasa tersebut adalah hidrogen.

Alasan lain mengapa teori ini mengalami penolakan keras adalah karena melawan hukum dasar fisika mengenai kekekalan zat. Zat tidak dapat tercipta atau hilang begitu saja.

Zat hanya dapat berubah bentuk dan sulit untuk melakukan penyanggahan langsung mengenai bagaimana proses pembentukan zat tersebut.

Berdasarkan teori tetap, laju pertumbuhan zat sangatlah lambat, yakni 1 atom untuk setiap milyaran tahun dalam 1 volume luar angkasa.

Kita tahu bahwa teori keadaan tetap hanyalah satu dari sekian banyak teori terkenal lainnya. Semua teori tersebut hingga kini masih belum dapat memberikan bukti konkrit. Inilah mengapa alam semesta selalu penuh dengan misteri. (R10/HR-Online/Editor-Ndu)

- Advertisment -