Senin, September 26, 2022
BerandaBerita Nasional1 Ramadhan 2022 Jatuh pada Hari Minggu Tanggal 3 April

1 Ramadhan 2022 Jatuh pada Hari Minggu Tanggal 3 April

Sidang Isbat menetapkan 1 Ramadhan 2022 jatuh pada hari Minggu, tanggal 3 April esok lusa.

Hal itu disampaikan Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas, dalam sidang Isbat yang digelar Jumat (1/4/2022), bersama Komisi VIII DPR, pejabat negara lainnya, ormas Islam, serta ahli ilmu astronomi dan BMKG.

Penjelasan 1 Ramadhan 2022 Jatuh Tanggal 3 April

Yaqut menjelaskan, dari hasil pemantauan di 101 titik lokasi, semuanya melaporkan tidak terlihat hilal.

Oleh sebab itulah, 1 Ramadhan 1443 H jatuh tanggal 3 April 2022 Masehi, tepatnya hari Minggu.

PBNU 3 April

PBNU memutuskan bahwa hari Minggu tanggal 3 April 2022 adalah awal puasa Ramadhan 1443 Hijriah.

Ketua Umum PBNU, Gus Yahya atau Kiai Haji Yahya Cholil Staquf, menyampaikan hal tersebut secara langsung pada Jumat (01/04/2022) bakda Magrib.

“Pada hari Jumat ini lembaga Falaqiyah PBNU sudah melakukan pemantauan hilal pada 50 titik lokasi. Berdasarkan laporan dari lembaga tersebut, seluruh lokasi tempat rukyatul hilal menyatakan tidak berhasil melihat hilal,” paparnya.

Dengan begitu, lanjut Yahya, maka umur bulan Syaban 1443 Hijriah adalah 30 hari, dengan kata lain istiqmal.

Berdasarkan hal itu, PBNU memperkirakan 1 Ramadhan 1443 Hijriah jatuh pada Ahad Wage, 3 April 2022.

Dalam penetapan awal Ramadhan ini, metode yang pemerintah gunakan adalah rukyatul hilal. Metode ini beda dengan metodologi yang Muhammadiyah gunakan.

PBNU mulai melakukan pengamatan tersebut semenjak hari ke-29 atau ke-30 pada bulan Syaban, serta akan terlihat bulan sabit muncul. Dengan begitu maka bisa menentukan awal Ramadhan mulai malam itu.

Tapi jika yang terjadi malah sebaliknya, maka awal Ramadhan dapat terjadi keesokan harinya. Oleh sebab itu, hasil sidang Isbat jadi tonggak keputusan penetapan 1 Ramadhan dilaksanakan pada malam hari.

Metode Muhammadiyah

Sedangkan, Muhammadiyah menggunakan metode hisab wujudul hilal. Ini adalah metode yang menggunakan perhitungan astronomis.

Dengan metode ini, perhitungan serta penentuan awal Ramadhan terlebih dahulu harus ada ijtimak. Dalam hal ini, kriteria untuk menentukan 1 Ramadhan harus terpenuhi dulu supaya keputusan awal Ramadhan bisa dikatakan final.

Dengan metode hisab hakiki wujudul hilal yang Muhammadiyah gunakan maka metode tersebut menilai bahwa hari Jumat tanggal 1 April 2022 Masehi, ijtimak menjelang Ramadhan 1443 Hijriah terjadi pukul 13.27:13 WIB.

Ketinggian Bulan ketika Matahari terbenam di daerah Yogyakarta atau f = -07° 48¢ Lintang Selatan, serta l=110° 21¢ Bujur Timur =+02° 18¢ 12² atau hilal sudah terlihat.

Begitu pula untuk seluruh wilayah Indonesia saat Matahari terbenam itulah Bulan berada pada posisi atas ufuk.

Dengan begitu, maka Muhammadiyah menetapkan bahwa 1 Ramadhan tahun ini jatuh pada tanggal 2 April.

Sementara itu, metode yang NU (Nahdlatul Ulama) gunakan yaitu rukyatul hilal. Metode ini menilai posisi/letak hilal pada hari Jumat ini berada di atas sedikit kriteria dari imkanur rukyah atau kemungkinan hilal dapat terlihat.

Namun berdasarkan data hisab pada Lembaga Falakiyah PBNU ternyata menunjukkan adanya hilal yang sudah ada di atas ufuk. Yaitu tepatnya +2 derajat 4 menit 12 detik.

Atau lama hilal 09:49 detik yang terpantau dari Kantor PBNU Pusat Jakarta, koordinatnya 6º 11’ 25” Lintas Selatan 106º 50’ 50” Bujur Timur.

Sedangkan, ijtimak atau konjungsi juga gampang, yang mana bulan terjadi Jumat 1 April 2021 jam 13.25:54 WIB.

Bagi NU, ketinggian lebih dari 2 derajat, 4 menit serta 3 derajat, 4 menit, tampaknya hilal akan sulit dirukyat. Apalagi umur Bulan belum 8 jam.

Apabila hilal tidak nampak, maka bulan Syaban otomatis bakal digenapkan jadi 30 hari. Sehingga, 1 Ramadhan 1443 Hijriah bisa tanggal 3 April 2022. Sedangkan, hari Sabtu, tanggal 2 April 2022 besok itu masih terhitung 30 Syaban 1443 Hijriah.

Sementara itu, pada tahun ini Kemenag menggunakan kriteria yang baru dalam penentuan awal Hijriah. Kriteria tersebut mengacu pada hasil kesepakatan antara Menteri Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, serta Singapura pada tahun 2021. (R3/HR-Online/Editor-Eva)

Sumber: suara.com