Rabu, Juli 6, 2022
BerandaBerita TerbaruKeteladanan Nabi Musa Selalu Percaya dengan Pertolongan Allah SWT

Keteladanan Nabi Musa Selalu Percaya dengan Pertolongan Allah SWT

Keteladanan Nabi Musa akan menjadi kisah yang selalu dikenang oleh umat Islam. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa Nabi Musa merupakan nabi ke-14 dari 25 nabi yang wajib untuk kita imani.

Musa mendapat utusan dari Allah untuk melawan kekafiran yang raja kejam Mesir lakukan. Raja tersebut juga mengaku dirinya sebagai Tuhan. Raja tersebut adalah Firaun.

Nabi Musa juga merupakan nabi yang masuk dalam Ulul Azmi. Memperoleh mukjizat dari Allah.

Tongkat yang selalu menemaninya berjalan melawan kemungkaran ternyata bisa berubah menjadi ular besar dan membelah lautan. Selain itu, Allah juga mewahyukan Kitab Taurat kepada Nabi Musa.

Di samping sebagai Rasul Ulul Azmi, Nabi Musa juga terlahir dari kaum Bani Israil.

Saat Nabi Musa lahir, pada waktu itu juga Mesir berada di bawah kekejaman serta kesombongan Firaun. Selain mengaku sebagai Tuhan, Firaun juga tidak mau bersyukur kepada Allah yang sudah memberikan semua karunia yang ia miliki.

Sebelum lahirnya nabi Musa, Firaun sudah bermimpi Mesir terdapat api yang berkobar dan membakar serta memusnahkannya. Akan tetapi, tidak untuk Bani Israil.

baca juga: Keteladanan Nabi Zakaria, Tidak Ada yang Tidak Mungkin Bagi Allah SWT

Keteladanan Nabi Musa dalam Sejarah Islam

Mimpi raja Firaun tersebut menyebabkan ia mengundang seluruh peramal untuk menafsirkan apa arti mimpi buruknya tersebut. Hingga pada akhirnya Firaun menyuruh untuk membunuh seluruh bayi laki-laki yang baru dari bani israil.

Pada saat adanya perintah itu, ibu Nabi Musa sedang mengandung Nabi Musa. Bahkan bisa dikatakan ibu Nabi Musa sudah hamil tua dan akan segera melahirkan.

Ternyata benar, tidak lama Ayarikha ibu Nabi Musa melahirkan bayi laki-laki. Karena takut Firaun datang kemudian membunuh anaknya, ia menghanyutkan Musa ke sungai Nil. Allah SWT juga menjamin akan keselamatan putranya tersebut.

Ternyata bayi tersebut Asiyah lakukan, ia merupakan istri Firaun. Ia juga sangat menyukai bayi mungil dan malang itu, kemudian memutuskan untuk menjadikan Musa sebagai anak angkatnya.

Sebenarnya sang Suami menolak apa yang menjadi keputusan istrinya. Hingga pada akhirnya Firaun menyetujui karena bujukan Asiyah.

Musa kecil menyusu wanita dari Bani Israil yang merupakan ibu kandungnya. Musa juga tumbuh dengan akhlak yang baik dan bertolak belakang dari Firaun.

Maka dengan demikian itu keteladanan Nabi Musa tidak lepas dari kisahnya dengan raja Firaun yang kejam.

baca juga: Keteladanan Nabi Ilyasa As, Penerus Dakwah Nabi Ilyas As

Melawan Firaun

Suatu hari, mengetahui bahwa anak angkatnya selama ini adalah orang yang nantinya akan menghancurkan dirinya sendiri. Musa juga melawan tukang sihir suruhan dari Firaun.

Suatu ketika Nabi Musa mengajak Raja Firaun untuk menyembah Allah SWT. Mengetahui akan hal tersebut, justru Firaun menyuruh Musa untuk melawan tukang sihir suruhannya itu.

Penyihir tersebut kemudian mengeluarkan ular kecil. Namun tanpa ada rasa takut atau khawatir, Nabi Musa melemparkan tongkatnya kemudian tongkat tersebut bisa berubah menjadi ular besar.

Anda ketahui juga bahwa ular yang berasal dari tongkat Musa tersebut memangsa semua ular kecil buatan penyihir dari Raja Firaun.

Pertandingan tersebut juga disaksikan oleh orang banyak. Hingga pada akhirnya para penyihir juga malu terhadap Musa.

baca juga: Keteladanan Nabi Ayyub yang Tetap Sabar, Syukur, dan Taat Kepada Allah

Membelah Lautan

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa mukjizat Nabi Musa tidak hanya tongkatnya berubah menjadi ular besar saja.

Tetapi tongkat tersebut juga bisa membelah laut merah saat Nabi Musa dan kaumnya terkepung pasukan raja Firaun. Kejamnya Raja Firaun ingin menghabisi Nabi Musa beserta pengikutnya.

Dalam dakwahnya Nabi Musa mungkin tidak membuahkan hasil yang maksimal. Tidak membuat semua kaum Bani Israil menjadi pengikut akan keteladanan Nabi Musa.

Meskipun hanya beberapa namun Nabi Musa selalu gigih dalam menyebarkan agama Islam dan semua perintah dari Allah. Tidak sedikitpun ia ingin menyerah meskipun banyak rintangan serta cobaan yang menghadang.

Menyebrangi Laut

Saat rombongan Raja Firaun mengejar, Nabi Musa dan kaumnya qodarullah sampai di bibir laut. Sudah tidak tahu ingin berbuat apa lagi untuk melawan Firaun, pada akhirnya Nabi Musa berdoa kepada Allah.

Karena Allah mendengarkan doa Nabi Musa, kemudian Nabi Musa juga berprasangka baik terhadap Allah. Allah mengabulkan doanya. Menyuruh Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya ke permukaan air laut tersebut.

Masya Allah, secara tiba-tiba laut tersebut menjadi terbelah dua bagian. Setelah mengetahui akan hal tersebut kemudian Nabi Musa mengarahkan kaumnya untuk segera melewati jalan tengah dari laut yang sudah terbelah tersebut.

Mengetahui laut terbelah tersebut membuat Firaun dan kaumnya sontak kaget. Setelah melihat Musa dan kaumnya melewati atau menyeberangi laut tersebut, Firaun dan seluruh bala tentaranya mengikuti.

Setelah sampai ke seberang Nabi Musa dan kaumnya selamat. Namun dari kejauhan terlihat Firaun dan bala tentaranya masih terus mengejar.

Di pertengahan jalan Allah sudah menutup kembali jalan tengah laut tersebut. Sehingga Firaun dan bala tentaranya tenggelam.

Sampai sekarang ini ada yang mengatakan bahwa mayat ataupun jenazah Firaun itu masih tersimpan dan menjadi mumi. Hal tersebut juga menjadi pertanda bahwa murka Allah itu ada. Bagi siapapun yang melawan syariat ataupun ketentuan dari Allah.

Karena apa yang Musa lakukan merupakan perintah dari Allah SWT, ia percaya bahwa segala hal yang akan ia hadapi merupakan takdir dari Allah. Keteladanan Nabi Musa itulah yang harus kita contoh, bahwa tanpa Allah kita itu bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.

Kesulitan apapun yang kita alami selama di dunia sudah pasti Allah akan menyiapkan solusi ataupun jalan keluarnya. Maka dari itu, tugas kita hanya terus percaya kepada Allah, berharap kepada Allah, dan senantiasa berprasangka baik terhadap semua ketentuan serta ketetapan Allah SWT.

Keteladanan Nabi Musa tersebut juga mengajarkan kepada kita bahwa, Allah itu ada di manapun kita berada. Allah juga akan memberikan apa yang kita butuhkan. (Muhafid/R6/HR-Online)