Minggu, Februari 5, 2023
BerandaBerita TerbaruPemuda Zaman Orba, Hidup Manja dan Gemar Menghisap Ganja?

Pemuda Zaman Orba, Hidup Manja dan Gemar Menghisap Ganja?

Kedudukan pemuda zaman Orba (Orde Baru) menjadi penting ketika presiden Soeharto gemar melakukan pembangunan.

Pemuda waktu itu menduduki struktur yang menentukan dalam pembangunan. Mereka menjadi kelompok remaja yang akan menerima tongkat estafet dari golongan tua bernama regenerasi.

Ali Moertopo sebagai asisten pribadi presiden Soeharto kala itu menegaskan bahwa pemuda bertanggung jawab terhadap bangsa, dan negara.

Baca Juga: Sejarah Mochtar Kusumaatmadja, Orang Sunda yang Mendunia

Saat itu bangsa dan negara sedang membutuhkan golongan pemuda dengan jiwa pembangunan yang kuat.

Namun semua harapan menjadi luntur, tatkala para pemuda hanya berkalang kesenangan hidup, dan hobi meniru budaya Barat.

Artikel pada kesempatan ini akan membahas mengenai peran pemuda dalam program pembangunan presiden Soeharto.

Pemuda Zaman Orba dan Jenis Kenakalan Remaja

Pemerintah Orde Baru merasa kecewa dengan perilaku pemuda yang waktu itu katanya “hidup manja”, dan “gemar menghisap ganja”.

Pernyataan ini mengutip pendapat Majalah Ekspress tanggal 25 Januari 1971. Anda bisa melihat kutipan ini dalam buku Aria Wiratama berjudul “Dilarang Gondrong” (2010: 74).

Padahal pemerintah telah menyiapkan ladang pekerjaan untuk mereka yang terampil dan tekun terhadap kebijakan Orde Baru.

Sayangnya sebagian pemuda zaman Orba memilih kebebasan hidup dengan meniru kebudayaan Barat.

Hidupnya bebas, tidak menghiraukan hukum, apalagi teguran pemerintah melalui kebijakan tertulis.

Sebab arti kebebasan bagi mereka adalah hak untuk mengekspresikan hidup yang bersih dan terhindar dari unsur politis.

Baca Juga: Taktik Tentara Jepang Kalahkan Belanda di Indonesia dalam Waktu 8 Jam

Politik zaman itu sudah menjadi hal yang menyebalkan bagi pemuda. Mereka yang menjabat sebagai pemerintah melakukan tindakan semena-mena pada kalangan pemuda.

Rezim Orde Baru mengumpamakan pemuda seperti tubuh yang bisa digerakkan oleh kebijakan-kebijakan politik.

Orang Tua Khawatir, Media Kerap Memberitakan Kenakalan Remaja

Berita-berita yang mengabarkan kenakalan remaja, kerap mengudara melalui media nasional seperti, radio, dan televisi.

Hal ini menyebabkan pemuda zaman Orba semakin terawasi oleh orang tua. Kepala rumah tangga (ayah) akan memberikan arahan yang akan menjauhkan mereka pada kenakalan remaja.

Akan tetapi hal ini justru membuat para pemuda menjadi lebih liar, karena merasa terkekang oleh norma-norma ketat yang ada di dalam rumah.

Mereka mengekspresikan kenakalannya ini melalui cara yang lebih keras, bahkan mengarah pada kriminalitas yaitu, tawuran. 

Orang tua merasa gagal dalam mendidik anak, mereka akhirnya menyerahkan sepenuhnya pada pemerintah, supaya ikut serta dalam menjinakan aksi-aksi liar pemuda.

Sejak saat itulah pemerintah Orde Baru mulai tak segan-segan menangkap dan menghukum para pemuda yang terlibat aksi kriminal, dengan cara yang berat dan sadis.

Kontrol dan Mobilisasi Pemuda Zaman Orde Baru

Pemuda zaman Orba sering mengalami tindakan yang represif dari pemerintah Soeharto, tatkala pemerintah memberlakukan kebijakan yang bersifat imobilisasi.

Salah satu kebijakan yang mengontrol dan memobilisasi para pemuda terlihat dalam razia yang terjadi besar-besaran di setiap sudut kota besar, seperti Jakarta.

Razia tersebut antara lain razia rambut gondrong dan razia celana longgar (cutbray) seperti Elvis Presley dan John Lennon.

Tak tanggung-tanggung yang melaksanakan kebijakan razia dilakukan langsung oleh tentara. Kesatuan mereka bernama Bakorperagon (Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong).

Baca Juga: Pangeran Mandurareja, Pahlawan Jawa yang Gempur VOC di Batavia

Berbagai tanggapan pro dan kontra dari penerapan kebijakan ini pun bermunculan dalam media cetak.

Ada yang pro, dan ada yang kontra, akan tetapi ada satu tokoh yang mengkritisi peristiwa ini secara netral yaitu Moh Yamin.

Moh Yamin Mengkritik: Golongan Tua Mewariskan Tradisi Onverschillig

Dalam krititikannya Moh Yamin menyebut, perilaku menyimpang yang sering terjadi pada kelompok pemuda zaman Orba merupakan warisan golongan tua yang bersifat onverschillig (acuh tak acuh atau apatis).

Istilah Belanda tersebut bermakna karakter pemuda yang acuh tak acuh terhadap proyek pembangunan Orde Baru.

Golongan tua yang terlibat dalam kesalahan secara budaya membuat regenerasi menjadi tak terkendali, (2010: 74).

Seperti halnya larangan rezim Sukarno yang melarang lagu-lagu the beatles (ngak-ngik-ngok) terhadap pemuda yang mengidolakan John Lennon.

Peristiwa ini membawa kenangan buruk yang panjang bagi regenerasi pemuda pada masa yang akan datang.

Regenerasi pemuda tersebut kemudian menganggap Soekarno sebagai golongan tua yang represif layaknya pemerintahan Orde Baru yang lahir dari tangan Soeharto.

Oleh sebab itu pemuda zaman Orba merasa intoleran dan tidak peka terhadap kebijakan pemerintah sehingga muncul perasaan onverschillig. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)