Jumat, Juli 8, 2022
BerandaBerita BanjarHarga Telur Ayam Meroket, Pedagang Pasar Banjar Sebut Sidak Tidak Ada Hasilnya

Harga Telur Ayam Meroket, Pedagang Pasar Banjar Sebut Sidak Tidak Ada Hasilnya

Berita Banjar (harapanrakyat.com),- Harga telur ayam ras di pasar tradisional Kota Banjar, Jawa Barat, dalam sepekan ini terus meroket. Bahkan, harganya sampai menyentuh kisaran Rp 27-28 ribu per kilogram.

Akibatnya pedagang hingga konsumen mengeluh, hingga minta kepada pemerintah turun langsung untuk menstabilkan harga telur di tingkat pasar.

Salah seorang agen penjual telur Pasar Banjar, Oli Solihat mengatakan, makin meroketnya harga telur ayam ras tersebut terjadi sejak satu minggu ini. Bahkan, sudah mulai terasa setelah usai libur lebaran.

Sebelumnya saat lebaran, telur ayam masih berada kisaran harga Rp 25 ribu. Tetapi sekarang terus mengalami kenaikan, dengan harga di tingkat eceran Rp 27-28 ribu per kilogram, dan Rp 26 ribu untuk penjualan per peti.

Harusnya, kata Solihat, untuk harga telur ayam ras normalnya Rp 23 ribu per kilogram, dengan kestabilan harga bertahan selama 3 hari sampai 1 minggu.

“Setelah lebaran masih Rp 25 ribu. Tetapi sekarang terus naik sampai 27 per kilogram. Naiknya itu mulai satu minggu ini,” katanya kepada wartawan, Rabu (25/5/2022).

Penyebab Harga Telur Ayam Meroket di Pasar Banjar

Lebih lanjut ia menambahkan, naiknya harga telur tersebut karena menurutnya pasokan barang sempat tersendat.

Selain itu, harga pakan ayam di tingkat peternak juga informasinya naik, sehingga mempengaruhi harga penjualan.

Sehingga, kata Solihat, akibat kenaikan harga tersebut banyak konsumen yang mulai mengeluh dan mengurangi omzet penjualan, karena perputarannya agak melambat.

“Kalau pasar mah ramai. Cuma penjualan jadi menurun. Pelanggan saya biasanya juga ada yang ambil 2 peti sekali belanja, tapi sekarang mulai dikurangi hanya ambil 2 kilo untuk jualan di warung,” katanya.

Ia pun meminta kepada pemerintah untuk turun langsung ke lapangan mencarikan solusi, agar harga telur di tingkat pasar bisa stabil dan kembali ke harga normal, yaitu Rp 23 ribu per kilogram.

Konsumen Keberatan

Hal itu, selain karena sejauh ini banyak konsumen yang mengeluhkan meroketnya harga telur ayam, juga banyak para pedagang yang merasa keberatan, jika harga terus naik. Pasalnya, mereka (pedagang) harus menambah modal usaha.

“Tolonglah dari pemerintah harus menyikapi dengan baik, jangan asal sidak-sidak aja nggak ada hasilnya. Keinginan kami harga normal dan stabil. Karena jika naik kami juga jadi menambah modal,” tukasnya.

Baca Juga : Wabah PMK Tak Pengaruhi Penjualan Daging Sapi di Pasar Banjar 

Sementara itu, seorang konsumen, Umi, menilai harga telur tersebut sangat mahal dan merasa keberatan dengan naiknya harga telur. Karena menurutnya, omzet penjualannya ikut terdampak.

Terlebih, ia berbelanja telur untuk kembali dijual. Untuk itu, Umi menginginkan agar harga telur bisa kembali stabil.

“Tadi saya beli 4 kilogram harganya masih mahal. Keberatan lah, namanya juga mau buat jualan lagi. Penginnya harga telur ayam normal dan tidak meroket kembali. Pelanggan juga banyak yang ngeluh,” singkatnya. (Muhlisin/R5/HR-Online/Editor-Adi)