Minggu, Agustus 7, 2022
BerandaBerita CiamisDisnaker Ciamis Klaim Angka Pengangguran Turun

Disnaker Ciamis Klaim Angka Pengangguran Turun

Berita Ciamis (harapanrakyat.com),- Angka pengangguran di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, selama kurun waktu satu tahun ini turun meski tipis.

Kabid Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi Disnaker Ciamis, Nonok Nurlina mengatakan, bahwa turunnya pengangguran tersebut berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS).

Berdasarkan data BPS, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada tahun 2020 itu sebanyak 38.425. Sedangkan pada tahun 2021, TPT di Ciamis mencapai 33.961.

“Artinya ada penurunan pada tahun 2021 sekitar 0,5 persen atau sebanyak 4.464 orang. Data tersebut diambil dasarnya hasil dari BPS,” katanya kepada HR Online, Rabu (20/7/2022).

Menurutnya, upaya yang Disnaker Ciamis lakukan yang bisa membuat angka pengangguran turun yaitu dengan mengadakan berbagai pelatihan kepada para pencari kerja.

Baca Juga : Jumlah TKI Asal Ciamis Meningkat, Terbanyak dari Kecamatan Ini

Selain itu juga, pihaknya telah bekerja sama dengan beberapa perusahaan.

“Untuk penempatan para pencari kerja ini, kita juga coba kerja sama dengan berbagai perusahaan di luar Ciamis, dari mulai perusahaan garmen dan lainnya,” tuturnya.

Nonok mengungkapkan, memang pihaknya sendiri tidak mendata secara langsung angka pengangguran yang turun pada tahun 2021. Akan tetapi, Disnaker Ciamis mencatat data yang datang untuk pencari kerja saja.

“Sementara mereka yang datang ke sini itu bukan hanya pengangguran saja. Kadang kala mereka juga sedang bekerja, namun ingin pindah kerja ke tempat lain. Mereka juga buat kartu AK.1 atau kartu pencari kerja,” ungkapnya.

Lebih lanjut Nonok menjelaskan, saat ini data pencari kerja sampai Juni 2022 sebanyak 6.067 orang. Mereka datang untuk membuat kartu pencari kerja atau kartu kuning.

“Pencari kerja ini kebanyakan itu didominasi oleh lulusan SMK. Mereka rata-rata ingin bekerja di UMK yang tinggi, yaitu Cikarang, Karawang dan Tangerang serta Jakarta,” jelasnya.

Lanjut Nonok menambahkan, para pencari kerja itu jarang ingin bekerja di daerah sendiri. “Jadi rata-rata itu di kawasan industri semua. Mungkin ingin mencari UMK yang tinggi,” pungkasnya. (Ferry/R5/HR-Online/Editor-Adi)