Kamis, Agustus 18, 2022
BerandaBerita TerbaruKisah Zahid dan Zulfah yang Bertakwa kepada Allah dan Rasul

Kisah Zahid dan Zulfah yang Bertakwa kepada Allah dan Rasul

Kisah Zahid dan Zulfah menjadi pembelajaran tersendiri. Tahukah Anda siapa Zahid dan Zulfah tersebut?

Mungkin masih sedikit orang yang mengetahui akan kisahnya. Tetapi sungguh, kisahnya benar-benar menjadi teladan bagi seluruh umat muslim.

Kisah Zahid menyadarkan kita mengenai pentingnya untuk taat terhadap aturan Allah serta rasul-Nya. Sehingga ia mendapatkan keberuntungan yang sangat luar biasa.

Bagaimana maksudnya? Ketahuilah, ketika Zahid sudah meninggal ternyata jenazahnya itu menjadi rebutan bagi para bidadari surga.

Padahal dalam kisahnya tersebut wajah Zahid tidaklah rupawan, bahkan buruk rupa.

Tak hanya itu saja, asal usul keluarganya pun juga tidak jelas. Padahal di Arab Saudi, suku merupakan sesuatu yang terpandang dalam pernikahan.

Hal itu juga yang menjadi penyebab kenapa Zahid tidak menikah sepanjang hidupnya. Sebab, tidak ada satu orang tua pun yang ingin menikahkan putrinya dengan Zahid.

Lalu apakah yang akan terjadi? Siapakah Zulfah? Apakah ia yang akan menikah dengan Zahid?

baca juga: Kisah Ainul Mardhiah Bidadari Surga untuk yang Mati Syahid Berjihad

Kisah Zahid dan Zulfah dalam Sejarah Islam

Tepat sekali, Zahid itu hidup di zaman Rasulullah SAW. Saat usianya 35 tahun, pemuda tersebut tinggal di masjid Madinah. Tapi sampai pada umur tersebut ia belum juga menikah.

Suatu hari, Baginda Nabi SAW datang kepada Zahid. Pada saat itu pemuda tersebut sedang mengasah pedangnya.

Namun mendengar ucapan salam dari Nabi SAW menyebabkan ia terkejut. Sampai-sampai ia menjawab salam Nabi SAW dengan sangat gugup.

Kemudian nabi mengatakan kenapa sampai saat ini Zahid masih sendiri saja. Mengetahui akan hal tersebut pemuda buruk rupa menjawab, Allah selalu bersamaku wahai Rasulullah.

Kemudian Nabi SAW menjelaskan apa yang ia maksud sebenarnya. Mengapa ia itu membujang sampai sekarang ini? Apakah tak mau menikah?

Lantas, Zahid menjawab bahwa ia merupakan seorang pemuda yang tidak mempunyai pekerjaan tetap. Wajahku itu buruk, apakah ada yang mau menikah denganku?

Kemudian Nabi SAW berkata, ketika engkau mau hal tersebut merupakan suatu hal yang mudah wahai Zahid.

baca juga: Kisah Alqomah dan Juraij Ahli Ibadah yang Durhaka Kepada Bundanya

Surat Lamaran

Bagaimana kelanjutan dari kisah Zahid dan Zulfah tersebut? Perlu Anda ketahui juga bahwa setelah itu Baginda Nabi SAW mengutus ya untuk membawa surat lamaran kepada seorang gadis bangsawan.

Tapi sebelumnya Nabi Muhammad SAW meminta salah satu dari sahabatnya untuk menjadi juru tulis membuat sebuah surat. Surat tersebut berisi lamaran kepada seorang wanita yang bernama Zulfah binti Said.

Zulfah sendiri merupakan putri bangsawan Madinah. Keluarganya terkenal sangat kaya raya dan ia merupakan wanita yang cantik.

Akhirnya surat tersebut dibawa ke rumahnya. Zahid mengantarkan surat tersebut ke rumah Said yang merupakan orang tua dari Zulfah wanita cantik.

Namun, sesampainya di rumah Said ternyata sudah ada tamu yang datang lebih dahulu. Mengetahui akan hal tersebut, pemuda buruk rupa mengucapkan salam sebelum menyerahkan surat yang merupakan perintah dari Nabi SAW.

Kemudian, ia diterima oleh Said tepat di depan rumahnya. Si Zahid pun berkata, wahai saudaraku Said ini merupakan surat dari Rasulullah Muhammad yang mulia agar aku memberikannya kepadamu.

Said yang menerima surat tersebut juga berkata, “Sungguh hal ini merupakan kehormatan tersendiri bagiku”. Bagaimana kelanjutan kisah Zahid dan Zulfah tersebut?

Setelah ayah Zulfah membuka dan membaca surat tersebut, ternyata ia sangat terkejut. Menganggap bahwa surat yang Nabi Muhammad kirimkan tersebut berbeda dari tradisi Arab yang sudah turun-temurun.

Pasalnya keturunan bangsawan itu harus menikah dengan keturunan bangsawan pula. Keterkejutan tersebut menyebabkan ayah Zulfah bertanya kepada Zahid untuk memastikan apakah surat tersebut benar-benar dari Nabi SAW.

Adanya pertanyaan tersebut menyebabkan suasana menjadi lebih tegang. Dalam kisah, datanglah Zulfah yang bertanya kepada ayahnya, mengapa sang ayah sangat tegang terhadap Zahid.

Mengetahui akan hal tersebut kemudian Said berkata kepada Zulfah bahwa pemuda inilah yang akan melamarmu Zulfah untuk menjadi istrinya.

baca juga: Putra Nabi Yakub, Ini Kisah dan Hikmah yang Bisa Kita Petik!

Menerima Lamaran

Sontak Zulfah pun menangis. Apalagi jika mengetahui bahwa Zahid itu pemuda yang buruk rupa.

Ia berkata kepada ayahnya, bukankah masih banyak pemuda yang kaya raya juga tampan.

Hal tersebut menyebabkan sang ayah berkata kepada Zahid bahwa putrinya pun tidak mau menerima lamaran darinya. Ia juga meminta kepada Zahid untuk mengatakan hal tersebut kepada Rasulullah SAW.

Tapi karena merupakan perintah dari Rasulullah SAW, Zulfah meminta agar segera dinikahkan dengan Zahid. Setelah mendengarkan jawaban dari Zulfah, akhirnya Zahid pun pulang ke masjid dan melupakan kebahagiaannya dengan melakukan sujud syukur.

Kisah Zahid dan Zulfah ini juga berlangsung sampai mereka berdua menikah. Akan tetapi, saat Zahid sedang mempersiapkan pernikahannya dengan wanita cantik dari kaum bangsawan tersebut, terjadi situasi yang genting yakni kaum kafir akan menyerang kaum muslim.

Rasulullah pun akhirnya memerintahkan kaum muslimin untuk berperang. Zahid yang mengetahui akan hal tersebut langsung beristighfar dan berniat untuk menjual perlengkapan pernikahannya membeli kuda terbaik.

Para sahabat mengetahui bagaimana aksi dari Zahid menyebabkan mereka terkejut. Bahkan para sahabat mengatakan kepada Zahid bahwa nanti malam adalah waktu engkau berbulan madu, mengapa engkau malah ingin berperang.

Tetapi ia tidak memperdulikannya, tekadnya untuk berperang dan berjihad dijalan Allah sudah bulat. Namun, Zahid harus mati syahid pada perang tersebut.

Rasulullah yang mendengarkan kabar tersebut mengatakan bahwa hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari surga yang cantiknya melebihi Zulfah binti Said.

Jadi kisah Zahid dan Zulfah tersebut mengajarkan banyak teladan. Apabila kita sudah bersandar terhadap perintah Allah dan rasulnya maka segala yang tidak mungkin akan menjadi mungkin. Menurut manusia hal tersebut tidak akan terjadi, tetapi atas izin Allah hal tersebut akan terjadi. (Muhafid/R6/HR-Online)