Rabu, Agustus 10, 2022
BerandaBerita CiamisMacan Tutul Gunung Sawal Masuki Desa, Warga Cikupa Ciamis Resah

Macan Tutul Gunung Sawal Masuki Desa, Warga Cikupa Ciamis Resah

Berita Ciamis (harapanrakyat.com),- Macan tutul dari kawasan Gunung Sawal kembali turun gunung. Bahkan, hewan tersebut memasuki wilayah pemukiman warga Desa Cikupa, Kecamatan Lumbung, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Selain itu, macan tutul tersebut memangsa ternak ayam milik warga Blok Cibaok, Dusun/ Desa Cikupa.

Khawatir membahayakan, warga pun meminta agar petugas BKSDA mengusirnya dan mengembalikan kembali ke habitatnya. 

Kosasih, warga Desa Cikupa mengatakan, sejak dua minggu terakhir, macan tutul dari kawasan Gunung Sawal ini sudah kembali turun dan memasuki wilayah pemukiman penduduk. 

Menurutnya, selain banyaknya ditemukan bekas telapak kaki macan tutul, beberapa ekor ayam milik warga juga dijadikan mangsanya.

Meski demikian, warga tidak bisa berbuat apa-apa, sebab takut disalahkan jika memburunya. Sehingga, upaya warga hanya berharap agar petugas BKSDA wilayah Ciamis mengusirnya, dan mengembalikannya kembali ke habitatnya.

“Sebab, apabila berkeliaran di wilayah pemukiman, kita khawatir bisa membahayakan dan mencelakai warga,” katanya kepada HR Online, Selasa  (5/7/2022).

Baca Juga : Macan Tutul Turun Gunung, Petani Cikupa Ciamis jadi Takut Berkebun

Sementara itu, Kepala Desa Selasari, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Ade Saepudin membenarkan jika macan tutul dari kawasan Gunung Sawal kembali turun gunung.

Ia menuturkan, berdasarkan informasi dari salah seorang warga, macan tersebut tidak hanya berkeliaran di wilayah warga Desa Cikupa saja.

“Akan tetapi, sudah merambah ke wilayah  Dusun Sukamaju, Desa Talagasari, Kecamatan Kawali,” tuturnya, Selasa (5/7/2022). 

Menurut Ade, turunnya macan tutul dari kawasan Gunung kemungkinan karena habitatnya terganggu. Bisa saja karena banyaknya para pemburu babi yang menjadi sebagai salah satu faktor penyebabnya. 

Sementara untuk mengantisipasi agar macan tutul tidak turun gunung dan tetap betah di habitatnya, selain petugas BKSDA mengusirnya, juga perlu adanya larangan perburuan.

“Sehingga ketersediaan makanannya tidak terganggu,” pungkas Ade Saepudin. (Dji/R5/HR-Online/Editor-Adi)