Jumat, September 30, 2022
BerandaBerita PangandaranAntisipasi Dampak BBM Naik, Ini yang Dilakukan Pemkab Pangandaran

Antisipasi Dampak BBM Naik, Ini yang Dilakukan Pemkab Pangandaran

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Dampak harga BBM naik, angka inflasi di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat mencapai 4,95 persen.

Hal itu terungkap pada rapat koordinasi antara Bank Indonesia, BPS dan Pemerintah Kabupaten Pangandaran.

Meskipun demikian Pemkab Pangandaran telah mengambil langkah strategis untuk mengantisipasi inflasi sebagai dampak harga BBM naik.

ASDA II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Pangandaran Dadang Dimyati mengatakan, TPID atau Tim Penanganan Inflasi Daerah sudah menyiapkan langkah strategis.

“Salah satunya OPD terkait memonitor harga di pasar, itu dilakukan setiap hari,” katanya, Jumat (16/9/2022).

Baca Juga: 7000 KPM di Langkaplancar Pangandaran Mulai Terima Bansos BBM

Komoditas yang dipantau adalah daging, telur, cabai dan bawang merah. Dari hasil monitoring diketahui harga bawang merah melonjak hingga Rp 70 ribu per kilogram.

Sementara, harga cabai merah di Pangandaran ada pada kisaran Rp 60 ribu per kilogram sebelum BBM naik.

Selanjutnya harga cabai rawit naik menjadi Rp 60 ribu per kilogram. Cabai keriting menjadi Rp 70 ribu per kilogram.

Jika harga cabai mengalami kenaikan, berbeda dengan harga telur ayam BR yang justru turun. Telur ayam di Pasar Kalipucang, misalnya, harganya menjadi Rp 27 ribu dari harga Rp 28 ribu.

Begitu juga harga telur ayam di Pasar Pananjung juga turun, dari Rp 29 ribu menjadi Rp 28 ribu. Sedangkan harga telur ayam di pasar Parigi masih tetap, yakni Rp 30 ribu.

Dampak BBM Naik, Daya Beli Turun

Menurut Dadang, dampak harga BBM naik daya beli masyarakat turun. Hal ini berimbas juga pada lemahnya pertumbuhan ekonomi. Bahkan angka kemiskinan juga diprediksi bakal meningkat.

“Pemkab Pangandaran berencana menggelar pasar murah agar harga kebutuhan pokok masyarakat stabil,” jelasnya.

Sementara itu terkait harga cabai, Sekdis Pertanian Kabupaten Pangandaran Ghaniyy Fahmi Basyah mengatakan, salah satu Kelompok Tani binaan Baitul Munawaroh di Blok Cikalesem, Dusun Giriharja, Desa Selasari, Kecamatan Parigi jadi pemasok cabai ke pabrikan besar.

Kelompok Tani inilah yang setiap bulannya memasok cabai ke pabrikan besar sebanyak 22.680 kilogram.

“Juli hingga Desember 2021 saja Kelompok Tani ini memasok 123.120 kilogram cabai,” jelasnya.

Cabai yang ditanam Kelompok Tani binaan Baitul Munawaroh tersebut dibeli dengan harga Rp 20 ribu per kilogram oleh pabrikan besar.

Hasil produksi cabai Kelompok Binaan tersebut bisa disisihkan dari target rutin pengiriman untuk bahan operasi pasar murah.

“Kondisi musim hujan juga harus diantisipasi agar tak terjadi gagal panen atau ada potensi kerugian. Tanaman cabai rentan serangan hama pada cuaca hujan seperti sekarang,” tandasnya. (Ceng2/R7/HR-Online/Editor-Ndu)