Jumat, Desember 9, 2022
BerandaBerita TerbaruAskar Perang Sabil, Laskar Perang Ulama Muhammadiyah Hasil Itikaf di Masjid

Askar Perang Sabil, Laskar Perang Ulama Muhammadiyah Hasil Itikaf di Masjid

Askar Perang Sabil (APS) mungkin belum banyak yang tahu. Padahal sejarah Indonesia mencatat laskar perang ini pernah menjadi pasukan dominan yang mempertahankan republik dari Belanda.

Pertahanan APS kebanyakan berada di wilayah perang Jawa Tengah. Namun laskar yang dibangun oleh para Ulama Muhammadiyah ini mendapatkan tugas Panglima untuk menahan serangan dari Belanda di Yogyakarta.

Peranan APS dalam revolusi fisik tidak saja bertanggungjawab menahan serangan Belanda di daerah, akan tetapi APS juga berperan sebagai laskar Muslim yang menonjolkan persatuan.

Ketika di medan perang, mereka sering bertegur sapa dengan pasukan lain yang beragama non-muslim.

Bahkan di antara mereka juga ada yang saling tolong menolong tatkala ada yang menjadi korban perang.

Dalam kamus sejarah masyarakat Muhammadiyah di Yogyakarta, perjuangan Askar Perang Sabil mendapat posisi yang istimewa.

Oleh karena itu, jika HUT RI, Muhammadiyah selalu menyampaikan materi sejarah yang berkaitan dengan peranan Askar Perang Sabil dalam perjuangan kemerdekaan.

Beberapa saksi sejarah yang ada di Muhammadiyah mengatakan bahwa laskar yang kebanyakan dari anggota ulama Muhammadiyah ini berasal dari Kampung Suronatan, Yogyakarta.

Kisah yang unik dari ide pembentukan laskar ini antara lain karena hasil dari pada “itikaf” para Ulama Muhammadiyah di salah satu masjid yang ada di Kampung Suronatan.

Baca juga: Haji Muhammad Sudjak, Ditertawakan saat Ingin Bangun RS PKU Muhammadiyah

Terbentuknya Askar Perang Sabil

Peristiwa berdarah pada masa Revolusi Fisik (1945-1949) membuat kekhawatiran masyarakat Yogyakarta terus bertambah. Hal ini karena Yogyakarta terancam hancur oleh pesawat-pesawat tempur Belanda.

Hal ini kemudian menjadi bahan diskusi setiap lapisan masyarakat di Yogyakarta. Mereka memikirkan bagaimana mencari jalan keluar dari serangan Belanda yang membabi buta.

Tidak ada yang bisa menolak jika jalan keluar dari serangan Belanda selain “melawan”.

Hal ini terjadi ketika saat itu Belanda sudah menguasai seluruh Jawa Tengah dan hampir masuk ke Yogyakarta.

Kehadiran Belanda di Yogyakarta memperkeruh suasana yang tadinya tentram menjadi bergejolak. Berbagai kalangan, termasuk para Ulama pun terlibat dalam menyusun strategi menyerang Belanda.

Para Ulama Muhammadiyah yang ada di Yogyakarta bergabung dengan Angkatan Hizzbulah, kala itu H. Badawi sebagai salah satu tokoh berpengaruh di dalamnya.

Setelah berunding dengan Hizzbulah, para Ulama bersepakat untuk memutuskan tindakan. Namun beberapa di antaranya masih ragu untuk membentuk sebuah laskar baru mengingat terbatasnya amunisi senjata.

Saat itu tepat pada bulan Ramadhan tahun 1947, para Ulama Muhammadiyah menyarankan agar semua ulama bisa beritikaf dan bermunajat At-Taqwa kaitannya untuk memutuskan tindakan membentuk laskar.

Akhirnya setelah satu hari satu malam beritikaf di masjid, keputusan para Ulama Muhammadiyah pun sudah bulat aka nada sebuah laskar baru untuk melawan Belanda bernama Askar Perang Sabil (APS).

Laskar Islam yang Paling Disepakati Hamengkubuwono IX

Menurut Suratmin dalam bukunya, Askar Perang Sabil merupakan salah satu laskar Islam yang mendapatkan respons baik Hamengkubuwono IX.

Hal ini karena Askar Perang Sabil itu sendiri terbentuk langsung di Yogyakarta, dan yang mendirikan adalah para Ulama Muhammadiyah yang saat itu mendukung kedaulatan Yogyakarta pimpinan HB IX.

Selain sebagai salah satu laskar Islam yang paling mendapat respons baik Hamengkubuwono IX, Askar Perang Sabil juga mendapatkan sambutan baik oleh Panglima Besar Jenderal Sudirman.

Bahkan, sejarah Indonesia mencatat, Jenderal Sudirman siap memberikan bantuan perlengkapan untuk latihan perang pada Askar Perang Sabil.

Jenderal asal Purbalingga ini ingat bahwa Muhammadiyah pernah membantunya menjadi Guru.

Dalam hal ini, Muhammadiyah ternyata banyak memiliki relasi yang menguntungkan. Kehadiran Askar Perang Sabil banyak mendapatkan sambutan bahagia dari berbagai pemimpin republik.

Setelah adanya sambutan dari para pemimpin, pelatihan perang untuk APS pun terus berlangsung.

Salah satu materi dasarnya pun langsung oleh Ulama Muhammadiyah, yaitu ideologi tentang “Jihad Fi’ Sabillilah”.

Penyebaran ideologi ini pun melalui berbagai cara, salah satu di antaranya menggunakan jalan dakwah dari desa ke desa. Harapannya, kegiatan ini mampu memperoleh anggota baru dalam tubuh APS.

Para Ulama yang berdakwah Jihad selalu mengutip QS. An- Nisa ayat 57, yaitu ayat yang menjelaskan tentang umat islam wajib berjuang melawan penjajah.

Baca juga: Sejarah Muhammadiyah, Organisasi Islam yang Gemar Membangun Sekolah

Bung Tomo Melatih Langsung APS

Tidak saja mendapat pelatihan dari pasukan Panglima Besar Jenderal Sudirman, akan tetapi pasukan Askar Perang Sabil juga mendapatkan pelatihan langsung dari Bung Tomo.

Peristiwa ini sebagaimana tergambarkan oleh Siti Nurul Hidayah dalam jurnalnya.

Menurut Siti Nurul Hidayah, Bung Tomo sering melatih para pasukan Askar Perang Sabil di halaman depan masjid Kauman Kraton Yogyakarta.

Adapun latihan perang dari Bung Tomo, terdiri dari cara menggunakan senjata, latihan baris berbaris, latihan bergerilya, latihan berperang, dan latihan membela diri.

Para pasukan Askar Perang Sabil juga mendapat wejangan religius oleh Bung Tomo, seperti contoh Bung Tomo berpidato dan membawakan isi pidatonya tentang semangat perang dalam Islam.

Semangat para pasukan Askar Perang Sabil terus terpacu tatkala Bung Tomo menyampaikan pidatonya itu dengan intonasi nada yang menggebu-gebu.

Latihan Perang di Depan Masjid

Selain memiliki lahan yang luas, berlatih perang di depan masjid Kauman Kraton Yogyakarta juga bertujuan untuk berkamuflase dari incaran patroli Belanda.

Masjid merupakan salah satu tempat yang suci dan tidak boleh dikotori oleh darah (peperangan). Belanda pun menyetujui itu sebagai etika berperang yang wajib mereka patuhi.

Peluang ini justru menjadi kesempatan para Ulama Muhammadiyah untuk melatih pasukan Askar Perang Sabil sebelum mereka menugaskan anggota gerilyawan melawan Belanda.

Selain latihan di masjid, tak jarang para Pasukan Askar Perang Sabil juga berlatih di halaman sekolah dan pesantren-pesantren Muhammadiyah di Yogyakarta.

Sebagaimana biasa, di sela latihan perang yang ada di sekolah, pesantren atau masjid, selalu ada materi pembekalan religius tentang pengertian dari sebuah tauhid, dan keimanan.

Hal ini untuk menerapkan ideologi perang Jihad Fi’ Sabilillah yang matang. Sehingga apabila ideologi ini sudah mantap, para pasukan gerilyawan tak akan gentar melawan penjajah di medan perang.

Dalam beberapa kesempatan, para Ulama yang mendampingi latihan pun tak jarang membekali doa-doa atau sebuah ajaran ilmu kebal untuk para gerilyawan yang sebentar lagi akan pergi untuk gerilya.

Baca juga: Sejarah Perempuan Muhammadiyah, Pernah Menerbitkan Majalah dan Berideologi Universal

Pasukan APS Terampil Menghambat Kekuatan Belanda

Latihan pasukan Askar Perang Sabil dari para Ulama akhirnya berbuah manis, pasukan APS terkenal sebagai pasukan yang terampil menghambat kekuatan pasukan Belanda.

Tak ada satu pun di antara mereka yang menjadi korban ketika bertugas sebagai pasukan penghambat kekuatan musuh. Hal ini karena pasukan APS kebal dari peluru.

Terlepas dari desas-desus kekebalan anggota APS, karena keterampilannya untuk menghambat serangan musuh, akhirnya pasukan Askar Perang Sabil terpilih Sudirman untuk menjadi pasukan yang mendominasi daerah Magelang-Yogyakarta.

Pernyataan ini sebagaimana dikutip dari Setyawati dalam “Askar Perang Sabil: Studi Religius dalam Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia di Daerah Istimewa Yogyakarta”, (Setyawati, 1988: 101)..

Pasukan Askar Perang Sabil menjadi kekuatan yang dipercaya oleh TNI. Oleh karena itu tak jarang ketika perang selesai ex-anggota APS melanjutkan karirnya di TNI.

Saat ini, Askar Perang Sabil menjadi sejarah Indonesia yang menunjukkan kekuatan Islam yang pernah berjaya pada masa Revolusi Fisik di Yogyakarta. Selain tanda pernah berjaya, kekuatan APS juga harus menjadi momentum nasional karena perjuangannya langsung berasal dari kekuatan rakyat yang ikhlas. (Erik/R6/HR-Online)