Sabtu, Oktober 1, 2022
BerandaBerita TerbaruBiografi Basuki Abdullah, Seniman Lukis Istana Merdeka sejak Era Presiden Soekarno

Biografi Basuki Abdullah, Seniman Lukis Istana Merdeka sejak Era Presiden Soekarno

Biografi Basuki Abdullah cukup menarik untuk kita ulas. Seniman yang satu ini merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia, terutama di bidang seni.

Basuki  adalah seniman lukis Istana Merdeka sejak era Presiden Soekarno.

Karya-karya Basuki Abdullah kerap menjadi sorotan di Istana Merdeka. Hampir sebagian sudut-sudut ruang kerja Presiden Soekarno juga pasti terdapat satu atau dua karya Basuki.

Lantas siapakah sebenarnya Basuki Abdullah? Ada yang mengatakan seniman yang juga seorang cucu dari tokoh pergerakan nasional.

Tokoh pergerakan nasional siapa? Yang jelas Basuki Abdullah merupakan salah seorang tokoh seni rupa di Indonesia yang aktif dalam berbagai lembaga kebudayaan Indonesia.

Bahkan, pada zaman Jepang Basuki  pernah menjadi guru melukis di lembaga kebudayaan bentukan Jepang.

Atas pergaulannya yang luas itulah kemudian membuat Basuki Abdullah masyhur di berbagai kalangan aristokrat.

Baca juga: Maestro Seni Abstrak, Sejarah Affandi Pelukis yang tak Membutuhkan Kuas

Ulasan Singkat Biografi Basuki Abdullah

Basuki Abdullah lahir di Kota Solo Jawa Tengah pada tahun 1915. Ia lahir dari seorang ayah yang merupakan anak salah satu tokoh pahlawan Nasional dr. Wahidin Soedirohoesodo.

Beliau merupakan salah seorang tokoh nasional pendiri organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908.

Selain merupakan anak dari Wahidin, ayah Basuki  yang tidak banyak orang tahu namanya itu juga ternyata terampil dalam menggambar.

Dengan arti lain, seorang ayah dari Basuki Abdullah juga merupakan seniman. Hal ini yang kemudian mengantarkan Basuki  menjadi seorang anak yang terampil menggambar sejak dini.

Sejak usia sepuluh tahun, Basuki Abdullah pandai melukis figure tokoh nasional seperti Mahatma Gandhi. 

Inilah kali pertama ayahnya mulai percaya bahwa dalam diri sang anak ada bakat yang nantinya akan menjadi seniman besar.

Impian sang ayah pun terwujud ketika Basuki Abdullah muncul dalam daftar seniman paling sukses di Indonesia.

Hal itu lantaran karyanya banyak peminat dari kalangan aristoktat, tak terkecuali oleh Istana Merdeka era Presiden Soekarno.

Seniman yang Banyak Relasi

Menurut Mieke Susanto dalam Jurnal Ika Yuni Purnama berjudul “Membaca Basuki Abdullah Melalui Penataan Pameran ‘Rayuan 100 Tahun Basuki Abdullah”, (Purnama, 2018: 102), Basuki Abdullah seorang seniman yang egaliter dan pandai bergaul.

Selain memiliki kemampuan melukis yang baik, sosok Basuki Abdullah juga pandai memperoleh daya tarik para peminat lukisan dengan cara menjalin hubungan sosial yang baik dengan berbagai kalangan.

Strategi Basuki Abdullah ini lakukan sejak zaman Jepang dengan aktif dalam keanggotaan lembaga kebudayaan yang pemerintahan Dai Nippon di Jawa.

Ketika Indonesia merdeka, kemudian banyak relasi Basuki Abdullah yang menjadi pejabat meminati karya-karyanya. Salah satu peminat lukisan Basuki yakni Presiden Soekarno.

Dari biografi Basuki Abdullah mengajarkan pada kita bahwa pergaulan merupakan cara manusia untuk saling menguntungkan. Dengan demikian kehidupan seniman terus terjaga hingga akhir hayat.

Baca juga: Sejarah Kesenian Janger, Pertunjukan Sandiwara yang Terbentuk pada Bulan Ramadan

Istana Era Soekarno Koleksi Lukisan Basuki Abdullah

Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno juga merupakan sosok nasionalis yang mencintai dunia seni.

Kecintaan Soekarno dalam dunia seni tercermin ketika ia mengoleksi beberapa karya lukis Basuki Abdullah dan memajangnya di Istana Kepresidenan.

Berdasarkan pengakuan dalam sejarah Bung Karno, ia memberikan alasan kenapa meminati karya Basuki Abdullah. Menurutnya, setiap lukisan Basuki Abdullah sarat akan unsur naturalismenya.

Basuki Abdullah terampil menyuguhkan pemandangan alam Indonesia yang sangat indah dan terasa nyata.

Tak heran kemudian Soekarno kerap memperkenalkan lukisan ini ke tamu-tamu negara dari luar negeri.

Peristiwa ini akhirnya membuat Basuki Abdullah semakin dikenal ke ranah pergaulan seni rupa yang lebih luas lagi, bahkan hingga dunia internasional.

Selain karena piawai bergaul dengan orang Barat, Basuki Abdullah juga ternyata pernah sekolah selama tiga tahun di Belanda.

Artinya ketika ia mendadak terkenal di dunia internasioal, membuat Basuki  tidak bingung harus berbuat apa.

Sebab pergaulannya ketika sekolah di Belanda sudah mewakili pengalaman cara menghadapi pemikiran Barat tentang seni rupa.

Lukisannya Identik Kebudayaan dan Mitologi Jawa

Masih soal biografi Basuki Abdullah, meskipun lama di Belanda dan kebanyakan terpengaruh oleh tradisi Barat, tidak mempengaruhi kebudayaan asli Basuki sebagai seseorang yang lupa budaya Jawa.

Justru budaya Jawa merupakan salah satu sumber inspirasinya ketika akan melukis landscape yang bertema pemandangan alam.

Selain menggambar pemandangan alam Jawa, Basuki Abdullah juga gemar mengkolaborasikan teknik melukis yang diperolehnya dari Belanda dengan mitologi khas masyarakat tradisionalis Jawa.

Seperti menggambar figur manusia yang kurang lebih berjudul “Ratu Pantai Selatan (Nyi Roro Kidul).

Selain itu ada juga sosok Djoko Tarub legenda yang muncul dalam mitologi aristokrat Jawa era kerajaan Mataram Kuni.

Dalam gambar tersebut terasa sekali bagaiman aura mistis itu ada, dan ini merupakan salah satu keterampilan Basuki Abdullah apabila dirinya tengah melukis figur yang dikolaborasikan dengan kebudayaan Jawa.

Baca juga: Sejarah Raden Saleh, Pelukis Pribumi Pertama Penerima Beasiswa ke Eropa

Pemandangan Alam, Inspirasi Awal Basuki

Setiap seniman memiliki inspirasi awal yang berbeda-beda ketika dirinya hendak melukis (berkarya).

Dalam Biografi Basuki Abdullah, ia merupakan tipe seniman lukis yang terdominasi oleh pemandangan alam (naturalis) dalam setiap karyanya.

Sikap inilah yang kemudian menarik kesimpulan para peneliti seni rupa di Indonesia untuk menyebut bahwa apa yang dilakukan oleh Basuki Abdullah merupakan bentuk pengabdian dan cinta terhadap tanah kelahirannya.

Selain itu, dominasi pemandangan dalam setiap karya Basuki  juga kerap diindikasikan sebagai upaya dirinya dalam merekam peristiwa.

Hal di atas sering sekali dilakukan oleh Basuki Abdullah ketika ia sedang berada di Belanda.

Biasanya ketika ia rindu pada tanah kelahirnnya, maka seketika itu Basuki  melukis pemandangan yang pernah ditangkapnya dari fragmen peristiwa yang penah dialaminya.

Kecintaan Basuki Abdullah terhadap tanah kelahirnnya membuat ia mengeluarkan statemen “The Land of Endless Beauty” ketika menjadi Duta Budaya.

Biografi Basuki Abdullah seperti inilah yang seharusnya kita ketahui dan tersimpan dalam catatan sejarah Indonesia. Sebab dengan belajar pada sejarah hidupnya kita akan menjadi sosok yang berprestasi sekaligus memiliki jiwa nasionalisme yang kuat. (Erik/R6/HR-Online)