Jumat, September 30, 2022
BerandaBerita TerbaruDari Toniel hingga Teater, Ini Sejarah Komunitas Sandiwara di Indonesia

Dari Toniel hingga Teater, Ini Sejarah Komunitas Sandiwara di Indonesia

Sebagian masyarakat di Indonesia tidak mengenal Toniel, padahal pada zaman kejayaannya komunitas sandiwara pertama di Indonesia ini sangat populer dari tahun 1891 hingga awal tahun 1900-an.

Toniel merupakan seni sandiwara yang tumbuh di Indonesia karena pengaruh orang Turki. Sebab untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh seniman-seniman Orientalis.

Dinamika sejarah seni pertunjukan di Indonesia mengalami pergesekan yang begitu serius tatkala kehadiran Toniel dianggap sebagai hal yang merusak pakem-pakem seni pertunjukan tradisi.

Baca Juga: Maestro Seni Abstrak, Sejarah Affandi Pelukis yang tak Membutuhkan Kuas

Saat itu yang merasa terganggu oleh kehadiran Toniel adalah kelompok komunitas seni sandiwara pertunjukan tradisional seperti Ludruk, Kethoprak, dan Lenong di Indonesia.

Namun seiring dengan meluasnya penggemar komunitas Toniel ke beberapa wilayah di Indonesia membuat gesekan seni pertunjukan yang sempat tegang ini menjadi lentur kembali.

Pada kesempatan kali ini penulis akan membahas sejarah dinamika Toniel yang berawal dari seni sandiwara yang bersifat komedi, menjadi seni pertunjukan Teater yang lebih profesional.

Sejarah Komunitas Sandiwara Komedi Pertama di Indonesia, Toniel Menjadi Komedie Stamboel

Sejak dibukanya jalur Terusan Suez pada tahun 1800-an pengaruh luar ke Hindia Belanda begitu kuat, termasuk pengaruh bangsa-bangsa Asia Barat yang sedang melakukan perdagangan.

Hal tersebut menimbulkan penyerapan budaya yang luas bagi kehidupan masyarakat Hindia dari berbagai aspek, tak terkecuali aspek seni pertunjukan.

Tatkala orang Turki datang ke Hindia untuk berdagang, mereka juga turut membawa beberapa komunitas penghibur yang kemudian disebut dengan Toniel.

Sesampainya di Hindia para pelayar Turki itu kemudian memperkenalkan seniman sandiwara tersebut pada orang-orang Hindia yang sekarang Surabaya.

Karena di Surabaya kekurangan seni pertunjukan, maka sandiwara khas Turki ini menjadi hiburan yang paling diminati oleh masyarakat. Hal ini terus berjalan hingga menjelang tahun 1900-an.

Ketika itu para seniman sandiwara Turki sudah tidak diizinkan tinggal di Hindia Belanda. Alasannya karena izin menetap orang asing (VISA) sudah habis.

Mereka pun akhirnya pulang tanpa membawa peralatan sandiwaranya dan memilih untuk menjualnya pada seniman seni pertunjukan di Surabaya.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Julianti L. Parani dalam Buku Seminar Sejarah Nasional V: Sub Tema Sejarah Kesenian, jika alat-alat Toniel yang dibeli oleh seniman di Surabaya itu kemudian dimanfaatkan untuk mengembangkan seni sandiwara yang awalnya bernama Toniel menjadi Komedie Stamboel, (Parani, 1990: 103).

Tumbuhnya Teater Profesional

Setelah eksistensi Komedie Stamboel menurun, peradaban seni pertunjukan modern di Hindia Belanda beralih menjadi Teater.

Teater lahir karena pengetahuan seni dunia yang semakin berkembang, seperti perkembangan zaman avant-garde dan absurdisme di Eropa.

Baca Juga: Sejarah Raden Saleh, Pelukis Pribumi Pertama Penerima Beasiswa ke Eropa

Zaman tersebut berdampak pada perkembangan Komedie Stamboel ke Teater Profesional dunia. Mereka yang dahulu bermain sandiwara dianggap memiliki kelas rendah tetapi saat ini mereka menduduki status yang prestisius.

Industri seni visual (film) kemudian merespon para pelaku Teater supaya tampil dalam layar lebar. Artinya mereka akan memasarkan popularitas pelaku Teater ke jenjang yang lebih luas lagi.

Fenomena ini terus terjadi hingga Indonesia merdeka. Terhitung sejak tahun 1960-an popularitas Teater profesional di sana melesat karena kehadiran komunitas yang lahir dari golongan muda.

Menurut Nano Riantiarno dalam Teguh Karya dan Teater Populer 1968-1993 menyebut bahwa  kehadiran W.S. Rendra dengan komunitas Bengkel Teater membuat profesionalitas pelaku seni pertunjukan di Indonesia semakin hidup, (Riantiarno, 1993: 37).

Dari lahirnya Bengkel Teater Rendra kemudian mendorong komunitas Teater Populer milih Teguh Karya ini berdiri selang satu tahun Teater milik Rendra.

Popularitas Teater Modern ini didukung pula oleh sekolah tinggi Teater yang berdiri di Yogyakarta bernama ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia).

Dengan berdirinya ATNI membantu lahirnya tokoh-tokoh profesional Teater yang baru di ranah industri seni pertunjukan berbasis film di Indonesia.

Teater Modern sebagai Media Kritik yang Cerdik

Setelah eksis dalam industri film akhirnya membuat para aktor Teater semakin berpeluang untuk mengekspresikan pendapat di ranah yang lebih luas.

Di sela permainan sandiwara yang indah terkadang disisipi oleh kisah-kisah unik yang mengandung kritik terhadap pemerintah, hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Butet K.

Butet sebagai aktor Teater terkenal dengan aksi monolognya yang panjang dengan menirukan suara khas dari Presiden kedua Indonesia yakni, Presiden Suharto.

Tak jarang guyonan dalam naskah juga dikemasnya dengan kritik yang khas orang Jawa bernama Guyon Parikeno dengan kata lain mengkritik dengan cara yang cerdik.

Beberapa ancaman pada Butet saat menjadi aktor yang menirukan suara Presiden Suharto sering dialaminya. Bahkan tak jarang Ia mengantongi paspor setiap hari di celana yang penuh saku.

Hal tersebut merupakan upaya Butet untuk meloloskan diri apabila kebijakan pemerintah terhadap para pengkritik semakin bertindak represif.

Baca Juga: Sejarah Kesenian Janger, Pertunjukan Sandiwara yang Terbentuk pada Bulan Ramadan

Popularitas Teater Tergeser Media Elektronik

Eksistensi Teater pasca populer dalam industri film membuat ranah seni pertunjukan ini terbawa arus kegelapan. Teater yang dahulu populer meredup tergantikan oleh inovasi media elektronik.

Seni pertunjukan menjadi luas tidak terpatok pada satu objek saja yaitu Teater. Acara-acara sinema elektronik yang tampil disetiap kaca televisi lebih menarik dari pada Teater.

Hal inilah yang menjadikan Teater redup dan tidak eksis seperti dahulu. Namun belakangan para peminat Teater membantu seni ini tetap hidup.

Mereka mengadakan pertunjukan-pertunjukan Teater yang prestisius. Diperankan oleh aktor terkenal yang sering tampil di layar televisi.

Tentu dengan bayaran yang mahal, hingga pada akhirnya Teater hanyalah seni pertunjukan yang membentuk status kelas sosial dalam masyarakat penikmat seni. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)