Jumat, September 30, 2022
BerandaBerita TerbaruGaya Hidup Pemuda Tahun 1950, Glamor dan Meniru Orang Barat

Gaya Hidup Pemuda Tahun 1950, Glamor dan Meniru Orang Barat

Gaya hidup pemuda tahun 1950 seperti apa? Pada tahun 1950-an Indonesia memang sedang mengalami masa transisi media. Dari media massa tercetak (surat kabar, majalah) ke media massa visual (televisi, film, bioskop).

Perpindahan bentuk media massa ini akibat peristiwa Nasionalisasi berbagai perusahaan Belanda yang ada di Indonesia.

Akibatnya perekonomian masyarakat lambat laun meningkat, dan kebiasaan mengkonsumsi budaya modern menjadi trend baru yang memberikan kenyamanan.

Para pengamat sosial, peristiwa perpindahan media yang terjadi tahun 1950-an juga mendorong produksi iklan film. Iklan ini bertebaran dalam berbagai media di setiap sudut perkotaan Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya.

Baca Juga: Pemuda Zaman Orba, Hidup Manja dan Gemar Menghisap Ganja?

Dalam perkembangan iklan film tersebut telah mempengaruhi gaya hidup masyarakat perkotaan terutama dari kalangan para pemuda waktu itu.

Mereka tampak glamor dan cenderung hedonis, serta bergaya semu dengan meniru budaya orang-orang Barat. Hal ini sebagaimana yang mereka baca atau lihat dari iklan film di berbagai media.

Pada kesempatan ini, artikel dengan judul “Gaya Hidup Pemuda Di Perkotaan Tahun 1950, Tampil Glamor Dan Meniru Orang Barat Akibat Iklan Film” akan membahas bagaimana pola perubahan para pemuda kota yang tampil nyetrik ala barat bisa terjadi pada tahun 1950?

Gaya Hidup Pemuda Perkotaan Tahun 1950, Pengaruh Iklan Film

Iklan film yang menyuguhkan kehidupan orang-orang Barat ternyata tak terlepas dari kepentingan banyak pihak, tidak terkecuali kepentingan yang bersifat politis.

Industri iklan film yang mampu menyihir gaya hidup pemuda tahun 1950-an dimanfaatkan sebagai upaya kelompok kapital (pemegang modal) untuk mewujudkan idealismenya akan sebuah karya kreatif yang bersifat konvensional.

Mereka berharap produk kreatif seperti film ini bisa mengalahkan industri teknologi lain. Sehingga produksi film terus dipropagandakan dalam media massa, baik itu dalam surat kabar, majalah, poster terbuka, dan lain sebagainya.

Adapun laju persebaran politik dan kapitalisme dalam iklan film ini tercermin dari para pelaku utama yang menjadikan bioskop sebagai sarana penggelar (exhibition), perusahaan dan distributor yang mendanai kegiatan promosi film, sekaligus badan yang berkepentingan selain produsen.

Selain itu pola-pola politik yang kerap ditemukan dalam iklan film ini tergambar dari sebuah verbal iklan yang mengarah pada kepentingan golongan tertentu.

Seperti kepentingan berkampanye organisasi, kampanye program partai, hingga propaganda kebudayaan Orde Lama yang menggembar-gemborkan gerakan “Revolusi Belum Selesai”.

Sebagai karya seni seharusnya film sekaligus produksi iklan film harus bersifat bebas. Tidak ada campur tangan kapitalis yang salah urus, dan kepentingan politik yang membabi buta.

Menurut berbagai pengamat film di Indonesia, hal ini terjadi sebagai akibat belum ada satu badan yang mengontrol produksi film lokal.

Jangankan produksi iklan film yang kerap dibuat dengan menyudutkan kepentingan tertentu dalam media surat kabar, kadang-kadang produk filmnya juga sering dimanipulasi.

Produk Iklan Film di Surat Kabar

Adapun produk iklan film di surat kabar yang bisa memberikan pengaruh terhadap gaya hidup pemuda kota tahun 1950. Hal ini tercermin dari media massa yang memproduksi iklan film dengan memperkuat simbol tokoh dengan bahasa verbal yang kekinian.

Menurut Indira Ardanareswari dalam “Iklan Film dan Perubahan Kehidupan Sosial Ekonomi Perkotaan 1950-1960”, (Ardanareswari, 2020: 44), simbol tersebut lebih menekankan pada pembentukan budaya, emosi, dan imajinasi yang disesuaikan dengan gaya pemuda waktu itu.

Topik iklan yang berkaitan dengan tema percintaan. Selain itu juga menampilkan visual gambar yang bersifat erotis, menampilkan lekukan tubuh wanita dengan pakaian minim. 

Akibatnya kaum pemuda cepat terpengaruh oleh produk iklan film seperti ini. Bahkan ada beberapa golongan pemuda di kota yang niat mengoleksi iklan film tersebut dari sobekan surat kabar dan dikliping untuk koleksi pribadinya hingga saat ini.

Baca Juga: Sejarah Celana Jeans di Indonesia, Simbol Perlawanan Era Orba

Kebebasan yang terlalu transparan dalam iklan film dewasa ini akhirnya dibatasi oleh pemerintah dengan mengeluarkan film lokal bernuansa semangat revolusi.

Seperti halnya pencitraan tokoh prajurit berbaju militer lengkap dengan senapan, yang menjadi idola kaum wanita.

Dengan demikian gaya hidup yang glamor, dan terinspirasi oleh kehidupan barat yang erotis itu berubah menjadi gaya hidup revolusioner layaknya seorang prajurit militer.

Hal ini bertujuan untuk mendapatkan perhatian kaum hawa yang kala itu tertarik pada para prajurit yang memperjuangkan negara dan bangsa.

Meniru Maskulitas Prajurit

Adapun produksi film propaganda revolusi untuk membatasi gaya hidup pemuda kota yang glamor era 50’an tercermin dari film berjudul “Antara Tugas dan Tjinta” (1954).

Film tersebut secara tidak langsung menampilkan gambaran maskulinitas seorang pria yang seharusnya berjuang untuk bangsa dan negara, ketimbang hidup glamor dan memboroskan uang keluarga.

Gambaran maskulinitas ini kemudian menjadi gaya hidup baru di kalangan pemuda perkotaan yang waktu ini berubah drastis. Dari seorang yang hedonism ke pemuda yang terinspirasi menjadi tentara.

Selain dari gaya berpakaian dan bentuk tubuh yang proporsional, para pemuda perkotaan yang tertarik untuk menjadi tentara ini juga terinspirasi dari adegan pertempuran di medan perang.

Adegan ini menampilkan kegagahan, keperkasaan seorang pria, dan ketabahan jiwanya yang ikhlas dalam memperjuangkan kesejahteraan bangsa.

Namun setahun berikutnya seniman pembuat film bernama Djoko Lelono memproduksi film baru yang menonjolkan gender wanita sebagai figur baru yang patut dicontoh.

Dalam film berjudul “Setelah Subuh” Djoko Lelono ingin mematahkan maskulinitas pria sebagai rujukan pemuda kota dalam mencari jati diri.

Memproduksi Iklan Film Bernuansa Kesederhanaan

Setelah memproduksi iklan film yang erotis, maskulin, dan feminism, media massa pada pertengahan tahun 50-an juga sempat memproduksi iklan film bernuansa kesederhanaan hidup.

Salah satu karya iklan film yang diproduksi media massa waktu itu yang menggambarkan kesederhanaan hidup antara lain berjudul “Pegawai Negeri”.

Secara simple judul ini menggambarkan tentang keluarga Pegawai Negeri Sipil yang hidup di perkotaan Jakarta, tidak cukup gajinya untuk membiayai anaknya yang banyak. Hingga pada akhirnya sang tokoh utama itu nyambi sebagai tukang becak.

Hal ini bertujuan untuk menampilkan kesederhanaan hidup untuk inspirasi pilihan hidup pemuda kota waktu itu. Dengan kata lain, melalui iklan film pemerintah mendorong pemuda tahun 50-an tumbuh menjadi pribadi yang sederhana dan mampu mensyukuri nikmat kehidupan.

Baca Juga: Soeharto dan Hartinah, Kisah Cinta Orang Biasa dan Keturunan Ningrat

Akan tetapi beberapa dampak negatif dari film ini yaitu, telah mendorong angka urbanisasi yang tinggi. Hal ini karena akhir adegan film yang tertulis dalam iklan tersebut. Tertulis di sana, si tukang becak yang PNS itu sukses menjadi pengusaha transportasi tradisional di Ibukota Jakarta.

Membantu Kemajuan Produk Industri Kreatif

Dengan adanya iklan film di media massa seperti surat kabar, secara tidak langsung telah membantu kemajuan produk industri kreatif di berbagai daerah. Fenomena ini tak terkecuali terjadi juga di Jakarta.

Produksi film pada tahun 50-an menjelan 60-an berkembang begitu pesat. Usmar Ismail salah satu sutradara sekaligus penulis skenario film mengaku tahun tersebut merupakan simbol emas bagi perfilman di Indonesia.

Hal ini tergambar dari kebiasaan para pemuda waktu itu. Saat itu para pemuda menjadikan hiburan bioskop sebagai budaya modern yang tak bisa terpisahkan dengan kesehariannya.

Para pemuda tahun 50’an merasa pergi ke bioskop adalah suatu keharusan apabila tidak ingin ketinggalan trend. Dorongan inilah yang kemudian menjadikan industri kreatif (film) maju di era itu.

Terjadinya peristiwa emas bagi dunia film tahun 1950-1960, tak terlepas dari akibat jumlah iklan film yang terus diproduksi dan diulang. Juga tak pernah hilang dari halaman iklan di surat kabar. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)