Senin, Desember 5, 2022
BerandaBerita TerbaruNEFIS, Badan Intelijen Belanda Pengadu Domba Pribumi

NEFIS, Badan Intelijen Belanda Pengadu Domba Pribumi

Pada masa Revolusi Fisik tahun 1946-1949, banyak orang Pribumi yang menjadi korban adu domba Badan Intelijen Belanda bernama NEFIS (Netherlands Forces Inteligence Service).

Pembentukan NEFIS sebagai badan intelejen milik Belanda telah membuat kekacauan, dan ketidakfokusan para militer Republik saat menghadapi musuh.

Hal ini karena NEFIS telah bekerjasama dengan orang Pribumi yang berkhianat melalui cara memberikan informasi rahasia militer RI kepada Belanda.

Baca Juga: Kebakaran Hutan di Mojokerto 1891-1925, Penggembala Kambing Jadi Tersangka

Salah satu sejarah menarik dari NEFIS sebagai badan intelijen Belanda ini yakni, NEFIS telah membuat perjuangan bangsa Indonesia terganggu.

Bahkan beberapa dampaknya terjadi adalah kerusuhan terhadap beberapa orang pribumi yang dicurigai sebagai mata-mata Belanda.

Akibatnya terjadi pertumpahan darah yang menimbulkan korban jiwa karena masalah yang belum tentu benar adanya.

Artikel ini akan membahas bagaimana sejarah Badan Intelijen Belanda (NEFIS) yang menyebabkan kekacauan bagi perjuangan pribumi tahun 1946-1949.

Sejarah NEFIS, Badan Intelejen Belanda

NEFIS (Netherlands Forces Intelegence Service) merupakan Badan Intelejen Belanda yang terbentuk pada tahun 1942.

Pembentukan NEFIS seiring dengan pendudukan Jepang di Indonesia pada tanggal 8 Maret 1943. Belanda menyerahkan kekuasaannya pada Jepang di daerah Kalijati, Jawa Barat.

Allan Akbar dalam Jurnal Sejarah MSI berjudul “Kawan atau Lawan? Tuduhan Mata-Mata Belanda pada Masa Revolusi 1945-1949”, (Akbar, 2018: 32) menyebut, latar belakang pembentukan NEFIS adalah demi kepentingan Belanda yang belum selesai dengan daerah jajahannya.

Dengan kata lain Belanda ingin merebut kembali Indonesia dari tangan Jepang melalui operasi mata-mata (Intelijen).

Sebelum operasi mata-mata NEFIS berjalan, Belanda terlebih dahulu merancang strategi peperangan melalui struktur pemerintahan (sementara) Hindia Belanda yang berdiri di Australia dengan nama NICA (Netherlands Indies Civil Administration).

Badan tersebut memutuskan untuk mencari orang-orang Indonesia yang pro terhadap Belanda untuk dijadikan sebagai mata-mata.

Jika misi ini berhasil, maka Belanda akan mengalahkan dua musuh sekaligus yakni, Jepang sebagai negara penjajah, dan bangsa Indonesia yang subversif.

Adu Domba NEFIS Menciptakan Kekacauan

Perhitungan Belanda menjalankan misi untuk mencari golongan pribumi yang pro Belanda nampaknya berhasil. Terdapat puluhan kelompok mata-mata Belanda yang terdaftar dan berasal dari golongan pribumi.

Lambat laun Belanda mengantongi informasi mengenai Jepang dan para pejuang Nasional melalui mata-mata pribumi yang berkhianat.

Baca Juga: Sejarah Iklan Rokok, Wanita sebagai Daya Tarik Penjualan

Akibatnya ketika Jepang kalah dalam PD II dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, tak lama kemudian Belanda melalui NICA bisa masuk ke negara bekas jajahannya kembali.

Peristiwa ini kemudian menimbulkan peperangan antara bangsa Indonesia yang memperjuangkan kedaulatan RI dengan orang Belanda yang mempertahankan haknya sebagai pemilik negeri jajahan.

Dari kejadian ini Indonesia negara yang baru lahir itu penuh kekacauan. Terjadi pembantaian massal yang dalam buku Takashi Shiaraishi disebut dengan zaman bergerak.

Orang-orang Belanda dipukuli, wanitanya diperkosa, dan hartanya dirampas. Selain orang Belanda yang menjadi korban berikutnya adalah orang-orang terdekat Belanda. Salah satunya pribumi yang pernah bekerja untuk Belanda dengan menjadi mata-mata NEFIS.

Tuduhan sebagai mantan NEFIS membabi buta, peristiwa ini juga menandakan betapa waktu itu siapa musuh dan siapa kawan tidak begitu jelas terlihat. Tak heran banyak orang pribumi yang menjadi korban karena tertuduh sebagai eks mata-mata Belanda (NEFIS).

Peninggalan NEFIS di Jakarta

Peninggalan administrasi pusat NEFIS hingga saat ini bisa kita saksikan di Jakarta. Anda bisa melihat gedung tua yang dahulunya menjadi kantor rahasia Badan Intelijen Belanda (NEFIS) di Jalan Ir. H. Juanda nomor 34, Jakarta Pusat. Sekarang bangunan tersebut menjadi gedung PT. Jiwasraya.

Baca Juga: Saudagar Bandoeng dari Pasar Baru, Komunitas Pedagang Sukses Tahun 1906

Sebelum menjadi gedung PT. Jiwasraya, eks Kantor NEFIS ini bernama Gedung NILLMIJ (Nederlandsch-Indische Levenverzekering en Levensrente Maatschappij) di Noordwijk, 34 Batavia.

Gedung tersebut menjadi saksi bisu kejayaan NEFIS yang kala itu berhasil menjalankan misinya yaitu, mengadu domba orang Indonesia dengan cara memasukan keanggotaan keluarganya sebagai mata-mata Belanda.

Padahal mereka bukan mata-mata Belanda. Mereka difitnah dan akibatnya keluarga orang-orang yang diadu domba oleh NEFIS akan diserang orang Pribumi.

Hartanya dijarah dan rumahnya dibakar. Bahkan sedikit sekali orang yang tertuduh mata-mata NEFIS berhasil meloloskan diri dan selamat.

Rata-rata tewas dengan cara yang mengenaskan, salah satunya ikut terbakar dengan rumah kesayangan mereka secara hidup-hidup. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)