Senin, September 26, 2022
BerandaBerita TerbaruRasuna Said, Pahlawan Nasional yang Bela Hak Perempuan

Rasuna Said, Pahlawan Nasional yang Bela Hak Perempuan

Profil Rasuna Said menjadi Google Doodle pada 14 September 2022 lalu. Selain seorang Pahlawan Nasional siapakah sosok perempuan tersebut?

Berdasarkan penelusuran sederhana di beberapa literatur, Rasuna Said merupakan tokoh pejuang bangsa yang telah berkontribusi dalam perjuangan Nasional sejak tahun 1926-1965.

Rasuna Said terkenal sebagai sosok perempuan yang memperjuangkan hak-hak kaum hawa, dan menjadi pelopor perempuan Indonesia yang bergerak dalam aktivis buruh.

Keberanian Rasuna Said dalam memimpin organisasi buruh tak terlepas dari kemampuan beliau terhadap kegiatan menulis yang mengantarkan dirinya masuk dalam dunia politik.

Selain terampil menulis dan pernah menggandrungi dunia politik era Hindia Belanda, Rasuna Said juga terkenal sebagai perempuan yang berideologi feminisme.

Baca Juga: Sejarah Buruh Wanita di Perkebunan Teh Priangan Zaman Kolonial

Dalam berbagai kesempatan, Rasuna Said memanfaatkan ideologi feminismenya ini untuk bahan berpidato dikalangan buruh. Sehingga ia juga terkenal sebagai orator ulung yang tegas.

Selain menjadi orator ulung dan pendidik yang tegas,  siapakah sebenarnya Rasuna Said. Berikut akan dijelaskan profil lengkapnya di bawah ini.

Profil Hidup Rasuna Said

Rasuna Said lahir pada 14 September 1910. Perempuan yang terkenal tegas ini memiliki nama lengkap Hajjah Rangkayo Rasuna Said.

Hajjah Rangkayo Rasuna Said yang biasa dikenal dengan nama Rasuna Said lahir di Desa Panyinggahan, Kecamatan Maninjau, Kabupaten Agam. Sumatera Barat.

Dalam silsilah keluarga, Rasuna Said terkenal berasal dari kalangan ningrat yang tinggi akan ilmu agama. Ayahnya Haji Muhammad Said yang kerap disapa Haji Said seorang pedagang kaya di Sumatera Barat.

Selain menjadi pedagang, ayah dari Rasuna Said ini sejak muda terkenal sebagai aktivis pergerakan. Tak heran darahnya mengalir dalam diri Rasuna Said yang juga menjadi aktivis.

Ketika Haji Said menjadi pedagang kaya di Sumatera Barat membuat Rasuna Said (anaknya) tidak terurus karena sibuk berniaga. Oleh sebab itu Rasuna Said kecil dititipkan pada pamannya.

Pamannya yang aktif dalam dunia politik mendidik Rasuna Said kecil dengan jalan intelektual pemberani. Sesekali Rasuna Said berlatih orasi, bahkan menulis tema-tema tentang perlawanan.

Pernyataan ini sebagaimana dikutip dari Jajang Jahroni dalam bukunya berjudul “Haji Rangkayo Rasuna Said: Pejuang Politik dan Penulis Pergerakan”, (Jahroni, 2002: 70).

Menikah di Usia 19 Tahun

Selain terkenal menjadi pelopor aktivis perempuan di Indonesia, Rasuna Said dalam perjalanan hidupnya ternyata pernah menikah di usia 19 tahun.

Alasan Rasuna Said menikah di umur yang cukup belia ini ternyata ingin taat pada ajaran agama. Selain itu ia juga sudah mengenal lama calon suaminya yang juga aktivis pergerakan bernama Duski Samad.

Perkawinan antara Rasuna Said dan Duski Samad pernah ditentang oleh keluarga Said. Bukan karena pernikahan mereka yang relatif dini, melainkan Duski Samad berasal dari keluarga miskin.

Keluarga Said yang ningrat tidak ingin melihat anaknya (Rasuna Said) menderita karena sang Suami yang tidak punya bekal apa-apa ketika menikah.

Akan tetapi karena tekad kedua mempelai pengantin yang kuat karena sama-sama cum aktivis, akhirnya pernikahan tetap dilaksanakan dengan khidmat.

Dari pernikahannya Duski Samad dan Rasuna Said, mereka kemudian diberikan momongan dua orang anak, namun salah satu dari dua anak tersebut meninggal dunia sejak kecil.

Karena kesibukannya dalam dunia pergerakan membuat Duski Samad dan Rasuna Said kurang komunikasi. Situasi ini membuat hubungan rumah tangga mereka goyah.

Hingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk bercerai dan lebih memilih hidup sendiri-sendiri dengan visi-misi yang sama, yakni sama-sama terus berjuang menjadi aktivis pergerakan.

Baca Juga: Sejarah IWAPI, Organisasi Wanita yang Teruskan Semangat Kartini

Perempuan Cerdas dari Golongan Ningrat

Sebagai perempuan yang berasal dari keluarga ningrat, Rasuna Said diperbolehkan bebas memilih sekolah meskipun biayanya mahal dan memiliki titel bergengsi.

Namun karena sikap Rasuna Said yang sederhana ia lebih memilih sekolah di desa tepian Danau Maninjau. Sekolah dengan baju biasa, dan main bersama anak-anak desa yang sudah dikenalnya semasa kecil.

Setelah lulus dari sekolah tepian Danau Maninjau, Rasuna Said remaja kemudian melanjutkan sekolah ke Pesantren Ar- Rasyidiyah.

Menurut penuturan keluarganya, ketika Rasuna Said memilih pesantren sebagai sekolah lanjutannya membuat dirinya kesepian, sebab Rasuna Said adalah murid perempuan satu-satunya di Pesantren Ar- Rasyidiyah.

Karena tekadnya yang tinggi untuk menuntaskan sekolah informal berbasis keagamaan tersebut, akhirnya bisa masa-masa sulit di pesantren bisa diselesaikan dengan baik.

Selepas dari Pesantren Ar- Rasyidiyah Rasuna Said kemudian disekolahkan memasak, menjahit, dan sekolah urusan rumah tangga di sekolah Tata Boga Belanda (Meisjesschool).

Meskipun mahal biayanya, sekolah tersebut merupakan pilihan dari kedua orang tuanya. Haji Said ayah Rasuna Said menginginkan anaknya berilmu pengetahuan yang tinggi terutama urusan kehidupan di masa mendatang.

Aktivis yang Membela Hak Perempuan

Rasuna Said merupakan aktivis perempuan pertama yang membela hak-hak kaum hawa terutama yang berprofesi sebagai buruh.

Sejak tahun 1924 Rasuna Said sudah bergabung dengan Sarekat Rakyat, organisasi buruh yang kerap mendemo pemerintah Hindia Belanda karena ketidaksesuaian dalam sistem upah.

Dalam organisasi Sarekat Rakyat, Aktivis Perempuan Rasuna Said ini memiliki posisi yang strategis dalam hal agitasi massa. Ia ditempatkan sebagai penulis yang bertujuan untuk mempropaganda buruh untuk tetap kritis menghadapi pemerintah Hindia Belanda.

Sementara pada tahun 1930, tidak hanya sebagai penulis bayangan di Sarekat Rakyat, Rasuna Said bergabung dengan Persatuan Muslimin Indonesia (Permi).

Dalam organisasi Permi, Rasuna Said memiliki posisi yang tak kalah pentingnya di Sarekat Rakyat, sebab di Permi Rasuna Said menjadi pendidik kader dalam berpidato dan latihan berdebat.

Baca Juga: Soeharto dan Hartinah, Kisah Cinta Orang Biasa dan Keturunan Ningrat

Kemampuan berpidato Rasuna Said yang tegas dan tanpa tedeng aling-aling ini kemudian mengantarkan dirinya mendapatkan julukan sebagai “Singa Betina”.

Agitasi Massa untuk Lawan Belanda

Dalam perjalanan hidupnya, profil Rasuna Said terkenal sebagai pemberontak dalam catatan sejarah kolonial. Hal ini karena Rasuna Said kerap melakukan agitasi massa untuk melawan Belanda.

Tidak hanya agitasi yang bersifat tertulis, tetapi juga agitasi massa secara langsung dalam bentuk pidato-pidato dalam kongres keorganisasian.

Karena sikapnya yang pemberani ini membuat Rasuna Said ditangkap dan dipenjara satu tahun dua bulan di Penjara Bulu, Semarang, Jawa Tengah.

Namun ketika sudah bebas dari penjara tak membuat dirinya jera. Rasuna Said tetap melakukan perlawanan dengan bergabung dalam organisasi politik di Permi.

Selain bergabung dalam organisasi politik di Permi, ketika zaman pendudukan Jepang Rasuna Said juga bergabung dengan Pemuda Nippon Raya yang mendukung Jepang untuk memenangkan peperangan Asia.

Rasuna Said juga bergabung dengan Giyugun yaitu Tentara Sukarela bentukan Jepang yang bertugas dalam bidang logistik.

Pernyataan di atas sebagaimana mengutip pendapat Esti Nurjana dalam penelitian skripsinya berjudul “Peran Hajjah Rangkayo Rasuna Said dalam Memperjuangkan Hak-hak Perempuan Indonesia (1926-1965)”, (Nurjanah, 2017: 11).  (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)