Kamis, Desember 8, 2022
BerandaBerita NasionalRay Wagiu Basrowi: Kasus Stunting Ancaman Generasi Bangsa

Ray Wagiu Basrowi: Kasus Stunting Ancaman Generasi Bangsa

Medical Science Director Danone Indonesia, Ray Wagiu Basrowi, menyatakan bahwa kasus stunting bisa jadi ancaman terhadap masa depan Indonesia.

Hal itu ia ungkapkan saat menjadi pembicara di workshop Cyber Media Forum secara virtual yang diikuti harapanrakyat.com, pada Kamis (29/9/2022).

Dalam lokakarya kerja sama antara AMSI dengan Danone Indonesia ini, Ray mengambil topik “Stunting, Nutrisi dan Dampak bagi Kesehatan Anak di Indonesia.

“Bukan cuma warning lagi, tapi sudah menjadi ancaman terhadap public health, ancaman terhadap masa depan Indonesia,” katanya.

Itu sebabnya, sambung Ray Wagiu Basrowi, kenapa pemerintah memasukkan itu di dalam Renstra. Bahkan ada tim khusus BKKBN dan Wakil Presiden yang mengerjakan itu.

“Kenapa? karena kasus stunting ini bisa membuat potensi kehilangan masa depan generasi bangsa,” ujarnya.

Lanjut menambahkan, berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia, Indonesia pada tahun 2021 sebesar 24 persen.

“Meskipun, pemerintah mengklaim kemarin kasus stunting turun. Tapi intinya masih tinggi, karena target pemerintah pada tahun 2024 sebesar 14 persen,” kata Ray Wagiu Basrowi.

Baca Juga: Pemkab Pangandaran Targetkan 2023 Zero Stunting

Namun ia mengingatkan, bahwa ada studi dari WHO dan UNICEF, bahwa kalau satu negara itu persentasi stuntingnya masih di atas 20%, itu masalah kesehatan masyarakat yang sangat besar suatu negara.

“Karena, 1 dari 3 anak yang nanti akan menjadi sumber daya manusia di usia produktifnya itu akan mengalami gangguan kognitif. Karena kurang makan yang baik, atau kurang asupan nutrisi,” jelasnya.

Itu sebabnya, kata Ray, pemerintah saat ini investasi besar-besaran. Bahkan, Presiden Jokowi sudah jelas menyampaikan, bahwa saat ini ada budget alokasi khusus untuk percepatan penanggulangan stunting.

Menurutnya saat ini pemerintah memfokuskan dan memprioritaskan dalam aspek nutrisi untuk penanganan stunting.

“Karena memang masalahnya stunting itu pasti kurang gizi, yang kronis selama bertahun-tahun,” tuturnya.

Kasus Stunting di Indonesia Tinggi, Ray Wagiu Basrowi Ungkap Penyebab Utamanya

Ray mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai tengkes atau stunting. Pasalnya, dampak stunting bisa menurunkan kecerdasan otak pada anak. Hal tersebut menurutnya karena kurang nutrisi atau gizi.

Ia menjelaskan, bahwa dampak dari kekurangan gizi bukan cuma penurunan berat badan. Namun melainkan juga bisa membuat kurangnya asupan energi ke otak.

“Pembentukan otak mulai dari 2 tahun pertama, yang tumbuh sekitar 80%. Setelah itu, ketika mencapai 95% berhenti berkembang hingga usia balita. Itulah yang dinamakan periode emas,” jelasnya.

Ray Wagiu Basrowi mengungkapkan, bahwa ada 3 poin yang menjadi faktor penyebab stunting. “Antara lain pertama pola makan, pola asuh serta ketiga sanitasi,” ungkapnya.

Baca Juga: Seorang Anak Alami Stunting Butuh Biaya RS, Kader PKK Ciakar Ciamis Cari Donasi

Lanjutnya menambahkan, untuk pola makan tidak teratur bisa membuat berkurangnya asupan protein serta sumber energi pada anak.

“Begitu juga untuk pola asuh. Jika praktik serta perilaku pemberian makan pada anak yang kurang baik, maka itu juga menjadi penyebab utama stunting,” jelasnya.

Sementara terkait dengan sanitasi, menurutnya, poin tersebut juga memiliki peranan yang penting untuk mencegah kasus stunting.

“Sebab, sanitasi yang baik dapat membebaskan anak-anak dari penyakit infeksi,” imbuhnya.

Dampak Stunting

Ray Wagiu Basrowi menjelaskan, bahwa stunting adalah kondisi yang ditandai saat panjang atau tinggi badan anak kurang, apabila dibandingkan dengan umurnya.

“Penyebab utamanya gangguan pertumbuhan karena malnutrisi kronis atau kurang gizi menahun,” jelasnya.

Kondisi gangguan itulah yang akhirnya memberikan dampak terhadap anak. Apa saja dampaknya?

Ray menjelaskan untuk dampak jangka pendek, apabila stunting tidak segera ditangani maka akan membuat terganggunya perkembangan otak. Kemudian kecerdasan, lalu gangguan pertumbuhan fisik, Serta gangguan metabolisme dalam tubuh.

Baca Juga: Pelajar di Pangandaran Jadi Sasaran Kampanye Cegah Stunting

Sedangkan untuk jangka panjang untuk dewasa yang pernah mengalami malnutrisi, maka akan memiliki IQ dan kemampuan akademik yang lebih rendah.

“Jika dibandingkan dengan orang dewasa yang tidak pernah mengalami malnutrisi,” jelasnya.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar bayi 0 sampai 6 bulan diberi asupan air susu ibu (ASI) eksklusif. Sebab, katanya, studi literatur, clinical trial dan meta analisis membuktikan dampak ASI eksklusif terhadap pencegahan kasus stunting sangat efektif.

“Tidak hanya mencegah stunting. Namun pemberian ASI dari 0-6 bulan yang merupakan sumber nutrisi utama, juga bisa membuat anak tumbuh menjadi individu yang prima dengan kualitas fisik dan mental yang baik,” kata Ray Wagiu Basrowi. (Adi/R5/HR-Online/Editor-Adi)