Minggu, Februari 5, 2023
BerandaBerita TerbaruSejarah Celana Jeans di Indonesia, Simbol Perlawanan Era Orba

Sejarah Celana Jeans di Indonesia, Simbol Perlawanan Era Orba

Dalam catatan sejarah Indonesia, celana jeans pernah jadi simbol perlawanan di zaman Orde Baru (Orba). Orde Baru memang terkenal sebagai rezim pemerintahan yang represif.

Hal ini sebagaimana timbulnya fenomena sosial seperti perlawanan kaum muda di berbagai wilayah saat menuntut Reformasi 1998.

Pada zaman Orde Baru banyak aturan yang mengatur perkembangan anak muda dalam mencari jati diri. Salah satu aturan yang tidak disukai mereka yakni kebijakan yang mengatur mode pakaian termasuk memakai celana Jeans.

Selain menjadi mode terbaru dalam fashion dunia, celana Jeans yang hits di Indonesia sejak 1970 dipercaya menjadi salah satu bentuk anak muda melakukan perlawanan pada pakem Orde Baru.

Baca Juga: Pemuda Zaman Orba, Hidup Manja dan Gemar Menghisap Ganja?

Dalam perkembangannya, celana Jeans juga menjadi mode perlawanan untuk kelas sosial yang memisahkan pakaian sesuai dengan status gender dan kekayaan.

Oleh sebab itu celana Jeans pada zaman ini menjadi simbol munculnya mode androgini, yaitu sebuah mode yang meleburkan feminitas dan maskulinitas.

Dengan peleburan feminitas dan maskulinitas menciptakan persatuan gender yang bisa lebih dominan. Hal ini mampu mendobrak kekuasaan Orde Baru yang dianggap tidak relevan.

Pada artikel kali ini penulis akan mengajak pembaca untuk memahami bagaimana mode androgini yang tercipta karena busana bisa mendominasi kekuatan anak muda untuk lebih percaya diri dalam menentukan pilihan hidupnya.

Sejarah Celana Jeans dan Berkembangnya Mode Androgini di Indonesia

Mode androgini sebagaimana pengertian di atas pertama kali terjadi di Indonesia karena terpengaruh budaya Barat.

Menurut Helen Reynolds dalam bukunya berjudul “Mode dalam Sejarah: Jaket dan Celana”, (Reynolds, 2010: 24), banyak remaja yang berpikiran androgini karena terinspirasi dari idola baratnya seperti, Elvis Presley, James Dean, dan Marlon Brando.

Hal ini yang pertama kali membawa fashion seperti memakai celana jeans di kalangan remaja Jakarta tahun 1970 terus terjadi.

Selain terinspirasi oleh musisi dan bintang film barat, ternyata kebudayaan memakai celana jeans di Indonesia pada zaman Orde Baru juga terpengaruh oleh musisi beken seperti Ahmad Albar dan Ucok Harahap.

Remaja tahun 1970 di Indonesia sangat menggemari dua tokoh tersebut karena grup Band mereka seolah melambangkan kebebasan remaja dalam memilih hidup, termasuk selera berbusana.

Saat itu Presiden Suharto justru mengizinkan kebudayaan Barat (Westernisasi) berkembang lagi karena di era Presiden Sukarno melarang itu semua demi menghindari neo-kolonialisme.

Pemerintah Orde Baru tidak menyangka jika ternyata kebijakan Westernisasi itu justru menjadi penyebab buruk bagi pergaulan remaja.

Tindakan represif Orde Baru untuk para remaja yang rebel pun terus digalakkan. Namun tindakan keras seperti ini yang kemudian mengilhami remaja untuk kreatif dalam mengkritik.

Maka tak heran jika pada zaman itu, banyak remaja yang aktif menyuarakan kritik pada pemerintah melalui jalan seni.

Hal ini yang kemudian menurut Pemerintah Orde Baru sebagai jembatan menuju sifat-sifat apatis pemuda Indonesia yang tidak diinginkan sama sekali.

Baca Juga: Sejarah Rambut Gondrong, Sempat Dilarang di Era Orde Baru

Celana Jeans Identik dengan Musisi dan Bintang Film yang ‘Melawan’

Celana Jeans awalnya menjadi simbol kemewahan dan perlawanan, karena celana ini biasa ditemukan pada seorang Musisi dan Bintang Film.

Pernyataan di atas sebagaimana disampaikan oleh Firman Lubis dalam bukunya berjudul “Jakarta 1950-an: Kenang Semasa Remaja”, (Lubis, 2008: 251).

Masih menurut Firman, celana Jeans sering dipakai oleh remaja Jakarta meskipun harganya mahal. Hal ini menjadi salah satu kemewahan tersendiri di kalangan anak muda bahwa siapapun yang memakai celana Jeans berarti ia orang kaya.

Namun celana Jeans juga tidak hanya identik dengan kemewahan dan kekayaan, belakangan celana Jeans juga disimbolkan sebagai busana perlawanan kelas sosial yang menciptakan arus androgini yang kuat.

Stigmatisasi kegagahan seseorang ketika memakai celana Jeans tahun 1970 juga tercipta oleh karena celana Jeans ini pernah dipakai pakai oleh para pemberontak di Sulawesi pada tahun 50’an.

Remaja pada era Orde Baru banyak terinspirasi oleh segala bentuk perlawanan, sekalipun itu “Pemberontakan”. Hal ini merupakan bentuk tidak mau terkekangnya anak muda zaman itu oleh kebijakan-kebijakan pemerintah yang mengatur pilihan hidup remaja.

Memakai Celana Jeans Tanda Keruntuhan Aturan Berpakaian Sesuai dengan Status Sosial

Celana Jeans dalam perkembangannya juga pernah dijadikan sebagai simbol keruntuhan aturan yang menentukan agar berpakaian sesuai dengan status sosial seperti gender.

Jika perempuan memakai celana rok, sementara laki-laki memakai celana panjang non- Jeans. Hal inilah yang kemudian dianggap sebagai salah satu kebijakan Orde Baru yang mengekang sekaligus mengatur pilihan hidup remaja.

Dengan demikian memakai celana Jeans dianggap sebagai pola egaliter yang memunculkan kesetaraan dengan tidak mengatur remaja dalam memilih selera berbusana.

Dari sejak itulah celana Jeans, atau pun busana berbasis Jeans menjadi pakaian yang Universal. Bisa dipakai oleh siapapun dan tidak terbatas oleh jenis kelamin alias gender.

Hal ini bertujuan untuk menciptakan kesetaraan dalam kehidupan sebagaimana yang dilakukan oleh orang Barat jauh sebelum pemerintah Orde Baru ada.

Terutama untuk menghapuskan ketimpangan yang menonjolkan dominasi gender perempuan selalu di bawah laki-laki. Dengan menjadikan Jeans sebagai busana Universal batasan-batasan tersebut diharapkan menghilang dan tak menjadi masalah lagi.

Fenomena sosial tersebut menjadi tanda kemajuan dalam berpikir masyarakat Indonesia. Terutama kemajuan gender feminitas yang selama ini selalu tertindas dari keadilan dunia.

Berkembangnya Model Fashion Show Menggunakan Celana Jeans

Kebangkitan menggunakan celana Jeans sebagaimana di atas telah membawa celana asal Amerika ini booming di Indonesia.

Celana Jeans semakin populer seiring dengan berkembangnya model fashion show yang hadir dalam berbagai ajang festival skala nasional maupun internasional.

Di Indonesia sendiri festival fashion Show menggunakan celana Jeans pernah ada tahun 1980-an. Festival ini bertujuan untuk memperkenalkan celana jeans dengan berbagai mode.

Tujuannya untuk mempopulerkan busana Jeans sekaligus mendukung terbentuknya industri Jeans di Indonesia demi memenuhi kebutuhan mode remaja yang modern di Indonesia.

Baca Juga: Kisah Chairil Anwar, Penyair Legendaris yang Meninggal di Usia Muda

Dari kepopuleran Jeans di kota inilah membuat celana Jeans juga banyak diminati oleh pemuda desa. Maka tak jarang di pertengahan tahun 80-an sering ditemukan anak muda desa yang memakai jeans dengan berbagai mode.

Hal ini semakin membuat geram pemerintah Orde Baru. Sebab dengan tersebarnya celana Jeans hingga ke kampung-kampung maka semakin banyak pula para pemuda yang bersifat apatis.

Pemerintah Orde Baru pun kemudian sering menggelar razia sobek celana, terutama bagi para pemuda dengan celana Jeans sobek-sobek yang melambangkan sifat-sifat androginitas.

Celana Jeans Jadi Pusat Perhatian Mahasiswa

Eksistensi celana Jeans di Indonesia sejak tahun 1970 merupakan catatan sejarah Indonesia yang relatif baru tentang perlawanan pemuda melalui busana.

Sebab sejak saat itu celana Jeans dianggap sebagai media para pemuda melawan aturan-aturan yang represif pemerintah Orde Baru untuk pertama kalinya.

Akan tetapi hal ini perlu ada kajian lebih mendalam. Sebab belum banyak orang yang meneliti perkembangan busana sebagai media perlawanan terhadap pemerintah orde baru seperti halnya celana Jeans.

Celana Jeans sebagai lambang perlawanan pertama kalinya juga semakin jelas ketika para Mahasiswa yang mendemo Orde Baru tahun 1998 sering memakai celana Jeans robek-robek.

Mereka terkesan gagah memakai celana Jeans sobek apalagi sembari membawa bendera kesatuan massa dan berorasi di depan gedung DPR RI.

Dari sinilah kemudian para peneliti busana seperti Reynolds mengungkapkan bahwa celana Jeans bukan busana biasa.

Karena di dalam perkembangannya celana Jeans banyak mengandung nilai-nilai perlawanan terhadap ketidakadilan, baik itu ketidakadilan yang bersifat gender maupun politis.

Hingga detik ini celana Jeans terus eksis dan menjadi lambang androginitas di kalangan pemuda berbagai profesi, termasuk mahasiswa dan massa aksi. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)