Senin, Desember 5, 2022
BerandaBerita TerbaruSejarah Hendra Gunawan, Seniman Patung Ketua Lekra PKI Jabar

Sejarah Hendra Gunawan, Seniman Patung Ketua Lekra PKI Jabar

Orang Jawa Barat jarang ada yang mengetahui sejarah seniman berbakat sejak zaman Revolusi bernama Hendra Gunawan. Ia seniman lukis dan pelopor pematung batu itu berasal dari Kota Bandung.

Pemerintah Kota Bandung sama sekali tidak mengabadikan nama Hendra Gunawan. Sementara orang luar Jawa Barat khususnya di Yogyakarta dan Bali banyak mengagumi sosok Hendra Gunawan.

Nama Hendra Gunawan seolah tertelan peradaban modern saat ini. Sebab tidak banyak orang Jabar yang mengenal maestro seni lukis sekaligus pematung otodidak ini. Padahal ia pernah kondang sepanjang tahun 1940-an.

Baca Juga: Profil Hasan Basori, Bermain Ludruk Sejak Kelas 4 SD

Barangkali hal ini terjadi karena sosok Hendra Gunawan yang kontroversial. Tokoh pelukis yang kerap memperjuangkan hak rakyat meskipun harus terlibat organisasi seni berhaluan politik.

Menurut catatan sejarah Indonesia, nama Hendra tenggelam di Kota Bandung karena keterlibatannya dengan Lekra (Organisasi Kebudayaan PKI).

Keterlibatan Hendra dan Lekra inilah yang membuat ia harus mendekam di penjara selama 13 tahun tanpa pengadilan yang jelas sepanjang tahun 1965-1978.

Berikut ini sejarah hidup Hendra Gunawan sebagai pelukis yang terinspirasi oleh ikan. Termasuk juga seniman pematung “Otodidak” pertama yang mengandalkan batu sebagai bahan baku pembuatan patung. Tentunya setelah para pematung kuno di bangunan candi Prambanan.

Sejarah Hidup Hendra Gunawan

Hendra Gunawan merupakan tokoh seniman lukis (profesional) dan mencoba menjadi seniman pematung secara ‘Otodidak’ yang lahir di Bandung pada tanggal 11 Juni 1918.

Menurut berbagai literasi yang mengkaji sejarah hidup Hendra Gunawan menyebut, sejak kecil beliau berbakat melukis wayang golek/kulit, buah-buahan, dan menjelang remaja sudah terampil menggambar pemandangan alam yang sangat indah.

Gambar Hendra Gunawan terkait tema-tema pemandangan alam di dominasi oleh objek alam yang terbentang luas di Jawa Barat, terutama di pegunungan sekitar kota Bandung.

Sementara karya-karya patung yang terbuat dari batu langsung itu terinspirasi oleh tokoh nasional, salah satunya patung Jenderal Sudirman.

Karirnya sebagai seniman lukis dan pematung batu secara spontan membuat terkenal di jagad seniman Nasional.

Bahkan Hendra Gunawan pernah mendirikan grup seniman lukis yang terkenal dengan nama “Lima Serangkai”. Grup tersebut terdiri dari lima maestro kondang yaitu, Wahdi Sumanta, Abdullah Suriosubroto, Affandi, dan Sudarso.

Adapun selain terkenal sebagai seniman lukis yang bergabung dengan grup seniman Lima Serangkai, Hendra juga tersohor sebagai anak keturunan ningrat di Jawa Barat.

Darah ningrat Hendra Gunawan berasal dari kedua orang tuanya yang bergelar Raden. Nama kedua orang tua Hendra Gunawan yakni, ayahnya Raden Prawiranegara, dan ibunya bernama Raden Odah Tejaningsih.

Pelopor Pematung Batu Setelah Pematung di Bangunan Prambanan

Hendra Gunawan menjadi pelopor patung batu setelah bangunan cecandian di Prambanan berdiri. Artinya Hendra Gunawan merupakan generasi pematung batu yang lahir setelah seniman patung yang membuat candi Prambanan.

Jarang ada pematung yang membuat karyanya langsung dari batu utuh, terkecuali dua orang itu yakni, pematung candi Prambanan dan seniman Hendra Gunawan.

Baca Juga: Sikep dan Sentana di Priangan, Priyayi dari Golongan Pedagang

Biasanya pematung-pematung saat itu mengandalkan karyanya dari cetakan yang sudah disiapkan sebelumnya. Adapun pahatan biasanya diperlukan untuk memuluskan bentuk ketika tidak sesuai dengan yang diinginkan dalam cetakan.

Sebagai seniman pematung otodidak, Hendra Gunawan memiliki sejumlah karya patungnya yang ada di mana-mana.

Sebagaimana yang ditulis Butet Kartaredjasa dalam koran Kedaulatan Rakyat, hari Selasa 18 Juli 1983 berjudul, “Pelopor Seni Patung Batu, Hendra Gunawan Meninggal Dunia” (Kartaredjasa, 1983: 1). Dalam tulisannya, Butet menyebut karya Hendra Gunawan bertemakan Patung Batu cukup banyak.

Masih menurut Butet Kartaredjasa, karya patung batu buatan Hendra Gunawan bertebaran di mana-mana, salah satunya patung Jendral Sudirman yang berdiri kokoh hingga sekarang di pelataran depan gedung DPRD DIY.

Selain itu ada juga beberapa patung batu lainnya yang disimpan dan menjadi koleksi beberapa instansi kebudayaan Nasional seperti, di Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta, (Kartaredjasa, 1983: 1).

Seniman Lukis Realisme Sosialis

Idealisme Hendra Gunawan sebagai pelukis Realisme Sosialis membuatnya bergabung dengan Lekra pada tahun 1960-an.

Prinsip Hendra berkesenian untuk rakyat nampaknya terwadahi dengan luas dalam Lekra. Pasalnya Hendra Gunawan pernah menduduki kedudukan yang mentereng dalam Lekra, yakni kepala Lekra cabang Jawa Barat, di Bandung.

Baca Juga: Biografi Basuki Abdullah, Seniman Lukis Istana Merdeka sejak Era Presiden Soekarno

Penunjukan Hendra Gunawan sebagai kepala Lekra di Bandung bukan tanpa alasan, tidak lain jabatan ini terpilih Hendra karena ia terkenal memiliki bakat melukis dengan gaya realisme sosialis.

Gaya realisme sosialis ini berkaitan erat dengan manifesto berkesenian orang-orang komunis. Artinya objek lukisannya selalu tentang keadaan terpuruk yang dialami oleh rakyat miskin di pedesaan maupun di pinggiran perkotaan.

Objek lukisan Hendra untuk memanifestasikan gagasan realisme sosialis selalu didominasi oleh figur wanita. Selain ingin menunjukan keadaan teraniaya yang dialami oleh wanita, figur ini dalam lukisan Hendra Gunawan juga mencerminkan arti perlawanan Gender.

Lukisan wanita tersebut pada tahun 1983 pernah ada yang laku dengan harga yang fantastis tinggi di waktu tersebut yaitu, seharga Rp 50 juta.

Lukisan Hendra Gunawan yang laku dalam pameran dengan harga yang tinggi itu terjadi selepas ia keluar penjara. Selama 13 tahun ia terkungkung di penjara karena terlibat PKI, yakni sepanjang tahun 1965-1978. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)