Sabtu, Oktober 1, 2022
BerandaBerita TerbaruSejarah Jalan Malioboro, Jalur Sakral Mataram Jadi Pertokoan

Sejarah Jalan Malioboro, Jalur Sakral Mataram Jadi Pertokoan

Sejarah panjang Daerah Istimewa Yogyakarta tidak akan lepas dari peran jalan Malioboro sebagai jalur yang sakral bagi kerajaan Mataram.

Perlu Anda ketahui jalan ini pernah menjadi saksi bisu berbagai peristiwa sebelum Kasultanan Yogyakarta berdiri.

Selain itu unsur kesakralan di sepanjang jalan Maliboro bagi kerajaan Mataram ini adalah jalur yang menghubungkan Keraton Kasultanan dengan Gunung Merapi, dan Pantai Selatan.

Menurut kepercayaan Jawa kuno, keterhubungan antara Gunung Merapi, Keraton, dan Pantai Selatan sama hal nya seperti jalur yang magis.

Oleh sebab itu tidak sembarang orang bisa berbuat seenaknya di jalan Maliboro. Jalan Maliboro merupakan jalur yang sakral dan sehingga harus terjaga dari segala hal yang bersifat mengotori, merusak, dan tindakan merugikan lainnya.

Meskipun sudah terjaga dari segala kemungkinan yang bisa merugikan jalan Maliboro, ketika datangnya orang-orang Belanda di Yogyakarta pada abad ke 17, mereka justru hadir sebagai pelaku deskontruktif bagi nilai-nilai normatif kerajaan.

Baca Juga: Sejarah Tukang Becak, Penyebab Ledakan Urbanisasi Jawa Tahun 1950-1970

Orang-orang Belanda itu bertindak sebagai orang asing yang tidak tahu diri ketika pertama datang ke Yogyakarta.

Hal inilah yang menyebabkan jalan Maliboro berubah, dari yang sifatnya sakral dan magis menjadi jalan dengan pusat pertokoan kota yang popular di berbagai kalangan orang Eropa di Yogyakarta.

Sejarah Jalan Malioboro, Munculnya Pasar Modern Tahun 1756-1830

Munculnya pusat pertokoan di jalan Maliboro berawal saat orang-orang Belanda mendirikan pasar modern di sebelah Selatan Alun-alun Utara, atau sekarang terletak di Museum Benteng Vredeburg.

Pasar modern ini menjual segala jenis kebutuhan pokok orang-orang Belanda, dari bahan-bahan pangan, hingga bahan-bahan lainnya yang merupakan kebutuhan sehari-hari.

Dari munculnya pasar modern di tengah perkotaan Yogyakarta inilah yang kemudian membuat jalan Maliboro menjadi ramai pengunjung.

Orang-orang tidak lagi memperdulikan jalan ini sebagai jalur yang sakral dan magis. Aturan normatif yang lahir sejak kerajaan Mataram Berjaya di Yogyakarta seolah terlupakan begitu saja.

Seiring dengan ramainya pasar modern, kemudian membuat sebagian kelompok masyarakat yang tinggal di pinggiran jalan Malioboro mendirikan bangunan pertokoan dengan beragam barang dagangan.

Kebanyakan yang mendominasi pertokoan di jalan Maliboro ini adalah golongan Tionghoa. Mereka bisanya menjual ragam jenis rempah dan obat-obatan tradisional.

Selain ramai dan kemudian berubah menjadi pusat pertokoan di Jalan Maliboro karena adanya pasar modern, ternyata risiko perubahan yang paling utama bagi kehidupan sosial di jalan legendaris ini karena kediaman Residen Belanda.

Rumah dinas Residen Belanda di Yogyakarta ini terletak persis dan berhadapan langsung dengan jalan Maliboro, sekarang istana kepresidenan di Yogyakarta.

Baca Juga: Gaya Hidup Pemuda Tahun 1950, Glamor dan Meniru Orang Barat

Keberadaan rumah dinas Residen tersebut mendorong kemajuan industri pertokoan di jalan Maliboro, hal ini untuk memudahkan para ajudannya dalam mencari kebutuhan sehari-hari sang pemimpin kolonial dengan cara yang mudah dan cepat.

Genever Huis (Tempat Hiburan Malam)

Alih-alih mematuhi dan melestarikan aturan normatif Keraton, Belanda malah bersikap kurang ajar dengan mendirikan sebuah rumah hiburan malam Genever Huis di pinggiran jalan Maliboro.

Di pinggiran jalan Maliboro yang sakral dan magis itu, Belanda mendirikan rumah hiburan malam yang menyediakan segala jenis kemaksiatan, seperti minuman keras, perjudian, hingga prostitusi.

Persitiwa hiburan malam ini kemudian menjadi kabar berita terbaru yang tersiar ke beberapa daerah terdekat disekitar Yogyakarta, sehingga jalan Maliboro menjadi tujuan orang-orang Belanda yang ingin merasakan hiburan malam.

Tentu kegiatan ini menambah keramaian bagi jalan Malioboro, keramaian ini pula yang kemudian melunturkan tradisi jalan Malioboro sebagai jalur yang sakral, magis, dan penuh pakem hingga berubah menjadi jalan yang kosmopolitan.

Adapun rumah hiburan malam (Genever Huis) ini pertama berdiri tanggal 4 Juni 1822. Sejarah mencatat bangunan ini hanya diperuntukan bagi orang-orang Belanda saja.

Golongan Pribumi dan Timur Asing tidak boleh mengikuti kebudayaan ini. Oleh sebab itu kemudian Genever Huis berubah nama dengan Societeit de Vereeniging, atau sebuah perkumpulan yang berisi orang-orang Barat.

Pernyataan di atas sebagai mana mengutip Tashadi dalam Jurnal Putra Widya berjudul “Senisana dalam Perjalanan Sejarah: Kasus pada Era Republik Indonesia 1945-1992”, (Tashadi, 2005: 51).

Orang Tionghoa Membangun Chinese Societeit Hwa Kiaw

Sebagai golongan pendatang yang memiliki kelas dua dari orang Barat, masyarakat yang berasal dari Etnis Tionghoa ini tidak ingin kalah saing dengan orang-orang Belanda yang mendirikan tempat hiburan malam Genever Huis.

Orang Tionghoa yang ada di sekitar jalan Malioboro mendirikan pusat bercengkrama bagi etnis nya dengan nama “Chinese Societeit Hwa Kiaw”.

Letak dari rumah hiburan orang Tionghoa di Malioboro ini berada di Kadasterstraat No. 4, atau sekarang yang menjadi salah satu bangunan miliki Museum Negeri Sonobudoyo.

Baca Juga: Dari Toniel hingga Teater, Ini Sejarah Komunitas Sandiwara di Indonesia

Adapun kegiatan yang diadakan dalam perkumpulan rumah hiburan ini tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang Belanda di Genever Huis.

Menurut Siti Mahmudah Nur Fauziah dalam Jurnal Lembaran Sejarah UGM berjdul “Dari Jalan Kerajaan menjadi Perkotaan Kolonial: Malioboro (1756-1941)” (Fauziah, 2018: 179), terdapat jenis hiburan malam yang paling diminati oleh pengunjuang Chinese Societeit Hwa Kiaw.

Salah satu hiburan malam yang paling menonjol dalam rumah perkumpulan orang-orang Tionghoa  ini antara lain seperti Seni Pertunjukan Tradisional Tionghoa (Opera Hwa Kiaw).

Selain opera Hwa Kiaw, hiburan yang menaikkan jumlah pendapatan bagi perusahaan hiburan malam milik orang Tionghoa ini juga berasal dari kegiatan berjudi, dan permainan bilyard.

Perusahaan Paling Maju

Karena dua media hiburan yang paling diminati oleh pengunjung Tionghoa, membuat Chinese Societet Hwa Kiaw menjadi perusahaan hiburan yang paling maju di jalan Maliboro.

Bahkan Societet de Vereeniging orang-orang Belanda juga kalah. Seiring dengan datangnya uang yang berlimpah, sebagian pengurus Chinese Societeit Hwa Kiaw meluaskan bangunannya dengan membeli rumah milik tuan tanah Belanda bernama, R.M. E. Raaf.

Selain memperluas bangunan tempat hiburan malam, mereka juga membeli rumah kecil untuk pembangunan klinik rawat jalan gratis. Klinik tersebut khusus bagi masyarakat segala lapisan termasuk pribumi.

Begitulah catatan singkat tentang sejarah dinamika jalan Malioboro. Ternyata kepercayaan tradisi yang bersifat tertutup dan pasif, akhirnya bisa juga terbuka oleh pengaruh Barat yang terlalu bebas. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)