Jumat, September 30, 2022
BerandaBerita TerbaruSejarah Prasasti Sapit, Lombok Melek Literasi Sejak Prasejarah

Sejarah Prasasti Sapit, Lombok Melek Literasi Sejak Prasejarah

Sejarah yang membahas tentang Prasasti Sapit di Nusa Tenggara Barat (Lombok) menarik untuk diulas. Sebab batu peninggalan sejak prasejarah itu membuktikan orang-orang Lombok sudah melek literasi sejak dulu daripada peradaban yang terjadi di Jawa-Bali.

Akan tetapi hal ini belum banyak dibahas karena keterbatasan penelitian yang bisa menjangkau prasasti ini di daerah pedalaman Lombok.

Prasasti Sapit juga disinyalir menjadi prasasti tertua warisan budaya Indonesia yang satu-satunya membahas tentang penguasaan literasi.

Baca Juga: Sejarah TVRI, Berperan Penting dalam Pembangunan Riau

Prasasti ini mengajak orang-orang Lombok pada masa Prasejarah untuk segera mengenal literasi agar mereka berpindah zaman pada peradaban sejarah (masa di mana manusia mengerti tulisan).

Sebagian peneliti menyimpulkan bahwa Prasasti Sapit di Lombok merupakan salah satu simbol kemajuan pengetahuan orang-orang di Lombok sebelum ada di Jawa-Bali.

Dan yang paling mengejutkan dari penemuan Prasasti Sapit ini yaitu, menepis teori prasasti yang hanya bisa ditemukan di pulau Jawa dan Bali saja.

Sejarah Prasasti Sapit, Bukti Kemajuan Masyarakat Lombok

Prasasti Sapit ditemukan di sebuah desa yang berada di lereng gunung Rinjani. Prasasti yang terkenal akan simbol literasi ini berdiri di sebuah desa yang jauh dari pusat perkotaan.

Sebelum populer di kalangan arkeolog dan filolog, tempat berdirinya Prasasti Sapit ini kerap dijadikan posko untuk para turis dan wisatawan lokal yang hendak mendaki Rinjani.

Namun setelah ditelusuri sejarahnya, tempat Prasasti Sapit kini menjadi wilayah yang dilindungi. Bahkan tidak sembarang bangunan atau orang bisa berada di sana.

Selain berdiri di lereng gunung Rinjani, tempat Prasasti Sapit itu dulu adalah kawasan sawah yang menghampar luas.

Hal ini tercermin dari hampir keseluruhan masyarakat di Sapit mayoritas berprofesi sebagai petani padi. Ada kemungkinan prasasti itu dibuat untuk memperingati para petani akan pentingnya pengetahuan dan teknologi.

Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, penemuan prasasti ini, dianggap oleh berbagai arkeologi Nasional sebagai bukti pentingnya kemajuan literasi masyarakat Lombok yang jauh lebih awal sebelum Jawa dan Bali.

Artefak yang Ditemukan di Area Persawahan

Penyelarasan profesi penduduk yang didominasi oleh kaum tani di lereng gunung Rinjani menjadi salah satu alasan pakar sejarah menemukan Prasasti Sapit di area persawahan.

Prasasti-prasasti yang ada di Jawa dan Bali umumnya ditemukan di tempat-tempat keramat. Akan tetapi berbeda halnya dengan Prasasti Sapit karena ditemukan di area persawahan.

Gegernya penemuan Prasasti Sapit di area Persawahan tidak pernah terjadi. Hal ini karena masyarakat di lereng gunung Rinjani sudah sejak dulu tahu bahwa Prasasti Sapit itu sebuah batu biasa yang susah untuk dipindahkan.

Tidak jauh dari pengetahuan sebagai batu biasa, masyarakat di desa Sapit juga mengenal prasasti ini sebagai batu yang dihuni oleh makhluk ghaib.

Akan tetapi di tangan Arkelog dan Filolog batu tersebut menyimpan banyak kisah dan tafsiran. Salah satunya yaitu, sebuah batu yang menceritakan pengetahuan literasi masyarakat Lombok pada zaman Prasejarah.

Karena isinya yang menarik, dan terlihat tidak terurus, akhirnya para peneliti tersebut memindahkan Prasasti Sapit (2017) ke balai konservasi kebudayaan yang ada di daerah setempat.

Baca Juga: Sejarah Urang Baduy, Penjaga Ekosistem di Pedalaman Banten

Perpindahan Prasasti Sapit ke tempat yang lebih aman bertujuan menjadikan prasasti tersebut sebagai bahan kajian untuk menelusuri ulang sejarah lokal di Lombok.

Filolog Menduga Aksara yang Dipakai adalah Aksara Pallawa Tua

Para ahli aksara kuno Indonesia (Filolog) menduga bahwa Prasasti Sapit terdiri dari rangkaian bahasa dengan menggunakan aksara Pallawa Tua.

Terutama aksara Brahmi, atau serangkaian cerita yang dibuat oleh orang-orang suci seperti tokoh pemuka agama Hindu, atau bahkan seorang Raja.

Penggunaan aksara Pallawa Tua ini tercermin dari tingkat estetika huruf yang tertulis dalam Prasasti Sapit itu mencapai 100%. Bahkan keindahan aksaranya mampu mengalahkan prasasti kuno yang ada di Jawa dan Bali.

Selain menjadi simbol kemajuan literasi orang Lombok zaman Prasejarah, Prasasti Sapit juga telah menjadi acuan filolog. Filolog ini mengatakan masyarakat Lombok lebih punya hasrat berkesenian yang tinggi daripada orang Bali.

Hal inilah yang menjadi keunikan tersendiri dan tentunya harus dilakukan penelitian lebih dalam lagi. Dari penelitian itulah besar kemungkinan kita akan menemukan fakta-fakta yang lebih inovatif lagi.

Menyimpan Energi Spiritual yang Tinggi

Selain sebagai prasasti yang menyimpan nilai-nilai estetika dalam berkesenian, ternyata para arkeolog juga menemukan beberapa simbol energi spiritual yang tinggi dalam Prasasti Sapit.

Simbol energi spiritual yang tinggi tercermin dari sebuah gambar orang yang sedang meditasi. Ada kemungkinan gambar itu seorang Brahmana (suci) yang sedang memperdalam ilmunya.

Hal ini selaras dengan penemuan para filolog yang menyebut Prasasti Sapit merupakan sebuah prasasti kuno yang telah menggunakan bahasa Brahmi.

Oleh sebab itu, dugaan Prasasti Sapit ini tercipta pada zaman Prasejarah patut dipertanyakan ulang. Hal ini karena tingkat aksara yang estetis dan menggunakan bahasa Brahmi adalah bukti yang bisa membatalkan dugaan tersebut.

Baca Juga: Rasuna Said, Pahlawan Nasional yang Bela Hak Perempuan

Terlepas dari itu, para arkeolog juga menemukan beberapa relief yang diduga sebagai mantra atau doa-doa dalam bahasa kuno.

Para arkeolog itu juga menyimpulkan jika tempat awal penemuan Prasasti Sapit yang ada di area persawahan itu awalnya adalah sebuah Pura Agung tempat peribadatan umat Hindu.

Menjadi Rujukan Penyusunan Sejarah Kuno Indonesia

Penemuan prasasti cenderung berisi kisah klasik tentang literasi. Hal ini membuat para sejarawan tertarik menjadikan prasasti tersebut sebagai rujukan utama dalam menyusun ulang sejarah kuno kebudayaan Indonesia.

Hal ini terdorong oleh pembatalan teori yang mengatakan sebuah Prasasti hanya bisa ditemukan di pulau Jawa dan Bali. Sedangkan di luar pulau itu, tidak akan ditemukan peninggalan sejarah dengan bentuk Prasasti.

Selain itu, ketertarikan sejarawan menjadikan Prasasti Sapit sebagai rujukan utama dalam menyusun sejarah kuno kebudayaan Indonesia juga karena prasasti tersebut membahas literasi.

Pernyataan di atas sebagaimana mengutip Jannata dalam Jurnal Pendidikan Sejarah UNJ berjudul “Penemuan Prasasti Sapit sebagai Bukti Kemajuan Peradaban Literasi Masyarakat Lombok”, (Jannata, 2022: 11).

Bahasan literasi dan pemajuan kebudayaan baca dalam sebuah prasasti mustahil ada. Sebab biasanya prasasti itu dibuat dari zaman Prasejarah (suatu zaman yang belum mengenal tulisan).

Selain para sejarawan, orang-orang arkeologi dan filologi juga mengungkap lambat laun misteri yang ada dalam prasasti ini akan terpecahkan. Hal ini seiring dengan ketertarikan para peneliti kebudayaan terhadap Prasasti Sapit yang cenderung tinggi. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)