Senin, September 26, 2022
BerandaBerita TerbaruSejarah Tukang Becak, Penyebab Ledakan Urbanisasi Jawa Tahun 1950-1970

Sejarah Tukang Becak, Penyebab Ledakan Urbanisasi Jawa Tahun 1950-1970

Sejarah tukang becak tentu merupakan catatan historiografi yang unik dan langka. Hal ini yang menyebabkan tidak banyaknya referensi tentang sejarah transportasi umum tradisional tersebut.

Sebagai alat transportasi umum, becak juga merupakan tanda transisi atau perpindahan mobilitas sipil dari penggunaan tenaga hewan ke tenaga manusia.

Meskipun seperti mengalami kemunduran, sejarah Indonesia mencatat para tukang becak di perkotaan Jawa pernah menjadi inspirasi masyarakat pedesaan ingin berprofesi seperti mereka.

Fenomena sosial ini kemudian menyebabkan angka urbanisasi di perkotaan Jawa meningkat seperti di Yogyakarta, Surabaya, Semarang, dan lain sebagainya.

Peningkatan urbanisasi masyarakat desa ke perkotaan Jawa untuk menjadi tukang becak juga terus bertambah, puncaknya dari tahun 1950 sampai dengan tahun 1970.

Adapun pembahasan yang menarik kali ini akan diulas penulis berkaitan dengan bagaimana dinamika sejarah tukang becak di perkotaan Jawa dari tahun 1950-1970.

Mengingat tukang becak merupakan suatu profesi yang berkontribusi dalam aktivitas sosial, terutama menunjang kebutuhan akses mobilitas bagi masyarakat perkotaan.

Sejarah Tukang Becak, Lahir dari Kehidupan Ekonomi Masa Transisi

Beberapa pengamat sejarah tata ruang kota menilai bahwa sejarah tukang becak pertama kali popular dikalangan masyarakat kota disebabkan oleh kehidupan ekonomi masa transisi.

Hal ini selaras dengan era transisi ekonomi masyarakat perkotaan di Indonesia dari tahun 1950-1970 yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Peningkatan transisi ekonomi dari kemiskinan ke masa serba berkecukupan orang-orang di Kota membuat masyarakat desa mengadu nasib di sana.

Baca Juga: Kehidupan Tionghoa di Batavia, Dirikan Pabrik Arak Hingga Gula

Mereka menjual apa saja di perkotaan, seperti hasil panen di kampung, hasil ternak di desa, bahkan menjual tenaga seperti menjadi tukang bangunan, dan tukang becak.

Karena kebutuhan masyarakat kota yang meningkat akan mobilitas transportasi umum, becak pun menjadi kendaraan alternatif yang murah untuk mereka gunakan saat pergi ke pasar, atau bekerja ke kantor.

Konsumen yang tinggi akan kendaraan tradisional becak membuat para tukang becak ini sukses hidup di perkotaan. Ketika mereka pulang tak jarang mengajar sanak saudaranya dari desa untuk bekerja menjadi tukang becak.

Inilah kali pertama urbanisasi dari desa yang mengubah perspektif sosial kota yang tadinya sebagai pusat pemerintahan, dan desa sebagai pusat pekerjaan berubah terbalik. Masyarakat desa tertarik ke kota karena di sanalah pusat para pencari pekerjaan.

Becak, Transportasi Umum Kelas Menengah ke Bawah

Sejarah tukang becak belum diketahui pasti kapan muncul di Indonesia. Akan tetapi sebagian sejarawan mempercayai profesi ini sudah ada sejak orang Cina pertama datang ke Nusantara.

Kendati demikian, eksistensi tukang becak populer di Indonesia ketika tahun 1940-an, atau setelah kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945-an.

Menurut Rimsky Judisseno dalam buku berjudul “Aktivitas dan Kompleksitas Kepariwisataan: Suatu Tinjauan tentang Kebijakan Kepariwisataan”, (Judisseno, 2017: 244) kata becak berasal dari bahasa Cina Hokkien yang berarti “kendaraan kaki”.

Kendaraan ini berasal dari Jepang yang kemudian diadopsi oleh orang-orang Cina sejak tahun 1869. Dalam perkembangannya dulu becak menjadi tanda kendaraan untuk kelas menengah ke bawah.

Artinya kendaraan becak banyak diminati oleh kalangan rakyat biasa. Sementara kaum aristokrat di Cina memilih kereta kuda atau mobil untuk bepergian.

Akan tetapi di Indonesia becak tidak mengenal kelas penumpang. Sebab beberapa tokoh penting di Indonesia seperti kelompok ningrat Jawa, sudah terbiasa dan merasa nyaman dengan kendaraan klasik ketika bepergian mengantar ke pasar, kantor, atau stasiun kereta.

Awalnya Ditarik Manusia dari Depan

Masih menurut Rimsky, jika kendaraan becak saat ini umumnya dikayuh dari belakang, berbeda halnya dengan masa awal kedatangan becak asal Jepang ini. Ternyata becak harus ditarik oleh tenaga manusia dari arah depan.

Baca Juga: Gaya Hidup Pemuda Tahun 1950, Glamor dan Meniru Orang Barat

Selain di Jepang, di Indonesia sendiri metode menarik becak dengan cara demikian pernah terjadi di Makassar.

Setelah eksis di Makassar, becak yang ditarik melalui tenaga manusia dari arah depan itu kemudian menyebar ke Batavia pada tahun 1930.

Di Batavia sendiri para tukang becak waktu itu berasal dari kalangan orang-orang Tionghoa. Biasanya mereka memiliki rambut dengan kunciran panjang di belakangnya.

Profesi yang dijalankan oleh orang-orang Tionghoa di Batavia ini menandakan bahwa kendaraan becak berasal dari negara Jepang. Kemudian diadopsi oleh orang-orang Tionghoa.

Eksistensi Becak di Perkotaan

Tingkat kepopuleran masyarakat perkotaan menggunakan becak terdorong oleh kesulitan mencari bahan bakar pasca Perang Dunia II, atau krisis BBM terutama bensin.

Oleh sebab itu banyak orang yang memiliki kendaraan seperti motor, mobil, truk, bus, dan lain sebagainya berhenti beroperasi dan memilih alternatif menggunakan becak untuk bepergian.

Dari sini pula kesuksesan para tukang becak di perkotaan mulai terlihat. Bahkan pada tahun 1956, ada tukang becak yang membuka pabrik pembuatan kendaraan roda tiga tersebut.

Kesuksesan yang terdorong oleh kelangkaan bahan bakar minyak terutama bensin membuat orang-orang desa melakukan urbanisasi ke perkotaan.

Mereka ingin sukses meskipun menjadi tukang becak. Profesi tukang becak saat itu sangat menjanjikan dan bisa menghidupi keluarga hingga berkecukupan.

Yogyakarta, Kota di Jawa yang Bergantung pada Becak

Yogyakarta merupakan salah satu kota besar di pulau Jawa yang kebanyakan penduduknya menggantungkan diri pada penggunaan kendaraan umum terutama becak.

Selain menjadi kendaraan angkutan umum, becak di Yogyakarta juga kerap menjadi kendaraan distributor. Dalam hal ini becak digunakan untuk pengiriman barang industri rumahan seperti batik, dalam jarak dekat.

Baca Juga: Sejarah Urang Baduy, Penjaga Ekosistem di Pedalaman Banten

Karena peran becak yang multifungsi di Yogyakarta, akhirnya pada tahun 1960 pemerintah daerah Yogyakarta mengeluarkan kebijakan.

Kebijakan tersebut, yakni menjadikan becak sebagai kendaraan umum yang sudah terintegrasi dengan Angkutan Perkotaan, termasuk angkutan wisata.

Namun pada satu dekade berikutnya, tepat pada tahun 1970 eksistensi penggunaan becak yang populer di kalangan masyarakat Yogyakarta menurun.

Hal ini seiring dengan munculnya produk motor 2 tax dengan kapasitas mesin yang irit. Selain itu, harga motor 2 tax yang terjangkau membuat masyarakat di Yogyakarta memilih kendaraan bermotor.

Selain itu, lahir pula beberapa angkutan umum yang memadai seperti bus kota, dan lain sebagainya. Tarifnya relatif lebih murah dari ongkos becak.

Pernyataan tersebut sebagaimana yang dikutip dari Eka Rahayu Manggasari dalam Jurnal Lembaran Sejarah UGM berjudul “Kota Sebelum Mesin: Yogyakarta Periode 1950 an – 1970 an”, (Manggasari, 2019: 131). (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)