Senin, September 26, 2022
BerandaBerita TerbaruSejarah TVRI, Berperan Penting dalam Pembangunan Riau

Sejarah TVRI, Berperan Penting dalam Pembangunan Riau

Dalam catatan sejarah pembentukan Televisi Republik Indonesia (TVRI) ternyata media televisi terkemuka ini pernah berperan dalam pembangunan di Riau.

TVRI menjadi media yang memberikan informasi kepada pemerintah pusat akan perkembangan pembangunan yang terus digalakkan oleh daerah terutama pembangunan dalam bidang ekonomi.

Selain dalam bidang pembangunan ekonomi, TVRI juga memiliki tugas untuk mengawal pembangunan di Riau dalam bidang pendidikan, sosial, dan kebudayaan.

Pembangunan tersebut terpantau melalui TVRI oleh pemerintah pusat hingga masuk ke pelosok daerah yang terpencil di Riau. Hal ini bertujuan untuk meninjau secara langsung pembangunan agar tepat dan merata.

Sebagian masyarakat Riau merasa pernah diperhatikan oleh TVRI, sebab selain bertujuan untuk mengawal pembangunan Orde Baru, TVRI juga telah menunjukkan pada khalayak umum bahwa Riau merupakan salah satu wilayah yang strategis.

Baca Juga: Sejarah Urang Baduy, Penjaga Ekosistem di Pedalaman Banten

Hal ini menjadi menarik karena sebagian orang belum mengetahui jika Riau merupakan wilayah yang strategis. Lantas apa yang dimaksud wilayah strategis, berikut akan dijelaskan di bawah ini.

Sejarah TVRI dan Alasan Pemerintah RI Jadikan Riau Daerah Strategis

Pembangunan yang dikawal oleh TVRI di Riau tak terlepas dari kedudukan Negeri Melayu tersebut sebagai wilayah strategis.

Adapun yang dimaksud Riau sebagai wilayah strategis yakni, salah satu wilayah di Indonesia yang berhadapan langsung dengan jalur perdagangan Internasional.

Selain dari itu Riau juga merupakan wilayah milik Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara-negara Asean.

Oleh sebab itu perhatian khusus terhadap pembangunan yang ditinjau melalui media TVRI menjadi penting dan tak bisa diabaikan.

Perhatian khusus terhadap pembangunan di Riau tercermin dari pendirian TVRI pertama kali di sana yakni pada tahun 1977.

Mungkin di Jawa sendiri TVRI pada tahun tersebut belum begitu eksis sebagai media teknologi bergambar, namun di Riau sendiri Televisi bukan lah hal yang aneh.

Pendirian pusat pertelevisian di Riau berawal saat pembangunan pemancar  TVRI di Pekanbaru. Pemerintah sengaja memilih Pekanbaru sebagai tempat berdirinya pemancar karena sinyalnya yang bagus.

Dari proses pendirian pemancar di Pekanbaru itulah kemudian sinyal televisi bisa menyebar luas hingga ke berbagai pelosok daerah di Riau. Terutama signal yang paling kuat ke daerah yang dekat dengan pelabuhan.

Sebagaimana yang telah disinggung di atas, pembangunan TVRI di Riau selain untuk mengontrol program pemerintah, tetapi juga dalam rangka mewujudkan penerangan masyarakat dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, dan kebudayaan.

TVRI Riau Menambah Program Acara Selain Berita

Dalam perkembangan kantor TVRI yang sudah ada sejak tahun 1977 akhirnya pada tahun 1995 menjadi stasiun televisi yang menyediakan berbagai acara selain berita.

Kebanyakan program acara di TVRI sebelum tahun 1995 adalah berita yang membahas tentang perkembangan dalam bidang ekonomi. Seperti bidang perdagangan Internasional, dan berita-berita lain yang menyangkut isu menjaga kestabilan ekonomi negara.

Bahkan tayangan program acara berita di TVRI waktu itu memakan waktu cukup lama yakni, satu jam non-stop.

Pada tahun 1995 TVRI mengalami perubahan program acara televisi. Hal ini dilakukan untuk menyeimbangkan minat penonton agar tidak bosan dalam menyaksikan televisi Nasional.

Acara-acara lain pun kemudian terbit dalam program serial. Antara lain seperti sinema elektronik (Sinetron) dan program acara anak-anak seperti (Cartoon).

Baca Juga: Soeharto dan Hartinah, Kisah Cinta Orang Biasa dan Keturunan Ningrat

Tahun 2000-2001 Mengembangkan Program Sinetron dan Hiburan

Sebagaimana pada tahun 1995, program acara televisi Sinetron dan Cartoon pertama kali muncul. Sementara pada tahun 2000-2001 dua industri hiburan tersebut meningkat di TVRI.

Terjadinya perpindahan program acara yang dulunya didominasi oleh siaran berita pembangunan di Riau menjadi acara televisi dengan program sinetron dan hiburan, karena TVRI Riau mengikuti trend yang sedang berkembang.

Tayangnya Sinetron dan Cartoon pertama kali di layar kaca televisi masyarakat Riau yaitu, awal bulan April tahun 2000.

Awalnya program sinetron di TVRI Riau dibuka oleh acara siaran drama pendek berjudul “Telatah Melayu” dan “Keluarga Mak Ngah”.

Reaksi penonton televisi di Riau takjub, karena mereka menyaksikan kebudayaan drama khas Melayu tampil di acara Televisi Nasional.

Adapun tujuan dari direktur TVRI pusat menambahkan program sinetron dan hiburan adalah, menjaga kestabilan psikologi penonton, karena TV waktu itu didominasi oleh acara berita.

Baca Juga: Biografi Basuki Abdullah, Seniman Lukis Istana Merdeka sejak Era Presiden Soekarno

Mengubah Citra TVRI Jadi Televisi Ramah Anak

Selain itu tujuan yang paling penting dan bersifat inovatif yaitu, keinginan pemerintah pusat mengubah citra TVRI menjadi media televisi yang ramah anak.

Hal ini tercermin dari program TVRI pada setiap hari libur menayangkan program cartoon. Kendati demikian TVRI juga membatasi aturan-aturan tertentu agar tidak berlebihan.

Program-program televisi yang kreatif dan inovatif terus diproduksi oleh TVRI seiring perusahaan media milik pemerintah itu bekerja sama dengan PERJAN (Perusahaan Jawatan).

Dengan kerja sama tersebut, TVRI menjadi media berbadan hukum yang bebas dalam menyiarkan acara alias tidak tergantung hanya pada acara yang diinginkan pemerintah seperti berita.

Oleh sebab itu pada tahun 2003-2004 TVRI menjadi media televisi yang paling diminati oleh banyak orang, tak terkecuali masyarakat Riau.

Peristiwa ini terjadi seiring dengan kemampuan TVRI dalam memperkaya program acara selain program kepentingan pemerintah yakni berita.

Tulisan ini dirujuk dari sebuah penelitian ilmiah yang ditulis oleh Raiza Nanda Pratama dalam Jurnal Pendidikan Sejarah UNJ berjudul, “TVRI Stasiun Riau Kepri: Studi Kasus Keberadaan Media Massa Dalam Pembangunan Provinsi Riau (1998-2018)”, (Raiza Nanda Pratama, 2021). (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)