Rabu, November 30, 2022
BerandaBerita TerbaruKH Mas Mansyur, Kolumnis Muhammadiyah yang Anti Kemusyrikan

KH Mas Mansyur, Kolumnis Muhammadiyah yang Anti Kemusyrikan

Nama Kyai Haji (KH) Mas Mansyur kerap muncul saat kita sedang mempelajari sejarah Muhammadiyah.

Beliau merupakan seorang tokoh agama yang aktif dalam Muhammadiyah. Bahkan sebagian kolega kerjanya di dunia persuratkabaran mengenal Mas Mansyur sebagai kolumnis Muhammadiyah yang keras.

Kegemaran beliau menulis seri jurnalisme dalam majalah khusus membahas tentang Aqidah. Terutama menulis propaganda-propaganda anti kemusyrikan.

Menghindari sifat-sifat musyrik merupakan salah satu itikad paling mulia dari seorang muslim. Selain itu tidak menjalankan praktik kemusyrikan juga merupakan tanda-tanda golongan orang yang modern.

Sedangkan menurut KH Mas Mansyur sendiri, karena kemusyrikan maka bangsa kita dahulu terjajah lama. Kemusyrikanlah yang melatarbelakangi terjadinya imperialisme-kolonialisme.

Baca Juga: Haji Hasan Basri Sagipon, Kyai Kaya Asal Surabaya Pendamping KH Hasyim Asy’ari

Salah satu tujuan kolom tulisan khusus pada majalah Soeara Santri, KH Mas Mansyur mengajak para pembacanya agar terhindar dari kemusyrikan.

Tulisan Mas Mansyur juga sering mengutarakan pendapat dari lubuk hati paling dalam bahwa Ia ingin membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan. Salah satu caranya mulai melatih pikiran dengan memahami hal-hal yang logis (nyata).

Profil Kehidupan KH Mas Mansyur

KH Mas Mansyur lahir pada tanggal 25 Juni 1896. Ia berasal dari keluarga ningrat di Jawa Timur yang taat pada ajaran Islam.

Ayahnya bernama KH. Mas Achmad Marzoeqi seorang pemimpin pesantren di Surabaya, Jawa Timur bernama Pondok Pesantren Sidoresmo Wonokromo.

Sementara ibunya bernama Hj. Raudhah seorang perempuan dari keturunan saudagar kaya di Surabaya bernama Haji Hasan Basri Sagipodin. Ia juga disinyalir masih memiliki darah keturunan Walisongo dari garis Sunan Ampel.

Karena berasal dari keluarga yang Islami maka masa kanak-kanak KH Mas Mansyur diwarnai dengan pendidikan agama.

Lingkungan pesantren merupakan pemandangan sehari-hari Mas Mansyur. Pergaulau beliau dengan adik-adik, dan kakaknya pun tidak lepas dari pengaruh pondok pesantren.

Maka dari itu, sedari kecil Mas Mansyur sudah terampil menguasai ajaran agama Islam dengan baik. Terutama dalam hal mengaji Al-Qur’an.

Ketika Mas Mansyur remaja, ayahnya mengirim Ia ke pesantren milik koleganya Kiai Thaha. Di sana Mas Mansyur diajar lebih dalam lagi soal tafsir dan kitab-kitab pengetahuan yang lainnya.

Baca Juga: Haji Agus Salim, Siswa HBS Tolak Beasiswa Kartini ke Belanda

Setelah beberapa tahun menghabiskan waktu bersama Kiai Thahah, KH Mas Mansyur pun kembali masuk pesantren Alfiyah Ibnu Malik pimpinan Kyai Khalil atas perintah sang ayah.

Melalui Tulisan Menentang Kemusyrikan

Setelah selesai menimba ilmu di Pesantren, KH Mas Mansyur kemudian bergabung dengan organisasi Muhammadiyah.

Dalam organisasi ini, KH Mas Mansyur mulai terpicu pemikiran modernisme. Terlebih saat itu KH Ahmad Dahlan selalu berwasiat untuk menegakkan Muhammadiyah sesuai dengan perkembangan modernitas zaman.

Mas Mansyur tentu bersemangat meneruskan cita-cita gurunya itu. Maka sepeninggal KH Ahmad Dahlan, Ia tumbuh menjadi dewasa yang pemberani.

Salah satu keberaniannya terlihat dari ragam tulisan ketika Mas Mansyur bekerja sebagai kolumnis dalam majalah Soeara Santri dan Djinem.

Tulisan Mas Mansyur selalu dipenuhi dengan tema-tema propaganda anti kemusyrikan. Sebab dalam musyrik tidak mencerminkan perilaku manusia modern.

Kemusyrikan hanya meneruskan kebodohan masa lalu. Kebodohan itulah yang kemudian membuat bangsa kita terjajah, mudah diadu domba dan dikhianati oleh bangsa Barat.

Menurut Alpian dalam penelitian berjudul “Peranan Kiai Haji Mas Mansur dalam Muhammadiyah Tahun 1921-1946” (2010), KH. Mas Mansyur tidak main-main saat mengkritik kemusyrikan.

Sebab Ia ingin sekali memberantas pengaruh animisme-dinamisme di masyarakat Jawa. Menurut Mas Mansyur, tradisi ini sudah kadaluarsa dan tidak relevan lagi dengan zaman modern.

Selain membuat bodoh dan gampang diadu domba orang Barat, perilaku musyrik juga membuat orang tidak bisa berpikir secara jernih terhadap realitas yang ada. Lebih parah dari itu, kemusyrikan bisa membuat seseorang membelakangi logika.

Oleh sebab itu tulisan-tulisan dalam Majalah Soeara Santri, KH. Mas Mansyur sangat keras mengkritik perilaku musyrik. Ia percaya satu-satunya jalang yang paling efisien mempropagandakan “Anti Kemusyrikan” adalah media Massa.

Tokoh Islam Modern yang Rendah Hati

Meskipun terkenal keras dalam mengkritik kemusyrikan, mendiang KH Mas Mansyur merupakan tokoh Islam modern yang rendah hati.

Baca Juga: Rasuna Said, Pahlawan Nasional yang Bela Hak Perempuan

Kerendahan hati Mas Mansyur tercermin saat Ia menghindari perdebatan antara anggota Muhammadiyah. Menurutnya perdebatan bukan jalan penyelesaian, lebih baik diam dan menghindar daripada ikut terjerumus dalam lingkaran emosi.

Selain terkenal sebagai tokoh Islam modern yang rendah hati, nama KH Mas Mansyur juga dikenal oleh kolega Muhammadiyah sebagai orang yang cerdas, kutu buku, dan suka mendengarkan fatwa para sesepuh.

Tidak mencela seseorang yang lebih tua meskipun beberapa perkataannya dianggap kurang tepat. Ia hanya mengkritisi pemahaman itu namun tidak melontarkan pertanyaan yang menentang. Cukup diam mengangguk dan tersenyum untuk menyenangkan hati mereka.

Ajaran rendah hati agar tidak sombong ini berasal dari ayahnya. KH Mas Achmad Marzoeqi. Ayahnya tersebut tidak pernah mendidik anaknya untuk mengungguli siapapun yang lebih tua darinya.

Kedisiplinan dari perkataan sang ayah ternyata masih menempel dan terbawa sampai dewasa oleh Mas Mansyur tatkala menghadapi perdebatan.

Selain itu, KH Mas Mansyur juga tergolong orang yang amanah. Ia selalu mengajarkan kebaikan tanpa menggurui pada adik-adiknya.

Tentu saja kebaikan yang diajarkan itu bersumber dari orang tua, guru, dan orang-orang berpengaruh lainnya yang mengajarkan kebaikan.

Pernyataan tersebut sebagaimana mengutip pendapat Amir Hamzah Wiryosukarto dalam “Kiai Haji Mas Mansur: Kumpulan Karangan Tersebar” (1992). (R7/HR-Online-Editor-Ndu)