Senin, Februari 6, 2023
BerandaBerita TerbaruPenolong Kesengsaraan Oemoem: Badan Sosial Muhammadiyah, Lahir karena Bencana Alam

Penolong Kesengsaraan Oemoem: Badan Sosial Muhammadiyah, Lahir karena Bencana Alam

Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) merupakan badan sosial bentukan KH. Ahmad Dahlan dalam struktur pusat keorganisasian Muhammadiyah.

Menurut berbagai literatur sejarah Muhammadiyah, PKO lahir saat Gunung Kelud meletus pada tahun 1912.

Peristiwa bencana dahsyat ini memakan korban yang banyak, hal inilah yang kemudian menjadi gagasan terbentuknya organisasi sosial PKO oleh Muhammadiyah.

Seluruh anggota Muhammadiyah menginginkan badan khusus yang mengurusi penanggulangan bencana alam secara profesional.

Baca Juga: Misionaris Kristen di Jawa Tahun 1920 dan Upaya PKO Membendungnya

Dengan semangat yang menggebu-gebu, KH. Dahlan kemudian mengajukan permohonan pembentukan PKO ini pada pemerintah kolonial.

Karena kedekatan KH. Dahlan dengan pemerintah kolonial, akhirnya para pejabat Belanda bisa membantu usulan terbentuknya PKO secara legal.

Dalam perkembangannya PKO tidak saja mengurusi permasalahan bencana alam. Semakin maju badan sosial ini kemudian mengurusi pula beragam masalah sosial lain yang menerpa seluruh lapisan masyarakat di pulau Jawa.

Kelahiran Badan Penolong Kesengsaraan Oemoem dan Peristiwa Meletusnya Gunung Kelud tahun 1912

Badan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) lahir sejak tahun 1912 di Yogyakarta. Kelahiran badan organisasi sosial milik Muhammadiyah ini berbarengan dengan peristiwa meletusnya Gunung Kelud.

KH. Ahmad Dahlan merupakan pemimpin utama PKO. Pelopor organisasi Muhammadiyah ini mendorong seluruh lapisan anggota Muhammadiyah untuk bergabung dengan PKO.

Menurut Dr. (Cand) Muarif, M.Si dalam seminar yang diadakan oleh Sejarawan Muhammadiyah pada tanggal 6 September 2021 menyebut PKO mendapatkan sambutan luar biasa dikalangan masyarakat luas Yogyakarta.

Bahkan pemerintah kolonial sendiri merasakan dampak positifnya dari pembentukan PKO. Sebab dengan lahirnya PKO pemerintah kolonial Belanda terbantu untuk menggalang dana yang akan disalurkan pada korban bencana Kelud 1912.

Dalam perkembangannya PKO menjadi pendukung sekaligus cambuk moral bagi pemerintah kolonial. Sebab kontribusi organisasi ini lebih bermanfaat ketimbang gagasan sosial pemerintah kolonial yang sama sekali tidak berpihak pada kelompok pribumi.

Baca Juga: KH Mas Mansyur, Kolumnis Muhammadiyah yang Anti Kemusyrikan

Selain itu ketika bencana Kelud 1912 selesai, Penolong Kesengsaraan Oemoem masih menjadi perintis pertolongan sosial untuk menyelesaikan wabah Pes yang terjadi di berbagai daerah pulau Jawa pada tahun 1920.

Menurut Muarif dalam Seminar Sejarawan berjudul “Muhammadiyah dan Wong Cilik: Sejarah Penolong Kesengsaraan Oemoem”  PKO telah membantu kerja-kerja dokter dalam merawat pasien pes di Malang, Jawa Timur.

Anggota PKO dan beberapa dokter pribumi seperti dr. Cipto Mangunkoesoemo dianggap lebih berperan ketimbang orang-orang Eropa terdidik tatkala menyelesaikan wabah pes yang pernah terjadi pada tahun 1920 tersebut.

Sebab hanya para pribumi yang berani mengurus pasien pes. Sedangkan orang-orang Eropa takut tertular wabah yang berbahaya ini. Mereka memilih mengasingkan dirinya dan lolos dari kewajibannya bekerja sebagai tenaga kesehatan.

Badan Organisasi Muhammadiyah Penolong Masalah Sosial

Selain mengurus wabah pes, pada tahun yang sama PKO juga membantu berbagai masalah sosial lainnya seperti membendung fenomena misionaris Kristen yang terjadi di Yogyakarta.

Penolong Kesengsaraan Oemoem bersama Muhammadiyah melakukan pencegahan misionaris Kristen di kalangan orang-orang susah di pinggiran kota Yogyakarta. Hal ini sebagaimana diungkapkan Muarif dalam seminar di atas.

Ketika masalah misionaris Kristen berhasil dibendung, PKO juga membantu pembentukan sebuah yayasan yang bertugas menyantuni anak-anak yatim piatu.

Urusan menyantuni anak-anak yatim piatu ini berdasarkan amanat KH. Ahmad Dahlan yang mengutip salah satu surat dalam Al-Qur’an yakni surat Al-Maun.

Menurut KH. Ahmad Dahlan sendiri, pada hakekatnya pembentukan PKO memang untuk menolong seluruh lapisan masyarakat yang mengalami kesusahan, termasuk golongan anak-anak yang sudah yatim piatu.

PKO menjadi salah satu badan sosial Muhammadiyah yang terkenal karena orientasi organisasinya yang mulia. Seluruh anggota PKO mendapatkan posisi yang prestisius sejak era 1920.

Mereka juga memiliki kedudukan yang resmi dari pemimpin Yogyakarta kala itu. Jabatan anggota PKO yang diperoleh dari Sri Sultan Hamengkubuwono VIII yaitu badan sosial yang bertugas sebagai organisator tata kelola kota Yogyakarta.

Baca Juga: Haji Muhammad Sudjak, Ditertawakan saat Ingin Bangun RS PKU Muhammadiyah

Selain itu, PKO juga mengorganisir pembentukan rumah sakit PKU Muhammadiyah pada tanggal 15 Feburari 1923. Terbentuknya rumah sakit PKU Muhammadiyah tak terlepas dari kepedulian PKO terhadap kesehatan seluruh lapisan masyarakat di Yogyakarta. 

Badan Pengurus Amal di Kota Yogyakarta

Di tengah perkembangan PKO menyantuni anak-anak yatim piatu dan kelompok fakir miskin di pinggiran kota Yogyakarta, membuat Sri Sultan Hamengkubuwono VIII tergerak hatinya untuk membantu Penolong Kesengsaraan Oemoem menjadi badan resmi pengurus amal di lingkungan Keraton.

Seiring dengan PKO sebagai badan organisasi urusan amal oleh Keraton, badan sosial Muhammadiyah ini kemudian bertugas untuk menyalurkan bantuan pada golongan fakir miskin di seluruh kota Yogyakarta.

Atas perintah Kraton, PKO wajib menyalurkan dana amal ini untuk para pengemis yang sering mengemis di alun-alun Utara dan Selatan.

PKO juga harus memberi tahu para pengemis jika tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah. Dengan kata lain menyadarkan mereka bahwa perilaku mengemis itu bukanlah pekerjaan yang mulia.

Dengan demikian, Muarif berpendapat PKO telah berkontribusi mendukung ketertiban kota Yogyakarta dari kelompok pengemis.

Organisasi ini juga membuat berbagai sudut kota Yogyakarta terbebas dari kemelaratan. Sebab ketika ada masyarakat yang kesusahan finansial, PKO akan datang membantu mereka dengan seluruh material yang sedang mereka butuhkan.

Tanpa kehadiran Penolong Kesengsaraan Oemoem waktu itu, mungkin tata ruang kota dan fasilitas kesehatan di Yogyakarta tidak mendapatkan perhatian khusus. Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)