Kamis, Desember 1, 2022
BerandaBerita TerbaruProfil Usmar Ismail, Dijuluki Bapak Film Indonesia

Profil Usmar Ismail, Dijuluki Bapak Film Indonesia

Dalam sejarah Indonesia, profil Usmar Ismail tercatat sebagai seorang sutradara pertama yang ada di Indonesia. Prestasi Usmar dalam bidang film membuat namanya terangkat, apalagi setelah Ia menyelesaikan studi sinematografi di Amerika Serikat.

Selain terkenal sebagai sutradara pertama di Indonesia, Usmar Ismail juga merupakan tokoh pelopor sandiwara modern alias teater di Indonesia.

Karena keterampilannya dalam bidang seni, sastra, dan film membuat Usmar Ismail semakin percaya diri. Oleh sebab itu pelopor teater modern pertama di Indonesia ini menekuni profesi industri film sampai akhir hayatnya.

Karya-karya Usmar Ismail dalam pembuatan film tidak diragukan lagi. Sebab seluruh karya filmnya terpengaruh oleh pengalaman empiris (Fakta) dalam hidupnya yang beragam. Mulai dari pendudukan Hindia Belanda, sampai dengan pengalamannya pada zaman Jepang.

Baca Juga: Profil Kasino Warkop, Lucu dan Pintar Matematika

Seluruhnya tergambar dalam karya-karya film Usmar Ismail. Oleh sebab itulah sebagian peneliti menyebut Usmar sebagai sutradara pertama di Indonesia yang memiliki style tersendiri dalam pembuatan film. Karyanya seperti nyata dan tak mudah ditandingi.

Profil Kehidupan Usmar Ismail

Usmar Ismail lahir di Bukittinggi pada tanggal 20 Maret 1921. Ia berasal dari keluarga yang “berada”, namun tetap hidup sederhana sebagaimana layaknya pribumi pada masa kolonialisme Hindia Belanda di Sumatera Barat.

Ayahnya bangsawan bergelar Datuk Tumenggung Ismail. Profesinya sebagai guru sekolah jurusan kedokteran di daerah Padang, Sumatera Barat.

Beliau mengajar dua golongan pelajar dari kasta sosial yang berbeda-beda. Akan tetapi karena menjadi guru di sekolah kedokteran negeri, kebanyakan murid-muridnya berasal dari anak-anak Eropa.

Sedikit sekali berinteraksi dengan orang-orang pribumi. Oleh sebab itu, profil Usmar Ismail ketika kecil terbiasa mengobrol dengan keluarga, terutama ayahnya di rumah dengan menggunakan bahasa Belanda.

Ibunya bernama Siti Fatimah merupakan ibu rumah tangga biasa. Akan tetapi semenjak remaja beliau merupakan keturunan bangsawan pribumi di Bukittinggi. Maka beliau juga mengenyam pendidikan tinggi, dan berilmu pengetahuan yang luas.

Baca Juga: Profil Said Effendi, Kelahiran Madura Penyanyi Lagu Melayu

Karena lahir dari keluarga bangsawan pribumi yang terdidik, Usmar Ismail kemudian bersekolah di sekolah Belanda.

Pertama Usmar Ismail sekolah di Hollandsch Inlandsch School (HIS) Batusangkar, Sumatera Barat. Setelah lulus dari tingkat sekolah setaraf SD ini kemudian melanjutkan ke tahap SMP di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Padang.

Setelah dua tingkat sekolah diselesaikan di Sumatera, Usmar Ismail pada masa SMA melanjutkan sekolahnya ke Algemeen Middlebare School (AMS) di Yogyakarta.

Kemudian pada tahun 1952, nama Usmar Ismail tercatat negara Republik Indonesia menjadi salah satu murid berprestasi sehingga layak mendapat beasiswa belajar ke Amerika Serikat.

Di sana Usmar Ismail memilih kuliah pada jurusan Sinematografi di Universitas California Los Angeles. Dari sinilah profil Usmar sebagai ahli film Indonesia mulai tercatat sejarah.

Sutradara Pertama di Indonesia

Setelah menyelesaikan studi dari jurusan Sinematografi di Universitas California Los Angeles, Amerika Serikat. Usmar Ismail kemudian produktif membuat film di tanah air tercinta.

Ia pulang dengan semangat menggebu untuk membangun produksi film sebagaimana ada di Amerika Serikat. Indonesia harus memiliki sejumlah film sendiri yang tidak dicampuri oleh orang asing.

Alhasil Usmar menjadi orang pertama di Indonesia yang memproduksi film. Posisinya merangkap, dari mulai produser, sutradara, sampai art director dikerjakannya sendirian. Ini merupakan salah satu gambaran dari totalitas berkesenian Usmar Ismail.

Setelah mampu memproduksi beberapa film buatannya sendiri Usmar kemudian mendapat kepercayaan untuk menggarap proyek film bergenre perjuangan. Film yang bertujuan untuk membangkitkan jiwa nasionalisme, saat itu Bung Karno mendukung proyeknya.

Usmar Ismail kemudian menggarap proyek tersebut dengan semangat. Jiwa muda Usmar mendukung kualitas produksi yang memuaskan.

Dalam waktu yang relatif singkat, Usmar Ismail bisa menyelesaikan beberapa film yang menggambarkan situasi perjuangan.

Baca Juga: Profil Umar Kayam, Pemeran Bung Karno di Film G30 S PKI

Antara lain film-film ini berjudul, Enam Djam di Djokdja, Darah dan Doa, dan Lewat Djam Malam. Semua film ini menakjubkan setiap penontonnya.

Sebab semua kisahnya terasa sangat nyata karena berasal dari pengalaman empiris sang sutradara Usmar Ismail.

Nila Iliyyatus Zulfa dalam penelitiannya berjudul “Muatan Fakta Sejarah dalam Film Karya Usmar Ismail (1950-1954)” (2010), mengungkapkan salah satu daya tarik Usmar Ismail terletak dari pengalaman empirisnya yang mengandung fakta sejarah.

Artinya seluruh film buatannya selalu menyelipkan fakta masa lalu yang juga dialami oleh penonton. Dengan demikian mereka merasa kembali ke zaman dulu, masa di mana mereka mencari arti dari sebuah bangsa yang merdeka.

Ciri khas film karya Usmar Ismail yang selalu menekankan pengalaman empiris ini belum ada yang menyaingi. Setidak-tidaknya sampai dengan tahun 1970, Usmar Ismail menjadi tokoh perfilman di Indonesia yang modern dan terkemuka.

Pelopor Drama Modern di Indonesia

Selain menduduki posisi menarik: Sebagai Sutradara Pertama di Indonesia, profil Usmar Ismail juga dicatat sejarah sebagai pelopor drama modern di Indonesia.

Ia memulai karirnya sebagai pelopor drama modern ini sejak zaman pendudukan Jepang tahun 1943. Saat itu Usmar aktif di Pusat Kebudayaan Zaman Jepang bernama Keimin Bunka Shidosho. Di sinilah pertama kali Usmar membuat kelompok Teater bernama Maya.

Teater waktu itu menjadi satu-satunya ciri drama modern. Sebab seni pertunjukan tradisional tidak masuk kategori yang sama dengan teater. Sebab teater mementaskan sandiwara baru dengan menggunakan teknik sandiwara Barat yang melawan tradisi.

Awalan sampai akhir cerita teater berbeda dengan sandiwara tradisional. Bahkan perbedaan lainnya juga nampak pada gaya akting, hingga proses lighting dalam pementasan.

Usmar Ismail sudah memiliki ketertarikan mempelajari drama modern alias teater ini semenjak sekolah di AMS Yogyakarta.

Adapun beberapa orang yang mendukung program kerja membuat kelompok teater di Keimin Bunka Shidosho ini terdiri dari beberapa sastrawan seperti, El-Hakim, Rosihan Anwar, Cornel Simanjuntak, dan HB. Jassin.

Pernyataan ini sebagaimana mengutip Intan Yolanda dalam buku “Peran Usmar Ismail dalam Mengembangkan Industri Perfilman Indonesia (1950-1971)” (2017).

Melihat rekam jejak Usmar Ismail yang produktif dalam membuat film, seharusnya menjadi contoh yang harus diteladani generasi muda.

Dengan demikian, profil Usmar Ismail tidak hanya menjadi panutan di kalangan para seniman dan sastrawan saja, melainkan juga di seluruh lapisan masyarakat multiprofesi. (Erik/R7/HR-Online/Editor-ndu)