Rabu, November 30, 2022
BerandaBerita TerbaruSejarah Hari Sumpah Pemuda dan Kisah Wartawan Cerdik

Sejarah Hari Sumpah Pemuda dan Kisah Wartawan Cerdik

Sejarah Hari Sumpah Pemuda bukan hanya tentang kongres Pemuda pada tahun 1928. Karena kongres tersebut tidak akan sukses jika tidak ada campur tangan seorang wartawan yang cerdik.

Bangsa Indonesia sendiri selalu memperingati Hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober setiap tahunnya. Semangat para pemuda tersebut telah membantu lahirnya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Meskipun setiap tahun kita memperingati Hari Sumpah Pemuda, apakah Anda sudah tahu sejarah peristiwa ini dipelopori oleh siapa?

Menurut Momon Abdul Rahman, dkk, dalam buku“Sumpah Pemuda: Latar Sejarah dan Pengaruhnya bagi Pergerakan Nasional” (2008), pelopor pertama Sumpah Pemuda berawal dari kongres pertama tahun 1926 yang diketuai oleh seorang wartawan.

Namanya Mohammad Tabrani. Ia merupakan seorang jurnalis golongan tua yang sudah menjadi wartawan senior di sejumlah surat kabar Belanda pada tahun 1920-an.

Baca Juga: Sejarah Pemuda di Indonesia, Berperan Sebelum Masa Kemerdekaan

Tidak banyak orang yang mengetahui kiprah Mohammad Tabrani dalam peristiwa Sumpah Pemuda. Padahal perannya sangat penting dan menjadi tolak ukur keberhasilan Kongres Pemuda I (1926), dan Kongres Pemuda II (1928).

Lelaki cerdik yang juga seorang wartawan ini memimpin perkumpulan pemuda di seluruh pulau Jawa bernama, Jong Java.

Dalam organisasi ini, Mohammad Tabrani mengumpulkan gagasan sesama anggota untuk membuat organisasi terpusat untuk mewadahi seluruh pemuda di Hindia Belanda.

Tujuannya adalah memperoleh hak kebebasan, memiliki identitas nasional, dan meruntuhkan sistem imperialisme, dan kolonialisme Belanda selama 350 tahun lamanya.

Adapun kepeloporan nama Mohammad Tabrani dalam peristiwa Sumpah Pemuda tercatat ketika Ia menjadi Ketua Kongres Pemuda I tanggal 30 April – 2 Mei tahun 1926 di Batavia.

Sejarah Hari Sumpah Pemuda, Mohammad Tabrani Terpilih Jadi Ketua Kongres

Menurut R. Z. Leirissa dalam buku berjudul “Sejarah Pemikiran Sumpah Pemuda” (1986), mengatakan jika terpilihnya Mohammad Tabrani sebagai ketua pada kongres pemuda I diakibatkan oleh prestasinya sebagai wartawan yang cerdik.

Dewan pemilihan ketua dalam Kongres Pemuda I sengaja memilih seorang wartawan untuk menjadi pemimpin. Penyebab dari hal ini karena mereka menganggap profesi sebagai wartawan tidak mengundang kecurigaan pihak yang berwajib.

Maklum saja, saat itu para pemuda tidak mudah mengadakan perkumpulan. Salah satu penyebab larangan ini karena terjadinya pemberontakan PKI 1926 di berbagai daerah yang gagal.

Karena kerusuhan tersebut, pemerintah Hindia Belanda kemudian melarang perkumpulan (Vergader Verbond). Tujuannya untuk menciptakan suasana politik bumi putera yang kondusif.

Selain karena menjadi wartawan, pemilihan Mohammad Tabrani sebagai ketua Kongres Pemuda pertama karena memiliki banyak relasi. Tidak hanya bergaul dengan tokoh-tokoh pribumi, tetapi juga akrab dengan beberapa pejabat penting kolonial, termasuk kepala PID.

Ketika sudah terpilih menjadi ketua Kongres Pemuda I, Mohammad Tabrani kemudian mengadakan kunjungan diplomasi terlebih pada seorang Hoofdparker Commisaris PID (Aparat Belanda) untuk menjaga kondusifitas perkumpulan pemuda.

Baca Juga: Gaya Hidup Pemuda Tahun 1950, Glamor dan Meniru Orang Barat

Komisaris PID ini kebetulan teman akrab Tabrani karena sering diliput dan namanya dimuat dalam Surat Kabar Hindia Baroe. Maka dari itu Pejabat Aparat Belanda bernama Visbeen ini menyetujui permintaannya tersebut.

Karena seorang wartawan, tak lama sesudah Visbeen menyepakati perjanjian seluruh pemuda yang besok akan berpidato dalam kongres pun diseleksi terlebih dahulu.

Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan kondusifitas acara. Sebab Visbeen meminta catatan pra acara (proposal) sebelum diadakan kongres tersebut. Hasilnya baik, semua tidak termasuk kegiatan yang dilarang.

Karena semua pidato tercatat dengan rapi, maka satu bulan setelah Kongres Pemuda I selesai, Mohammad Tabrani menerbitkan hasil rapat ini dalam koran Hindia Baroe.

Akibatnya menggegerkan masyarakat luas sekaligus membakar semangat kaum muda untuk menghadiri kongres berikutnya pada tahun 1928 mendatang.

Wartawan yang Menjunjung Tinggi Bahasa Indonesia

Mohammad Tabrani tergolong sebagai wartawan senior dalam Surat Kabar Hindia Baroe sekaligus mempelopori penulisan koran dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Menurutnya apabila surat kabar terus menggunakan bahasa Belanda, justru akan semakin memperkuat eksistensi mereka sebagai bangsa penjajah.

Bahasa merupakan faktor penting dalam kehidupan berbangsa. Bahasa bisa membentuk identitas bumiputera sebagai satu kesatuan yang mengalahkan dominasi kolonial.

Tujuannya jelas untuk menjadi bangsa yang merdeka karena jauh sebelum Belanda datang kesini bangsa Indonesia sudah memiliki bahasa pemersatu.

Oleh sebab itu Mohammad Tabrani menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dalam media massa sepanjang tahun 1920-1940.

Surat kabar dengan menggunakan bahasa Indonesia ini secara tidak langsung mempengaruhi peristiwa Sumpah Pemuda tahun 1928.

Karena dua surat kabar yang dikawal oleh Mohammad Tabrani (Hindia Baroe, 1920), dan (Harian Pemandangan, 1930), pemuda semakin semangat menggunakan bahasa Indonesia dalam berbagai persidangan organisasi.

Selain itu sikap Mohammad Tabrani yang menggunakan bahasa Indonesia dalam tulisan surat kabarnya, membuat para pemuda menyatakan sikap untuk menjunjung tinggi bahasa yang satu yaitu bahasa Indonesia.

Sikap itulah yang kemudian kita kenal dengan istilah ikrar Sumpah Pemuda tahun 1928. Ternyata penggunaan bahasa Indonesia dalam surat kabar zaman Belanda membuat jiwa nasionalisme pemuda bertumbuh kuat.

Baca Juga: Pemuda Zaman Orba, Hidup Manja dan Gemar Menghisap Ganja?

Wartawan Berintegritas dan Pandai Berdiplomasi

Mohammad Tabrani terkenal sebagai figur wartawan yang loyal dan pandai berdiplomasi. Tidak menjadi pemuda yang “bersumbu pendek”, sebisa mungkin Ia selalu menyelesaikan masalah dengan cara yang intelektual.

Berdiplomasi adalah langkah paling dasar untuk melakukan itu semua. Karena sikap inilah peristiwa Kongres Pemuda I dan Kongres Pemuda II berjalan dengan lancar.

Selain berdiplomasi, salah satu strategi memenangkan tekanan dari pemerintah kolonial Belanda yaitu dengan cara menunjukkan sikap yang loyal pada orang Belanda.

Sikap ini karena pekerjaan Tabrani sebagai seorang wartawan. Jurnalis terbiasa dekat dengan berbagai orang berlatar belakang yang berbeda. Dari mulai golongan rendahan sampai kelas sosial yang tinggi.

Karena sudah terbiasa bergaul dengan orang-orang Belanda, Tabrani semakin percaya diri untuk memimpin Sumpah Pemuda tahun 1928.

Alhasil sampai pada ikrar Sumpah Pemuda seluruh anggota tidak ada yang terjaring masalah oleh pemerintah kolonial Belanda. Semua aman, pulang dengan selamat dan berbangga hati karena berhasil mempersatukan pemuda di seluruh Indonesia.

Tentu semua ini berkat Mohammad Tabrani. Meskipun pada Kongres Pemuda II namanya tidak banyak disebut, akan tetapi pejabat tinggi militer kolonial percaya pada integritasnya.

Mereka percaya Mohammad Tabrani tidak akan menciptakan kegaduhan. Apalagi mengagitasi massa kongres untuk membuat perlawanan sebagaimana PKI tahun 1926. Tabrani sosok yang cerdik, semua permasalahan pasti selesai dengan jalan diplomasi. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)