Kamis, Desember 1, 2022
BerandaBerita TerbaruSejarah Wisatawan Belanda Tenggelam di Pangandaran Tahun 1938

Sejarah Wisatawan Belanda Tenggelam di Pangandaran Tahun 1938

Sejarah wisatawan Belanda tenggelam di Pangandaran pada tahun 1938 sangat menarik untuk kita ulas. Apalagi untuk menambah wawasan sejarah Indonesia dari wilayah Pangandaran.

Pangandaran sebagai daerah Pariwisata yang mempunyai pantai sebagai destinasi hiburan, ternyata sudah eksis dan terkenal sejak zaman kolonial Hindia Belanda.

Hal ini terbukti dengan adanya laporan berita tenggelamnya wisatawan orang Belanda di Pantai Penandjoeng Pangandaran pada tahun 1938.

Dalam sebuah berita dari koran Belanda yang berjudul “Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie: Ongeluk bij Pangandaran In de Dirk de Vriesbaai op Donderdagochtend” 17, Juni 1938 menunjukkan cukup jelas peristiwa itu.

Dalam liputan Koran tersebut menjelaskan terdapat seorang pelancong Belanda yang tenggelam di Pantai Penandjoeng.

Orang Belanda ini berdinas di Bandung dan memiliki nama C.W.J.F Janssen. Jenazahnya mengambang 300 meter dari tempat kejadian tenggelam.

Sementara itu, para nelayan yang menemukan Janssen menyangkut pada sebongkah karang besar di tepian bibir pantai pada Jum’at (17/6/1938) sekitar pukul 11.00 WIB.

Baca juga: Banjir di Padaherang Pangandaran 1939, Kalipoetjang Tenggelam!

Mengungkap Sejarah Wisatawan Belanda Tenggelam di Pananjung

Menurut editor redaksi (ED-INDIE), korban tenggelam di pantai Penandjoeng bernama W. J. F. Janssen Andeweg.

Janssenmerupakan seorang karyawan perusahaan Belanda di Tjikentjreng, Bandung.

Sehari-hari, ia bekerja mengurus administrasi pengeluaran dan pemasukan barang dagangan, seperti rempah, dan produk olahan dari alam lainnya yang dikemas dalam bentuk obat-obatan.

Selain itu, Janssen ternyata memiliki selera humor yang tinggi. Sehingga tak heran banyak teman yang sangat simpati padanya ketika jasad ayah tiga anak ini ditemukan mengambang 300 meter dari teluk Penandjoeng.

Masih menurut editor redaksi, Janssen awalnya datang ke Pangandaran untuk berlibur bersama keluarganya, yakni bersama tiga anak laki-laki dan istrinya.

Sebagai karyawan perusahaan Belanda yang tajir, Janssen pun mampu menyewa pesanggerahan di pesisir pantai Pangandaran.

Bahkan ketika datang ke pantai pun mereka menggunakan mobil Eropa seri terbaru. Bahkan ia bawa langsung dari Inggris ke Hindia Belanda.

Baca juga: Sejarah Wisata Pantai Pangandaran, Terkenal Sejak Tahun 1923

Hilang Kesadaran

Salah seorang petugas administrasi Belanda di Pangandaran yang juga kolega bisnis Janssen bernama H. J. A. van Beekum juga mengungkap sejarah wisatawan belanda tenggelam tersebut.

Ia menduga penyebab terseretnya Janssen adalah hilang kesadaran.

Hal itu karena Janssen saat itu dalam kondisi mabuk akibat meminum minuman beralkohol.

Selain itu, Janssen sebenarnya tidak begitu pandai berenang secara tidak sadar memberanikan diri meluncur ke permukaan air laut yang banyak batu karang.

Jika melihat dari setting penggambaran tempat dalam berita tersebut, kemungkinan besar Janssen berenang di sekitar pantai pasir putih.

Nahas ketika Janssen meluncur, Ia memilih kepala sebagai tumpuan pertamanya saat mendarat di permukaan air.

Tanpa ia sadari, ternyata permukaan air yang menjadi tumpuan kepala Janssen saat meluncur berisi akar pohon yang rimbun, besar, dan keras.

Sementara para nelayan sekitar yang menolong penemuan jasad Janssen menilai itu bukan akar pohon melainkan batu karang yang menyerupai akar pepohonan.

Akibatnya kepala Janssen terbentur dengan keras dan mencederai kulit di sekitar wajah yang menyebabkan hilangnya kesadaran.

Dari posisi inilah orang sekelilingnya tidak ada yang tahu, sehingga tubuh Janssen terseret oleh arus yang cukup deras hingga ke tengah lautan, dan tenggelam.

Baca juga: Wabah Malaria di Pangandaran 1935, Pantai Pananjung Diisolasi!

Nelayan Pangandaran Bantu Cari Jasad Janssen

Masih soal sejarah wisatawan Belanda tenggalam di Pangandaran, keluarga Janssen telah melapor ke administatur Belanda di Pangandaran.

Setelah pelaporan itu, kemudian terbit perintah dari petugas administratif daerah yang juga teman Janssen berbama H. J. A. van Bekuum.

Ia pun memerintahkan satuan dinas di bawahnya untuk terjun langsung mencari jasad Janssen yang kurang lebih sudah tenggelam selama 3-5 hari.

Selain itu, satuan Bekuum yang mencari korban tenggelam juga bersama para nelayan setempat menggunakan peralatan seadanya, seperti menggunakan perahu kecil atau masyarakat sekitar menyebutnya dengan Compreng.

Akhirnya, pada Jum’at tanggal 17 Juni 1938, tepatnya pukul 11. 00 WIB siang, jasad Janssen mengambang di antara teluk Penandjoeng karena menyangkut pada bongkahan karang yang timbul ke permukaan akibat debit air yang sedang turun (surut).

Jasad H. J. A. Janssen pun langsung dibawa ke Bandung dengan kendaraan khusus untuk proses penguburan di komplek pemakaman Belanda.

Saat tutup usia, Janssen meninggalkan 3 orang anak, dan satu istri yang merupakan keturunan Indo-Eropa berdarah (Jawa-Belanda)

Begitulah potret sejarah wisatawan Belanda tenggelam di Pangandaran di tahun 1938. Hal ini membuktikan dari sejarah Indonesia Pangandaran sudah menjadi salah satu tujuan wisata sejak zaman dulu. (Erik/R6/HR-Online)