Senin, Februari 6, 2023
BerandaBerita TerbaruSeniman pada Era Revolusi Fisik, Pasukan Perang yang Nyentrik

Seniman pada Era Revolusi Fisik, Pasukan Perang yang Nyentrik

Perjuangan seniman pada era revolusi fisik ternyata begitu besar. Peran para maestro seni ini tidak kalah hebat dengan para pejuang yang lahir dari didikan resmi militer.

Sebab para seniman yang berjuang pada masa Agresi Militer I dan II Belanda di Indonesia mempelopori lahirnya pasukan Solidaritas Non-Hirarkis.

Pasukan militer yang tergabung dari para seniman ini terkenal unggul dari para pejuang lainnya. Meskipun terlihat ugal-ugalan, pasukan mereka tidak pernah menyeleweng dan menimbulkan kerugian untuk bangsa Indonesia.

Bahkan pasukan Solidaritas Non-Hirarkis ini kerap mencegah para pejuang yang membelok ke Belanda. Mereka kadang menangkap orang-orang ini, lalu menyerahkannya pada komandan markas dengan bukti lengkap. Alhasil tersangka tidak bisa mengelak.

Meskipun belum jelas sejarah detailnya, pasukan Solidaritas Non-Hirarkis pertama kali muncul karena poster Maestro Seniman Abstrak Affandi yang berjudul “Boeng Ajo Boeng”.

Baca Juga: Profil Bing Slamet, Komedian dan Agitator Revolusi Zaman Jepang

Orang-orang percaya, poster ini memiliki makna yang dalam bagi para seniman untuk ikut berjuang mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia. Seluruh seniman bersatu tanpa sekat. Artinya beragam ideologi boleh nyawiji tanpa terkecuali.

Oleh sebab itu untuk menjaga kualitas persatuan, maka para pejuang seniman yang bergerilya melawan Sekutu ini kemudian menyebut pasukannya sebagai Pasukan Solidaritas Non-Hirarkis.

Bagaimana bentuk-bentuk perjuangan pasukan ini, dan seperti apa peran serta mereka membantu tentara dalam mempertahankan kedaulatan bangsa? Berikut penjelasannya.

Perjuangan Seniman di Era Revolusi Fisik, Propaganda melalui Poster

Berbeda dengan para tentara resmi yang mendapatkan pelatihan dan pendidikan militer, para pasukan Solidaritas Non-Hirarkis sama sekali tidak menjalani pelatihan.

Namun, pasukan yang beranggotakan seniman ini memperjuangkan semangat perjuangannya dengan karya seni berbentuk poster.

Poster dianggap relevan untuk menjadi media pembangkit semangat para pejuang bangsa yang sedang bergerilya di hutan-hutan belantara pulau Jawa.

Santy Saptari dalam buku “Sultan Agung dalam Goresan S. Sudjojono” (2022) mengatakan, poster memiliki perang penting dalam menghubungkan karya seni visual dengan semangat perjuangan rakyat dalam perjuangan kemerdekaan.

Hal ini terbukti ketika Affandi membuat poster berjudul Boeng Ajo Boeng. Poster ini dinilai sebagai seruan para seniman untuk seluruh anak bangsa agar ikut berperang dan melawan Agresi Militer Belanda yang semakin mengganas di Yogyakarta.

Selain poster Boeng Ajo Boeng karya Maestro Affandi, beberapa poster yang menggambarkan semiotik visual bernafaskan gotong-royong dalam suasana perang banyak diproduksi oleh seniman-seniman lokal yang tergabung dalam pasukan Solidaritas Non-Hirarkis.

Poster berikut biasanya menggambarkan bagaimana seorang keluarga yang berdiam diri di rumah tidak ikut ke medan perang mendukung para tentara untuk tetap semangat. Gambar ini menunjukan bagaimana seorang keluarga tersebut memberikan bekal logistik yang banyak.

Baca Juga: Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan Lekra Peraih Ramon Magsaysay Award

Namun poster-poster ini tidak ada di museum-museum Indonesia. Menurut Aminudin T.H. Siregar dalam Seminar Seni di Galeri Nasional pada tanggal 18 Agustus 2021, karya di atas hanya bisa kita temukan di museum Belanda.

Dari faktor ini juga kemudian mengapa ketika kita berbicara persoalan seniman yang mempelopori seni poster untuk perjuangan revolusi yang terkenal hanyalah poster Affandi.

Pasukan Solidaritas Non-Hirarkis

Semangat seniman yang tercipta akibat gambar-gambar poster yang provokatif maka sebagian besar seniman pada era Revolusi Fisik di seluruh Jawa mempelopori terbentuknya Pasukan Solidaritas Non-Hirarkis.

Para seniman yang tergabung dalam kelompok ini diberikan kepercayaan oleh tentara untuk mengangkat senjata. Berperang secara bersama-sama demi mempertahankan eksistensi militer Indonesia pada Sekutu yang telah menganggap Ibu Pertiwi sudah kalah.

Sembari bergerilya para pasukan Solidaritas Non-Hirarkis ini diajarkan cara menembak oleh tentara profesional. Mereka mengajarkan bagaimana caranya menghadapi musuh ketika berpapasan secara spontan.

Tidak sampai tiga hari diajarkan, para seniman yang mengangkat senjata bersama pasukan Solidaritas Non-Hirarkis ini kemudian piawai sekali menggunakan senjata laras panjang.

Mereka tidak gemetar ketika terpaksa harus menembak musuh dari jarak yang paling dekat. Bahkan menurut mereka akan lebih bergetar memegang kuas saat melukis dibanding hanya mengokang laras panjang untuk dilepaskan pada sasaran tentara Sekutu yang menyebalkan.

Semangat para seniman ini mendapat penghormatan dari tentara yang bersama-sama berjuang. Dalam medan perang, para pasukan Solidaritas Non-Hirarkis ini pun merangkul berbagai golongan seperti militer, komunis, agamis, dan Eropa-Jepang yang berpihak pada Indonesia.

Hingga perang selesai, seluruh anggota militer yang dahulu pernah satu medan perang dengan pasukan Solidaritas Non-Hirarkis ini sangat respect akan loyalitas mereka saat bergerilya.

Meskipun sedikit ugal-ugalan, para pejuang seniman ini tidak “bermuka dua”. Apalagi mengkhianati perjuangan bangsa dengan menjadi mata-mata Belanda. Sebab bagi seniman pada era Revolusi Fisik ini, kemerdekaan akan diperoleh apabila berlandaskan pada disiplin kejujuran.

Pasukan Perang yang Nyentrik

Sebagaimana para seniman bergaya, pasukan Solidaritas Non-Hirarkis pun sama. Satuan pejuang yang berasal dari para seniman ini ketika berperang tetap bergaya nyentrik.

Bagi sebagian seniman yang tergabung dalam pasukan Solidaritas Non-Hirarkis ini mengungkapkan bahwa gaya nyentrik ini tidak terlepas dari ciri khas pelaku seni yang egaliter, alias merakyat.

Baca Juga: Profil Djoko Pekik: Terlibat PKI 1965, Lukisannya Laku 1 Miliar

Maka tak heran mereka berpenampilan apatis, seperti rambut gondrong dan selalu membawa perlengkapan lukis meskipun akan berangkat melanjutkan perjalanan bergerilya.

Lebih uniknya, para seniman ini bisa melukis dalam keadaan tertekan sekalipun. Mereka bisa berkarya di tengah peperangan yang mengancam.

Menurut sebagian pasukan Solidaritas Non-Hirarkis, melukis di tengah peperangan bisa memberikan sensasi kepuasan berkarya menggunakan teknik ekspresionisme.

Seluruh emosi dan suasana yang berkecamuk mempengaruhi sebuah lukisan yang tidak tertandingi. Karya ini bisa membuat pasukan Solidaritas Non-Hirarkis ini terkenal hingga akhir hayatnya.

Meskipun terlihat seperti menyepelekan maut, para seniman Solidaritas Non-Hirarkis ini tidak pernah menyia-nyiakan waktunya untuk mengkhianati negara. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)