Selasa, Desember 6, 2022
BerandaBerita TerbaruSoetanti Aidit: Istri Ketua PKI, Ahli Akupuntur Pertama di Indonesia

Soetanti Aidit: Istri Ketua PKI, Ahli Akupuntur Pertama di Indonesia

Siapa menyangka ternyata dokter ahli Akupuntur pertama di Indonesia merupakan istri ketua PKI. Ia bernama dr. Soetanti, terkadang orang memanggilnya Soetanti Aidit merujuk pada nama suaminya, DN Aidit.

Karena unsur berbau PKI masih kontroversial di Indonesia, akibatnya nama Soetanti tidak begitu terekspos dalam catatan sejarah PKI.

Akan tetapi akhir-akhir ini referensi yang berkaitan dengan nama Soetanti sudah mulai tersebar kemana-mana.

Artinya perempuan yang pernah ditahan selama 14 tahun karena menjadi Istri Aidit ini, bisa kita baca dalam berbagai media.

Bagaimana awal kehidupan beliau, dan seperti apa kehidupannya pasca menikah dengan pemimpin Partai Komunis Indonesia, D.N. Aidit. Selengkapnya silahkan baja di bawah ini.

Profil Soetanti Aidit, Istri Ketua PKI

Soetanti lahir pada tanggal 1 November 1923 dari pasangan Raden Mas Mudikdio dan Siti Aminah yang merupakan keluarga terpandang dari Kota Deli.

Begitupun Raden Mas Mukdikdio, Ia merupakan keturunan ningrat Jawa yang juga kerabat dekat Bupati Rembang K.R.M. Raja muda Ario Singgih Djojoadhiningrat (Suami R.A. Kartini).

Kendati lahir dari keluarga terpandang, tidak membuat Soetanti tumbuh menjadi anak yang congkak.

Baca Juga: Pengkhianatan G30S/PKI, Mao Zedong Pemimpin RRT Terlibat?

Ia justru berkembang menjadi gadis yang peka terhadap keadaan di sekitarnya. Terutama keadaan sosial yang menyangkut maslahat kesehatan.

Sedari kecil Soetanti senang membantu mengobati tetangganya yang sedang sakit, oleh sebab itu ketika menjelang usia dewasa Soetanti memilih kuliah pada jurusan Kedokteran.

Meskipun keluarga ningrat, Soetanti juga pernah merasakan kesulitan saat membayar uang kuliah pada jurusan kedokteran.

Ayahnya saat itu sedang mengalami paceklik, tak banyak lahan padi miliknya menghasilkan panen yang baik.

Kegagalan panen karena hama dan cuaca ekstrim saat itu menjadi kendala Soetanti membayar uang kuliah di kedokteran yang mahal.

Namun masalah ini bisa diselesaikan dengan cara meminjam uang pada keponakan ayahnya (Anak R.A. Kartini) Raden Mas Soesalit Djojoadiningrat senilai dengan uang tagihan dari kampusnya.

Sekolah Kedokteran

Semenjak lulus dari MULO (Tingkat pendidikan menengah pertama berbahasa Belanda), Soetanti kemudian melanjutkan studinya ke sekolah kedokteran (NIAS) di Surabaya.

Studi penelitiannya kerap mengagumkan banyak teman sekaligus dosen pengampu, sebab Soetani sudah concern dalam bidang Akupuntur. Padahal saat Akupuntur masih menjadi kajian ranah kedokteran yang sulit untuk diteliti.

Hingga pada akhirnya Soetanti lulus dengan predikat sangat memuaskan. Soetanti lalu mendapatkan beasiswa belajar ke Uni Soviet pada tahun 1958-1960 untuk mempelajari spesialis Radiologi.

Sepulangnya dari sana dr. Soetanti kemudian mengajar di Fakultas Kedokteran UI dan membuka praktek di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, serta Poliklinik Rakyat milik (PKI).

Baca Juga: Sejarah Trubus Soedarsono, Seniman Anggota DPRD DIY dari PKI

Meskipun sudah memiliki pekerjaan yang cukup rumit, dan memilik jadwal yang padat tak membuat Soetanti berhenti menimba ilmu.

Hal ini tercermin dari tekadnya yang kekeuh menyelesaikan studi yang ditawarkan oleh kolega kerjanya ke Pyongyang Korea Utara, untuk memperdalam kembali studi akupuntur.

Soetanti pun berangkat tanpa memikirkan keadaan yang memberatkan, mengingat ia waktu itu sudah punya anak, dan suami D.N. Aidit. Prinsip Soetanti dalam menimba ilmu adalah “kewajiban”.

Gagasan ini selalu tertanam dalam kepala Soetanti karena keluargnya terutama sang Ayah sangat memperhatikan kualitas pendidikan yang paling baik untuk para buah hatinya.

Menjadi Istri Ketua PKI DN Aidit

Ketika Soetanti menjalani pendidikan lanjutan dari program beasiswa studi akupuntur di Pyongyang, Korea Utara, ternyata sudah menikah dengan DN Aidit.

Bahkan mereka sudah dikarunia empat orang anak yakni, Ibaruri, Ilya, Irfan, dan Ilham Aidit.  Meskipun begitu, Soetanti bisa menjadi seorang ibu untuk anak-anaknya sambil menyambi kuliah di Korea Utara.

Sementara ayahnya (Aidit) sibuk dengan percaturan politik di Indonesia. Suasana yang harmonis dalam keluarganya terpenggal oleh tragedi berdarah pada 30 September 1965.

Sebagian orang menyebut peristiwa tersebut dengan istilah “Pengkhianatan G30S/PKI”.

Baca Juga: Syu’bah Asa, Wartawan Pemeran DN Aidit dalam Film G30S/PKI

Suaminya (Aidit) yang merupakan Ketua Comite Central PKI tewas dieksekusi di Boyolali, sementara Soetanti terkena imbasnya.

Karir kedokterannya meredup hingga tahun 1980, sebab sepanjang tahun 1966 Ia mendekam di penjara oleh pemerintahan Orde Lama karena terlibat dengan PKI.

Hingga akhir hayatnya pada tahun 1991, Soetanti meninggal karena Stroke.

Meskipun pernah mendekam di penjara karena menjadi istri Ketua PKI, bagaimanapun Soetanti adalah dokter pertama ahli Akupuntur di Indonesia.

Sehingga apabila sejarah hidup dr. Soetanti ditutup-tutupi, kita sebagai generasi bangsa mengalami kerugian dalam memperoleh ilmu pengetahuan.

Pernyataan ini sebagaimana mengutip, Agung Ayu Ratih dalam artikel berjudul “Merayakan Hari Ibu dan Kongres Perempuan Indonesia”, (Jurnal Perpustakaan 1965-1966, Vol. 4, No. (7) September 2021: 1-6). (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)