Selasa, November 29, 2022
BerandaBerita TerbaruAsal-usul Jalan Margonda Depok dan Pahlawan yang Mati Muda

Asal-usul Jalan Margonda Depok dan Pahlawan yang Mati Muda

Asal-usul nama jalan utama Margonda di Depok, Jawa Barat ternyata berasal dari nama pahlawan yang gugur akibat perang kemerdekaan.

Hal tersebut sebagaimana mengutip Wenri Wanhar dalam buku ”Gedoran Depok: Revolusi Sosial di Tepi Jakarta 1945-1955”, (2011).

Nama Margonda tercatat oleh sejarah Indonesia sebagai salah seorang pejuang yang berasal dari tentara didikan Belanda. Namun guru yang dahulu mendidiknya dengan sepenuh hati ini malah berbalik arah menusuknya pada sebuah peristiwa perang di Jakarta Selatan.

Margonda gugur dan mati muda. Keluarga dan kolega prajurit perjuangan bersedih akibat kepulangan sahabat terbaiknya itu ke pangkuan Ilahi. Sebab Margonda gugur pada usia yang masih relatif muda yakni meninggal pada usia 27 tahun.

Baca Juga: Sejarah Orang Arab di Pekalongan, Warisi Kuliner dari Olahan Daging

Saat ini namanya sering didengar oleh masyarakat Jabodetabek. Terutama masyarakat yang berdomisili di Depok-Bogor, hal ini karena nama Margonda jadi nama Jalan Protokol di Depok, Jawa Barat.

Meskipun namanya terdengar tak asing di telinga orang Jabodetabek, namun banyak di antara mereka yang tidak tahu siapakah Margonda itu sendiri.

Asal-usul Jalan Margonda Depok dari Nama Pahlawan Pemberani yang Mati Muda

Tidak hanya Chairil Anwar si penyair revolusioner angkatan 45’ yang gugur pada usia belia, tetapi juga ada nama Margonda si pahlawan pemberani yang mati muda.

Menurut catatan sejarah dari silsilah keluarga, Margonda lahir di Bogor pada tanggal 1 Maret 1918. Sejak kecil Margonda merupakan anak yang punya jiwa nasionalisme yang tinggi.

Selain menjadi anak yang tumbuh dengan karakter nasionalis yang kuat, rupanya Margonda cilik juga pernah menjadi atlet yang menjuarai berbagai pertandingan Olahraga pada masa pendudukan Jepang.

Pria bernama asli Margana ini kemudian masuk ke sebuah laskar perang tatkala usianya menginjak remaja. Kurang lebih pada umur 20 tahun, mantan atlet atletik tersebut menjadi pemuda yang ikut berjuang melawan Sekutu di sekitar Jakarta, Bekasi, Depok, dan Bogor.

Nahas perjuangan Margonda tidak lama. Keberaniannya menghadapi musuh (Belanda-Sekutu) membuat Margonda gugur di medan perang.

Margonda meninggal akibat tertembak peluru Sekutu tepat pada usianya yang baru menginjak 27 tahun. Umur yang masih muda untuk gugur, namun takdir berkehendak lain, Margonda meninggal dengan tenang karena gugur pada saat membela Nusa dan Bangsa.

Adapun tempat tewasnya Margonda akibat tembakan dari peluru Sekutu terjadi di Jakarta Selatan, yakni di daerah Kalibata.

Nama Margonda Menjadi Nama Jalan Utama di Kota Depok

Untuk mengenang jasa pahlawan, pemerintah Kota Depok, Jawa Barat mengabadikan nama jalan utama di wilayahnya dengan nama Margonda.

Pemberian nama ini selain mengenang, dan menghormati pejuang republic yang gugur di medan perang, penganugerahan nama Margonda untuk jalan utama di Depok juga berdasarkan pada prestasi beliau yang dahulu pernah jadi atlet dan siswa yang berprestasi.

Baca Juga: Sejarah Tentara Pelajar, Pasukan Tempur Remaja Intelektual

Masih menurut Wenri Wanhar, Margonda tercatat sebagai siswa yang berprestasi. Selain menjadi atlet terkenal, Ia juga terdaftar jadi siswa di Indonesiche Chemische Vereniging.

Sekolah tersebut merupakan lembaga pendidikan yang mempelajari ilmu-ilmu kimia. Semenjak sekolah di sana nama Margonda kerap menjuarai pertandingan Kimia.

Oleh sebab itu sebagian teman-teman satu angkatannya tidak hanya mengenal Margonda sebagai pahlawan, akan tetapi mengenang Margonda sebagai Intelektual.

Selain menjuarai berbagai perlombaan ilmu-ilmu kimia, Margonda juga pernah menjadi siswa Pilot di Luchtvaart Afdeeling (Departemen Penerbangan Belanda. Sebagai seorang kimiawan, Margonda tertarik dengan pesawat tempur.

Menurutnya apabila kimiawan bisa mengendalikan pesawat tempur dengan baik, maka intelektualitas keilmuannya sebagai pembelajar kimia tak perlu diragukan lagi. Hal ini terjadi karena Margonda percaya dalam teknik pesawat terbang sama dengan mempelajari ilmu-ilmu kimia yang rumit.

Kiprah Margonda dalam Perang Kemerdekaan

Kiprah Margonda dalam perang kemerdekaan Republik Indonesia tak perlu diragukan lagi. Sebab namanya terdaftar menjadi anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR) semenjak mundurnya pendudukan Jepang pada tahun 1942.

Adapun pangkat terakhir Margonda saat menjadi anggota (BKR) yakni Letnan Muda. Pangkat tersebut diraih Margonda dengan mudah akibat komandannya tidak pernah kecewa dengan hasil kerja beliau sebagai tentara perang.

Baca Juga: Sejarah Kantor Pos Indonesia, Administrasi Persuratan Belanda Abad 17

Namun, remaja (BKR) berpangkat Letnan Muda ini gagal dalam salah satu misi komandannya. Kala itu Komandan Batalyon I di Depok memerintahkan Margonda bergabung dengannya.

Margonda pun seketika siap melaksanakan perintah, namun Ia minta waktu untuk pergi ke satuannya karena saat itu sedang berada di pusat pemerintahan Jakarta.

Ketika Margonda hendak pulang ke Depok untuk melaksanakan perintah, tiba-tiba Sekutu yang berjata di pos Kalibata, Jakarta Selatan mendengar langkah kaki dan keberadaan Margonda.

Baku tembak pun tak terelakkan, karena pasukan Margonda sedikit dan tentara Sekutu lebih dari satu kompi, maka Letnan Muda yang mendapat perintah gabung ke Batalyon I di Depok gugur bersama kawan baiknya bernama Sutomo.

Menurut Mohammad Fitriawan, dkk, dalam buku berjudul ”Warta Depok: Informasi dan Komunikasi Masyarakat Kota Depok, Pahlawanku Idolaku” (2014), pasukan yang selamat membopong jasad Margonda yang tertembus banyak peluru sampai di Bogor.

Sejak sampai di Bogor, para pejuang tersebut mengebumikan jasad Margonda percis di depan stasiun kereta api Bogor. Namun ketika perang usai dan Indonesia merdeka dari tangan Sekutu 1949, kuburan Margonda dipindahkan ke Makam Pahlawan Kota Bogor hingga saat ini. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)