Selasa, November 29, 2022
BerandaBerita BanjarKorban Rudapaksa Masih Trauma, Kapolres Banjar Ajak Healing

Korban Rudapaksa Masih Trauma, Kapolres Banjar Ajak Healing

harapanrakyat.com,- Kapolres Banjar AKBP Bayu Catur Prabowo, ajak jalan-jalan korban rudapaksa berinisial YI (17), warga Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, Jawa Barat. Hal tersebut merupakan suatu bentuk kepedulian polisi terhadap kondisi psikologi korban rudapaksa yang masih mengalami trauma mendalam.

“Sehingga untuk mengurangi traumanya kita dari kepolisian, Bhayangkari, dan rekan mahasiswa mengajak satu keluarga untuk refreshing,” kata Bayu Catur Prabowo, Jumat (18/11/2022).

Menurutnya, dengan hal itu diharapkan dapat mengurangi beban pada keluarga dan korban. Sehingga ke depannya dapat menjalani aktivitas seperti biasa.

“Mudah-mudahan secara psikologis ini bisa mengurangi beban yang ada dan berharap korban segera pulih, bahkan keluarga ini pun bisa kembali menjalani kehidupan secara normal,” terangnya.

Baca Juga: Pelajar di Kota Banjar Diduga Jadi Korban Rudapaksa Kakak Ipar

Sedangkan, Bayu menjelaskan, untuk mempertanggungjawabkan perbuatanya kini pelaku masih dalam proses pemeriksaan.

“Untuk pelaku saat ini masih berproses. Tapi yang sekarang kita upayakan adalah bagaimana korban segera beradaptasi dengan kondisi yang ada,” jelasnya.

Tak Mau Pulang, Korban Rudapaksa Masih Trauma

Sementara itu, Ketua Bidang Kesarinahan DPC GMNI Kota Banjar, Kresty Ameliana Putri, mengaku sangat miris atas peristiwa tersebut.

“Kami sangat merasa miris dan prihatin dengan adanya kejadian ini. Awal kejadian kami langsung datang ke rumah korban tapi tidak ada di rumah. Ternyata korban ada di rumah bibinya dan tidak mau pulang karena trauma,” kata Kresty.

Kresty mengaku, saat itu sudah melakukan koordinasi dengan pihak P2TP2A Kota Banjar, untuk segera memberikan pendampingan terhadap korban.

“Sehingga kami akan terus mengawal korban saat pendampingan psikologis untuk menghilangkan traumanya,” ungkapnya.

Selanjutnya, ia menyarankan agar setiap sekolah ataupun kampus membentuk satuan tugas pencegahan dan penanganan kekerasan seksual.

Kemudian, Kresty berharap dengan adanya kasus tersebut menjadi sebuah catatan baik untuk pemerintah maupun lingkungan agar bisa melakukan upaya mencegah supaya tidak terulang kembali.

“Kami berharap kasus ini menjadi catatan bahwa masih banyak predator seksual di lingkungan keluarga. Kemudian kepada pihak terkait agar terus melakukan sosialisasi untuk mencegah kasus serupa terjadi lagi,” pungkasnya. (Sandi/R7/HR-Online/Editor-Ndu)