Sabtu, Januari 28, 2023
BerandaBerita TerbaruMasjid Qiblatain di Madinah, Saksi Perpindahan Arah Kiblat

Masjid Qiblatain di Madinah, Saksi Perpindahan Arah Kiblat

Masjid Qiblatain di Madinah merupakan salah satu tempat bersejarah yang wajib untuk Anda kunjungi ketika melaksanakan haji atau umrah. Ketika berada di Kota Madinah tentu Anda tidak boleh melepaskan kesempatan untuk mengunjungi masjid Qiblatain di kota Madinah. Kota Madinah memang memiliki berbagai tempat suci berupa pemakaman dan tidak sedikit pula berupa masjid.

Menariknya, berbagai tempat tersebut ada yang memiliki kaitan langsung dengan Nabi Muhammad SAW semasa hidup. Bahkan tempat tersebut ada yang menjadi saksi perjuangan Rasulullah SAW dalam menegakkan agama Islam.

Sebagai seorang muslim tentunya kita sangat ingin mendapatkan kesempatan untuk bisa mengunjungi berbagai tempat tersebut suatu saat nanti.

Terdapat banyak tempat yang berhubungan dengan Nabi Muhammad SAW di Madinah yang bisa kita kunjungi ketika berada di sana.

Salah satu tempat yang sangat populer yaitu Masjid Nabawi, yang mana dahulu merupakan tempat tinggal Nabi Muhammad sesaat setelah hijrah ke Madinah. Selain Masjid Nabawi ada pula masjid bersejarah lain yang harus Anda kunjungi, yaitu Masjid Qiblatain.

Baca Juga: Wadi Al Asilah di Makkah, Tempat Prasasti Islam Awal

Mengenal Masjid Qiblatain di Madinah

Masjid Qiblatain merupakan salah satu tempat ziarah di Madinah yang terkenal dengan dua arah kiblat. Sebuah masjid yang dulunya memiliki nama Masjid Bani Salamah ini merupakan saksi perpindahan untuk arah kiblat kaum muslimin.

Masjid ini terletak di Quba, tepatnya berada di atas bukit kecil sebelah utara Harrah Wabrah, kota Madinah.

Dari Masjid Nabawi jaraknya sekitar 7 kilometer, jadi ketika mengunjungi Masjid Nabawi Anda mungkin bisa mengunjungi masjid ini. Awalnya masjid ini bernama Bani Salamah, sebab pembangunannya berada tepat di atas bekas rumah Bani Salamah.

Sejarah masjid ini bermula ketika kedatangan Nabi Muhammad SAW beserta beberapa sahabat untuk menenangkan Ummu Bishr binti al-Bara yang ditinggal mati keluarganya.

Baca Juga: Rumah Tempat Nabi Muhammad Dilahirkan, Dekat Ka’bah?

Sejarah

Pada bulan Rajab tahun 2 Hijriyah, Nabi Muhammad SAW mengimami para jamaah sholat Dhuhur di Masjid Qiblatain di Madinah. Pada dua rakaat awal, sholat Dhuhur masih menghadap pada Baitul Maqdis atau Masjid Al-Aqsa.

Kemudian setelah Rasulullah menyelesaikan raakat kedua, malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu terkait tentang pemindahan arah kiblat. Terdapat dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 144.

Setelah menerima wahyu ini, lantas Rasulullah langsung berpindah 180 derajat menghadap Masjidil Haram dan seluruh jamaah pun mengikuti.

Sejak saat itu kiblat umat Islam berpindah, dari menghadap ke Baitul Maqdis, Palestina menjadi ke arah Masjidil Haram.

Kemudian Masjid Bani Salamah pun terkenal sebagai Masjid Qiblatain di Madinah atau Masjid Dua Kiblat.

Awalnya kiblat sholat untuk semua nabi adalah Baitullah di Mekkah yang Nabi Adam AS bangun, seperti dalam Surat Ali Imran ayat 96. Sedangkan Baitul Maqdis merupakan kiblat untuk sebagian nabi yang berasal dari bangsa Israel.

Baca Juga: Bagian dalam Kabah yang Masih Menjadi Misteri, Ternyata Ini Isinya

Pemugaran

Baitullah di Mekkah berada di selatan dan Baitul Maqdis berada di utara, dengan begitu keduanya saling berhadapan.

Pada tahun 1987, Raja Fahd melakukan perluasan Masjid Qiblatain dan membangun konstruksi baru tanpa menghilangkan ciri khasnya. Kini masjid ini memiliki dua arah mihrab ke Mekkah dan Palestina yang umumnya berguna untuk imam sholat.

Pemerintah Arab Saudi melakukan renovasi dengan memfokuskan mihrab yang menghadap ke Ka’bah di Makkah.

Ruang mihrab tersebut mengadopsi geometri ortogonal yang penekanannya menggunakan menara kembar dan juga kubah kembar.

Lalu kubah utama ini menunjukkan di mana arah kiblat yang benar sedangkan yang kedua berperan sebagai pengingat sejarah. Terdapat pula garis kecil yang menunjukkan transisi perpindahan arah.

Sekarang Masjid Qiblatain di Madinah selalu ramai dikunjungi oleh para jamaah haji dan umrah dari seluruh dunia. Para jamaah pun bisa melihat arah kiblat yang bertolak belakang melalui tanda di atas mihrab masjid. (R10/HR-Online)