Minggu, November 27, 2022
BerandaBerita PangandaranPasar Sawah Mega Terasering, Wisata Berbasis Budaya di Pangandaran

Pasar Sawah Mega Terasering, Wisata Berbasis Budaya di Pangandaran

harapanrakyat.com,- Pasar sawah Mega Terasering di Desa Sukamulya, Kecamatan Langkaplancar, menjadi destinasi wisata baru di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Status Desa Sukamulya sendiri kini sudah jadi Desa Budaya berdasarkan SK  Kemendikbud Ristek tertanggal 1 April 2022.

Objek wisata Pasar Sawah Mega Terasering menyajikan pemandangan tak biasa. Jika Pangandaran selama ini dikenal karena wisata pantainya, maka di objek wisata baru ini yang dijual adalah pemandangan sawah Mega Terasering layaknya Ubud Bali.

Selain itu, pasar sawah ini merupakan usaha rintisan yang berbasis pemberdayaan masyarakat dan budaya Desa Sukamulya.

Baca Juga: Bajak Sawah dengan Kerbau di Pangandaran Bisa Jadi Daya Tarik Wisatawan

Bagi para penghobi sepeda, bisa memanfaatkan trek menuju Pasar Sawah Mega Terasering ini. Treknya sangat menantang, namun dengan panorama alam persawahan yang sejuk.

Tak heran, sejumlah pesepeda berkunjung ke Pasar Sawah Mega Terasering pada Sabtu dan Minggu.

Sembari bersepeda menikmati pemandangan alam, ketika lelah para goweser atau pengayuh sepeda ini, bisa beristirahat di pasar sawah yang baru dirintis oleh masyarakat setempat.

Dengan memanfaatkan mobil Maskara yang serba guna, masyarakat mengambil peluang untuk berdagang setiap hari Sabtu dan Minggu.

Makanan yang dijajakan masyarakat setempat merupakan panganan lokal dari hasil bumi Desa Sukamulya.

Seperti lahang, pecel, gula aren asli, gethuk, awug, serabi, cuhcur, kelapa muda, dan wedang jahe. Selain itu tersedia juga nasi liwet.

Para pedagang ini mengkampanyekan budaya kembali ke makanan tradisional yang sehat dan menyehatkan.

Pasar Sawah Mega Terasering Pangandaran, Desa Budaya Versi Kemendikbud Ristek

Penggiat Budaya Desa Ditjen Kebudayaan Kemendikbud Ristek Dede Arif mengatakan, salah satu desa binaannya adalah Desa Sukamulya, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran yang kini sudah masuk kategori 80 Desa Budaya dari 74.000 Desa yang ada di Indonesia.

Hal Itu tertuang dalam SK Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Ristek RI nomor 0705/F5/KB.02.05/2022 tanggal 1 April 2022.

“Desa Sukamulya ini yang dulunya sepi sekarang sudah mulai berkembang ramai, dari sisi kelembagaan Pokdarwis sudah ada. Kepemilikan hak tanah program reforma agraria yang awalnya milik Perhutani  saat ini sedang berproses menjadi milik masyarakat,” ungkap Dede Arif kepada harapanrakyat.com, Jumat (18/11/2022).

Gagasan Pasar Sawah Mega Terasering Pangandaran muncul setelah banyak pesepeda yang berkunjung ke sana.

“Masyarakat mulai memanfaatkan sumber daya alam yang ada, kemudian mengolahnya menjadi makanan khas kampung, untuk kemudian dijual kepada para pesepeda yang datang,” katanya.

Sedangkan inisiatif membentuk Pasar Sawah Mega Terasering, lanjutnya, adalah inisiatif bersama para pemuda dan tokoh masyarakat. Selain itu, Pemdes Sukamulya juga memfasilitasi rintisan pasar tersebut.

“Sembari menikmati lanskap desa, pasar sawah ini juga untuk memenuhi kebutuhan berwisata warga. Sehingga, bisa memulihkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut Dede menuturkan, pernah orang tua zaman dulu mengatakan bakal ada pasar sawah di kemudian hari. “Dan baru kali ini kebuktian ada, walaupun baru rintisan saja,” tuturnya.

Dede menambahkan, Sukamulya merupakan rintisan desa wisata berbasis pemberdayaan masyarakat dan budaya. Sementara targetnya, agar masyarakat bisa mandiri maju dan berkembang.

Sedangkan gagasan wisata desa merupakan salah satu strategi dari Kementerian Desa. Tujuannya, untuk melakukan pemulihan ekonomi masyarakat, dengan memajukan pemberdayaan masyarakat desa.

“Seperti membangkitkan UMKM, budaya, rekreasi alam dan lainnya. Semoga ini bisa berkelanjutan,” kata Dede.

Trek Sepeda yang Menantang

Sementara itu, salah seorang goweser asal Pangandaran, Apip Winayadi, mengungkapkan, sangat terkesan dengan medan trek Pasar Sawah Mega Terasering yang menantang.

Meski lelah karena medan trek, namun Apip yang rutin setiap Sabtu dan Minggu bersepeda menyusuri daerah tersebut merasa puas. Karena terbayar oleh pemandangan alamnya.

“Kesan trek jalur ini, kanan dan kiri disuguhi pemandangan alam yang indah. Berupa sawah dan bukit dengan udara yang masih alami dan sejuk. Pokoknya mantap,” ungkap Apip.

Belum lagi, lanjutnya, terdapat pasar sawah yang menjajakan makanan khas tempo dulu, sehingga benar-benar kembali ke nuansa alam.

“Sangat pas untuk melakukan relaksasi langsung dengan alam, sebagai kebutuhan rekreatif meningkatkan daya imun, dan menjauh dari kerumunan dengan berolahraga,” ujarnya. (Madlani/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Diskominfo Kota Banjar