Kamis, Januari 26, 2023
BerandaBerita TerbaruProfil Mohammad Yamin, Penemu Raut Wajah Gadjah Mada

Profil Mohammad Yamin, Penemu Raut Wajah Gadjah Mada

Profil Mohammad Yamin belakangan menjadi obrolan hangat di kalangan Sejarawan Indonesia. Karena beberapa prestasi Yamin yang menonjol dalam bidang sejarah bersifat kontroversial.

Mohammad Yamin mengaku telah menemukan gambaran raut muka Mahapatih Gadjah Mada. Gambaran Raja Majapahit ini ditemukan oleh Yamin tatkala Ia melakukan ekskavasi penggalian situs bersejarah di Trowulan.

Adapun gambaran raut wajah Mahapatih Gadjah Mada yang ditemukan Yamin sebagaimana gambaran figur Gadjah Mada dalam buku-buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah saat ini.

Raut wajah Gadjah Mada yang ditemukan oleh Yamin di Trowulan itu dianggap oleh beberapa Arkeolog sebagai tafsiran. Artinya raut wajah itu masih diragukan kebenarannya.

Para Arkeolog di Indonesia mengaku belum bisa mengkonfirmasi kebenaran tafsiran Mohammad Yamin yang menggambarkan raut wajah Gadjah Mada.

Sebab penemuan Yamin merupakan sebuah celengan kuno yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan kejayaan Majapahit.

Baca Juga: Tien Soeharto, Ibu Negara yang Menolak Keras PNS Poligami

Kendati pun demikian, sejarah tentang Majapahit sudah kadung memasukan raut wajah Mahapatih Gadjah Mada tersebut dalam buku-buku pelajaran sejarah Nasional.

Hal ini terjadi akibat Yamin saat itu menjabat sebagai Menteri Penerangan RI yang bertugas mengatur kurikulum pelajaran sekolah. Terutama kurikulum yang mengatur tentang materi pembelajaran sejarah Nasional.

Profil Kehidupan Mohammad Yamin

Dibalik ketenarannya sebagai penemu raut wajah Mahapatih Gadjah Mada, sebetulnya siapakah Mohammad Yamin ini?

Selain sebagai seorang Menteri di era Presiden Sukarno, Mohammad Yamin juga terkenal sebagai seorang akademisi.

Pria kelahiran Sawahlunto tanggal 24 Agustus 1903 ini sudah tertarik dalam dunia akademis semenjak usia remaja. Hal ini tak terlepas dari peran sang ayah yang kala itu merupakan bangsawan lokal di daerah Padangpanjang.

Ayahnya bernama Usman Baginda Khatib, dan ibunya Siti Saadah memang sengaja membentuk karakter Moh. Yamin sebagai anak yang terdidik. Mereka ingin kelak anaknya itu tumbuh menjadi seorang cerdik-pandai.

Karena biaya yang berlebih, Moh. Yamin sejak kecil sudah ditawarkan oleh ayahnya sekolah ke Belanda. Namun ketika Ia hendak berangkat ke Negeri Kincir Angin ini ayahnya meninggal dunia.

Moh. Yamin pun tidak jadi berangkat melanjutkan studi ke Belanda. Yamin mengaku kegagalannya berangkat akibat berat meninggalkan ibundanya yang semakin hari semakin sepuh sepeninggal sang ayah.

Baca Juga: Riwayat Hidup Buya Hamka, Profil Ulama yang Serba Bisa

Akhirnya Yamin memilih sekolah di RHS (sekolah hukum) di Batavia. Meskipun sekolah pada jurusan hukum, Yamin sangat berbakat dalam bidang sastra, kebudayaan, dan sejarah.

Oleh sebab itu Yamin kerap memproduksi tulisan bernafaskan kajian sastra, budaya, dan sejarah. Meskipun terbilang produktif menulis, banyak pihak yang mengkritik karya-karyanya.

Hal ini tak terlepas dari isu Moh. Yamin sebagai sejarawan yang kontroversial. Salah satu karya kontroversialnya yaitu menafsirkan wajah Mahapatih Gadjah Mada dengan perawakan tambun dan pendek.

Adapun raut wajah yang dimaksud itu sebagaimana wajah Gadjah Mada yang kita kenal sekarang dalam pelajaran sejarah di kelas SD-SMA.

Kisah Moh. Yamin Menemukan Gambaran Raut Wajah Gadjah Mada

Sebelum dianggap sebagai seorang sejarawan yang kontroversial, tokoh Nasional lulusan Sarjana Hukum ini mengaku telah menemukan gambaran raut wajah Mahapatih Gadjah Mada ketika menggali situs bersejarah di Trowulan.

Pernyataan ini sebagaimana disampaikan oleh Nirwan Yasin dan Lagut Bakaruddin dalam Al-Maarif: Jurnal Pendidikan Sosial dan Budaya berjudul, “Sumbangan Pemikiran Muhammad Yamin dalam Sejarah Indonesia” (Vol. 2, No. 1, 2020).

Menurut pengakuan Yamin, Ia telah menemukan artefak berbentuk wajah tambun mirip figur Gadjah Mada didekat situs Puri Majapahit di Trowulan.

Yamin sangat mempercayai penemuan ini merupakan gambaran raut wajah asli dari Gadjah Mada. Untuk mengabadikan penemuannya itu Ia kemudian membuat buku berjudul “Gadjah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara” (1945).

Dalam buku ini Ia menyimpan potret artefak tersebut di halaman paling depan (cover), dan halaman pembuka kedua setelah sampul daftar isi.

Yamin juga membubuhkan keterangan di bawah gambar ini dengan pernyataan yang mengajak para pembaca agar percaya bahwa ini merupakan raut wajah asli Mahapatih Gadjah Mada.

Setelah buku ini terbit, Moh. Yamin masih penasaran dengan sejarah Majapahit. Maka pada tahun berikutnya Ia membuat buku berjudul “6000 Tahun Merah Putih”, isinya membahas sejarah bendera Indonesia yang lebih tua dari Majapahit.

Pembahasan buku ini masih dipertanyakan. Sebab dalam beberapa catatan sejarah Indonesia belum ditemukan sumber asli tentang asal-usul warna merah putih yang ternyata lebih tua usianya dari kerajaan Majapahit.

Sebab sejarah mencatat warna merah putih dari pengertian makna filosofi bangsa yang suci dan berani. Artinya tidak ada hubungan pemilihan warna bendera Indonesia yang berasal dari narasi sejarah dalam tulisan Yamin.

Mohammad Yamin: Sejarawan Kontroversial

Hingga akhir hayatnya, Mohammad Yamin penemu raut wajah asli Mahapatih Gadjah Mada ini dianggap kalangan arkeolog sebagai sejarawan kontroversial.

Sejarawan yang berasal dari jurusan ilmu hukum ini dianggap telah mengkontaminasi narasi sejarah kejayaan Majapahit dengan memunculkan figur Gadjah Mada yang belum pasti benar.

Baca Juga: Profil Bing Slamet, Komedian dan Agitator Revolusi Zaman Jepang

Sebab sejarah kejayaan Majapahit yang telah beratus-ratus abad lamanya itu berhasil dipecahkan oleh Moh. Yamin dengan mudah. Yamin hanya bertumpu pada sumber sejarah apa adanya.

Ia tidak mengkritisi terlebih dahulu sumber tersebut. Padahal metode penelitian sejarah telah menetapkan bahwa kritik sumber secara ekstern dan intern berlaku mutlak sebelum memutuskan kebenaran dalam sejarah.

Yamin dianggap tidak melakukan metode penelitian sejarah dengan baik. Oleh karena itu para sejarawan menyayangkan narasi Yamin yang belum tervalidasi ini sudah berserakan dalam pelajaran-pelajaran sejarah di sekolah.

Akibatnya seluruh siswa dari tahun 1945-sekarang mengenal figur Mahapatih Gadjah Mada seperti raut muka artefak dari Moh. Yamin.

Namun terlepas dari kontroversial Mohammad Yamin sebagai profil sejarawan, tulisan-tulisan beliau telah memberikan dampak yang positif bagi generasi bangsa saat ini.

Moh. Yamin telah menyumbangkan seluruh gagasan kesejarahannya untuk membangun jiwa nasionalisme generasi penerus. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)