Kamis, Desember 1, 2022
BerandaBerita TerbaruProfil WS Rendra, Penyair Tiga Zaman yang Legendaris

Profil WS Rendra, Penyair Tiga Zaman yang Legendaris

Profil WS Rendra terkenal karena kiprahnya dalam dunia kepenyairan tercatat pada tiga zaman sejarah Indonesia. Namanya terkenal sebagai penyair legendaris. Bahkan sebagian orang yang mengagumi WS Rendra memberinya gelar Penyair Si Burung Merak.

Pemberian gelar tersebut merepresentasikan Rendra sebagai penyair sukses mengubah puisi-puisinya menjadi karya panggung yang fenomenal. Kesuksesan Rendra di dunia kepenyairan nampaknya mengundang banyak perhatian berbagai penguasa.

Mereka merasa terganggu dengan penampilan Rendra di panggung-panggung kesusasteraan. Sebab tak jarang karya Si Penyair Burung Merak ini menyinggung kemewahan birokrasi yang justru berlawanan dengan keadaan rakyatnya.

Baca Juga: Profil Friedrich Silaban, Arsitek yang Bangun Monas dan Masjid Istiqlal

Puisi-puisi Renda berubah menjadi peluru bagi para penguasa di negeri ini. Maka dari itu tak jarang namanya menjadi buronan akibat tuduhan sebagai pemuda yang memberontak.

Rendra merupakan figur sastrawan sekaligus penyair sejati yang idealis. Sebab meskipun hidup di tiga zaman (Orde Lama, Orde Baru, Reformasi) tak membuat Rendra minim produktivitas. Apalagi membisukan diri tanpa mengkritik para penguasa.

Sejarah Indonesia mencatat namanya pernah ditahan di dua jaman yang represif (Orde Lama, dan Orde Baru). Bahkan pemenjaraan Rendra pada masa Orde Lama terekam oleh media massa Belanda.

Faktor apakah yang membuat Rendra tumbuh menjadi penyair realis? Inilah kisah hidup Si Penyair Burung Merak.

Profil WS Rendra, Tumbuh Dewasa di Lingkungan Keraton Surakarta

Menurut Harlina Indijati dan A Murad dalam buku berjudul,”Biografi Pengarang Rendra dan Karyanya” (1996), WS Rendra lahir dan bertumbuh dewasa di lingkungan Keraton Surakarta, pada tanggal 7 November 1935.

Sejak kecil Rendra yang sering bermain di halaman Keraton Kasunanan Surakarta gemar membaca buku. Adapun kegemaran Rendra membaca buku ternyata turun dari kebiasaan sang ayah.

Ayah Rendra bernama Raden Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo merupakan seorang guru. Jabatan terakhirnya sebagai Kepala Sekolah SD Negeri Kebalen, Solo, Jawa Tengah.

Sebagai seorang guru, tentu Brotoatmodjo sapaan akrab ayah Rendra, menginginkan anak yang pandai. Maka langkah awal mendidik anak-anaknya dengan melatih mereka gemar membaca buku.

Alhasil Rendra merupakan salah satu anak yang berhasil dididik menjadi kutu buku. Ibunya bernama Raden Ayu Catharina Ismadillah menyaksikan sendiri anak lelaki tangguhnya itu hobi membaca buku-buku sastra sejak usia delapan tahun.

Jiwa kesenian Rendra yang tinggi juga rupanya tercurah dari sang ibu yang saat itu merupakan pensiunan penari kenamaan di Keraton Yogyakarta Hadiningrat. Ibunya memang mendidik Rendra menjadi pribadi yang berbudi luhur dan memperhatikan kesenian.

Baca Juga: Riwayat Hidup Didi Petet, Aktor yang Asalnya Pemain Pantomim

Oleh sebab itu, WS Rendra berhasil tumbuh menjadi dewasa yang diharapkan kedua orang tua. Meskipun demikian dalam sejarah kehidupan Rendra tidak dekat dengan sosok ayah.

Barangkali sikap yang kurang patut dicontoh dari Rendra ini merupakan simbol perlawanan hirarkis terkecil dalam kehidupan. Hal ini terjadi ketika Rendra di usia 14 tahun kabur dan tidak betah di rumah akibat sering konflik dengan ayahnya.

Penyair Tiga Zaman yang Legendaris

Meskipun dikenal sebagai anak bandel, WS Rendra remaja sukses tumbuh menjadi dewasa yang mujur. Sebab setelah lulus kuliah di UGM, profil WS Rendra masuk dalam daftar calon Mahasiswa penerima beasiswa belajar ke Amerika Serikat.

Rendra mengaku selama dua tahun waktunya dihabiskan untuk mempelajari perkuliahan Dramaturgi di kampus ternama dunia, Harvard University, (1964).

Selama di Amerika Serikat seluruh budaya Jawa Rendra berubah menjadi orang Barat. Dari mulai cara makan, rutinitas kehidupan, apalagi budaya berbicara: dua tahun penuh Rendra menggunakan bahasa Inggris aksen Amerika.

Oleh sebab itu ketika pulang ke Indonesia, Rendra terkenal menjadi sastrawan yang fasih berbahasa Inggris.

Sepulangnya Rendra dari Amerika, dan belajar Dramaturgi di Harvard University, namanya tercatat sebagai penyair yang produktif di tiga jaman. Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi.

Rendra terkenal aktif menulis puisi, dan mengubah hasil penulisannya dalam bentuk drama atau teater sejak era Orde Lama. Karena jiwa realisme Rendra dalam berkesenian membuat namanya hampir kena represifitas rezim Sukarno.

Hal ini sebagaimana tergambar dalam koran berbahasa Belanda NRC: Handelsblad, dengan tajuk ”De een is voorbestend tot Olifant, de ander tot Grasspriet” tanggal 7 Desember 1990.

Lain halnya pada zaman Orde Lama yang hampir kena damprat Sukarno, pada era pemerintahan Suharto (Orde Baru) Rendra betul-betul kena getahnya.

Sebab pada zaman Orde Baru produktifitas Rendra dalam berkesenian berbuah pemenjaraan. Pasalnya Rendra pernah dikriminalisasi dan dituduh sebagai pemberontak pasca membacakan puisi berjudul”Pertemuan Mahasiswa” (1977).

Pembacaan puisi tersebut dianggap pemerintah saat itu sebagai bentuk hasutan. Orde Baru sangat alergi dengan kritik, oleh sebab itu puisi Rendra yang dianggap mengagitasi massa dituduh telah mengganggu stabilitas Nasional.

Rendra Penyair yang Idealis

Meskipun sudah pernah berada di penjara WS Rendra tak surut mengobarkan api semangat untuk menerangi kebenaran dalam kehidupan. Oleh karena itu sebagian kritikus sastra menganugerahi Rendra gelar penyair yang idealis.

Adapun salah satu bentuk idealis Rendra dalam berkesenian tercermin dari pendapatnya tentang bagaimana seniman harus tumbuh. Rendra menegaskan, seniman harus peka terhadap seluruh getaran kehidupan.

Baca Juga: Seniman pada Era Revolusi Fisik, Pasukan Perang yang Nyentrik

Seniman merupakan aktor pertama yang mampu memobilisasi dan mengontrol penguasa. Karena seniman negara bisa berjalan dengan semestinya, bahkan seniman berkewajiban memerangi keserakahan pejabat dari tindak pidana korupsi.

Rendra juga kerap menyoroti soal bobroknya kualitas pendidikan bangsa. Oleh karena itu banyak generasi pemuda yang sulit mendapatkan pekerjaan.

Salah satu representasi dari idealisme Rendra tentang hal ini tertera dalam sajak terkenalnya berjudul ”Seonggok Jagung”. Dalam sajak ini Rendra menggambarkan bagaimana krisis pendidikan dan sulitnya mencari pekerjaan menjadi persoalan utama negeri ini yang harus segera selesai.

Menurut sebagian teman kerja Rendra dan komunitas teaternya menyebut Penyair Si Burung Merak tinggi Idealisme akibat paham berkesenian yang Realis.

Rendra sangat menjunjung tinggi nilai-nilai realisme dalam berkesenian. Oleh sebab itu sajak-sajak Renda sangat anti dan jauh dari unsur naturalis. Tidak ada keindahan kata dalam sajak Rendra, akan tetapi banyak makna mengandung unsur filosopis yang kuat. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)