Kamis, Februari 2, 2023
BerandaBerita TerbaruRiwayat Hidup Didi Petet, Aktor yang Asalnya Pemain Pantomim

Riwayat Hidup Didi Petet, Aktor yang Asalnya Pemain Pantomim

Riwayat hidup Didi Petet yang pernah melegenda pada tahun 1980-an. Namanya bercahaya di tengah pergaulan anak muda Jakarta yang menyukai Teater.

Didi Petet terkenal sebagai pemain Teater Pantomim yang berprestasi. Karirnya berteater ini diawali sejak Ia mendirikan grup Teater Pantomim bernama “Sena Didi Mime”.

Adegan pantomim yang ditampilkan didi bersama kawan-kawannya dalam grup ini berhasil merebut perhatian penonton. Hal ini membuat Didi percaya diri dan menjalani kehidupan berteater dengan sepenuh hati.

Mendiang Didi Petet pernah mengatakan bahwa Pantomim merupakan dasar pengetahuan dalam seni berteater.

Baca Juga: Riwayat Hidup Buya Hamka, Profil Ulama yang Serba Bisa

Artinya calon pemain Teater perlu dibekali ilmu Pantomim supaya ketika manggung tidak gugup, apalagi tidak percaya diri.

Didi bersikukuh untuk mendorong seluruh pemain teater belajar mime. Sebab dengan Pantomime semua pemain teater akan tumbuh ”matang” dan siap ”dipetik” menjadi seorang aktor yang profesional.

Hal ini sudah dibuktikan oleh Didi sendiri. Ia menganggap karir hebatnya sebagai seorang aktor yang profesional tidak lepas dari peran Teater Pantomim dalam grup ”Sena Didi Mime”.

Inilah Riwayat Hidup Didi Petet

Pria berpenampilan nyentrik yang kerap dikenal dengan pemeran Kang Bahar ini memiliki nama asli, Didi Widiatmoko.

Didi lahir di Surabaya, Jawa Timur pada tanggal 12 Juli 1956. Sejak usia remaja ayah dua anak ini sudah tertarik dengan dunia kesenian. Terutama seni pertunjukan modern seperti Teater.

Karena kegemarannya berteater, Didi Petet juga kerap memproduksi tulisan lakon yang kemudian diterbitkan menjadi pertunjukan teater. 

Ia mengaku kehidupannya berteater tidak lepas dari kecintaannya terhadap dunia sastra. Sebab sejak kecil Didi sudah membaca karya sastra yang berkaitan dengan skenario berteater.

Pada tahun 1985 nama Didi Petet mulai memasuki masa rintisan sebagai seorang Aktor Profesional. Sebab pada tahun tersebut Didi untuk pertama kalinya membintangi film berjudul ”Semua Karena Ginah” (1985).

Film pertama Didi Petet pun direspon hebat oleh anak muda metropolitan. Seluruh bioskop di Ibukota penuh, sementara karcis film yang dibintangi Didi tak tersisa, dan laris terjual.

Karena Film Didi yang sukses ini, akhirnya mengundang daya tarik banyak para produsen film mempekerjakan Didi menjadi aktor dalam proyek film-film roman semi-komedi berjudul ”Catatan Si Boy” pada tahun (1987).

Dalam film ini Didi memerankan lakon Emon. Seorang remaja pria yang bergaya kemayu. Akting kemayu ini membuat banyak penonton tertarik.

Kisah roman berbalut komedi ini dirilis, karir Didi Petet semakin memuncak dalam industri film Indonesia.

Baca Juga: Profil Pelawak Ateng, Komedian Keturunan Tionghoa Pertama di Indonesia

Didi termasuk aktor yang produktif, maka dari itu banyak para produser yang menganggap pemeran Emon ini sebagai Aktor Nasional yang berintegritas. 

Ketenaran Didi Petet Berangkat dari Dunia Teater

Ketenaran Didi Petet sebagai Aktor Nasional rupanya tidak terlepas dari peran Teater.

Dengan kata lain ketenaran Didi Petet sebagai pemain film berangkat dari dunia Teater ketika Ia masih menjadi Mahasiswa.

Menurut Nur Iswantoro dan Sunaryo dalam Jurnal Tari, Teater, dan Wayang berjudul, ”Pantomime di Indonesia: Sebuah Metode Pendidikan” (Vol. 2, No. 1 2019), nama grup Teater Didi Petet yakni, ”Sena Didi Mime”.

Dalam grup Teater ini Didi bersama kawan seperjuangannya sangat produktif membuat pertunjukan.

Adapun nama-nama pertunjukan yang pernah dibuat mereka antara lain yaitu: Tong Sampah, Kampanye, Tukang Sapu Jalan, Jobles, Penari, Orang Buta, Petrus, Konsert, Martabak, dan Tarzan.

Sebagian Teater yang dimainkan oleh Didi Petet bersama kawan-kawan lainnya bersifat Pantomim. Sebab Pantomim merupakan salah satu ciri khusus yang ditampilkan oleh Grup Teater Pantomim: “Sena Didi Mime”.

Menurut Didi Petet seni pertunjukan Teater Pantomim merupakan media olah jiwa untuk melatih prestasi keaktoran para pemain Teater.

Didi sendiri percaya apabila para Aktor ini dilatih oleh pergaulan Teater, setidaknya ketika Ia memerankan sebuah peran dalam produksi film tidak akan gugup dan tidak percaya diri.

Dengan melatih diri menggunakan Teater, para pemain film akan menjiwai karakter secara matang. Sebab mereka sudah terbiasa dengan pengalamannya dalam bermain Teater.

Semua perkataan ini keluar dari pengalaman Didi sendiri. Pria berkacamata bulat ini mengaku jika kepiawaiannya memainkan karakter karena Teater adalah penyebab utama ketenarannya sebagai publik figur.

Prestasi Didi Petet dalam Film Catatan Si Boy (1988)

Film yang laris akibat dibintangi oleh Didi Petet berjudul Catatan Si Boy (1988), merupakan karya pertama Didi yang mendapatkan penghargaan bergengsi di Bandung.

Karena karakternya yang memerankan Emon, Didi Petet dianugerahi Pemeran Utama Pria Terpuji Film Bioskop oleh Juri Festival Film Bandung (1988).

Panitia Juri Festival Film Bandung (1988) menilai Didi Petet merupakan Aktor yang berprestasi karena memainkan karakter yang jarang dilakoni oleh Aktor lain.

Karakter Emon dianggap sebagai lakon yang menentang. Karakter ini memerankan seorang pria yang kemayu layaknya perempuan. Pada tahun 1988 peran pria kemayu seperti Emon merupakan karakter yang sulit diperankan.

Baca Juga: Profil Kasino Warkop, Lucu dan Pintar Matematika

Harus ada olah rasa dan jiwa. Tidak mudah membuat maskulinitas pria bisa mendadak berubah kemayu layaknya wanita tanpa latihan rutin terlebih dahulu.

Karena Didi Petet sudah terbiasa bermain-main dengan ragam karakter dalam Teater Pantomim, maka peran sebagai Emon bukan lah hal yang sulit baginya.

Oleh sebab itu para Juri Festival Film Bandung (1988) menilai ini sebagai salah satu prestasi unggul yang dimiliki oleh Didi Petet.

Sehingga berdasarkan kesepakatan Juri bersama mereka menganugerahkan penghargaan Aktor terbaik untuknya.

Selain dianggap berprestasi karena film Catatan Si Boy (1988), Didi Petet juga pernah diberikan penghargaan yang sama karena film Si Kabayan Saba Kota (1989).

Film ini memenangkan penghargaan terbaik sepanjang catatan Festival Film Nasional berdiri. Film yang mewakili kehidupan sederhana orang Sunda ini dinilai telah mewakili Juri menemukan identitas lokal dalam karyanya.

Didi Petet Meninggal pada 15 Mei 2015 akibat penyakit Asam Lambung yang sudah lama dideritanya. Karya terakhir yang jadi bagian riwayat hidup Didi Petet sampai hari ini masih terkenang oleh masyarakat sebagai prestasi anak bangsa. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)