Jumat, Januari 27, 2023
BerandaBerita TerbaruSejarah Batalyon Jago, Penumpas Gerombolan DI/TII di Kota Banjar

Sejarah Batalyon Jago, Penumpas Gerombolan DI/TII di Kota Banjar

Jarang ada yang mengetahui sejarah tentang satuan militer bernama Bataljon Djago (Batalyon Jago) di Kota Banjar, Jawa Barat.

Padahal dalam catatan sejarah Indonesia Batalyon Jago merupakan satuan militer yang berperan penting dalam penumpasan Gerombolan DI/TII di Kota Banjar tahun 1953.

Selain berjuang untuk mempertahankan kedaulatan masyarakat Banjar, Batalyon Jago juga membantu beberapa daerah di wilayah Priangan Timur. Batalyon Jago membantu menumpas pemberontakan Gerombolan DI/TII.

Adapun daerah berikut terdiri dari, Padaherang, Pangandaran, dan Parigi. Satuan militer berisi enam kompi ini meluncur menuju tiga daerah tersebut untuk mengusir gangguan Gerombolan DI/TII.

Karena keputusannya yang tanggap, Batalyon Jago kemudian masuk dalam daftar satuan militer yang dihormati oleh pemerintah pusat di Jakarta.

Baca Juga: Sejarah Pembunuhan Tionghoa di Pangandaran, 21 Orang Dikubur di Lubang Dangkal

Akibatnya pemerintah melalui Dinas Kepedulian Sosial membantu beberapa logistik keperluan untuk menolong korban terluka karena diserang oleh Gerombolan DI/TII berupa obat-obatan, makanan, dan akomodasi sementara pengungsian (tenda) yang dikawal ketat oleh tentara.

Selain Dinas Kepedulian Sosial, pemerintah pusat juga menggerakkan Palang Merah Indonesia untuk membantu pengobatan secara medis pada korban yang kritis dan membutuhkan perawatan intensif.

Semua bantuan ini datang karena peran Komandan Batalyon Jago bernama Letnan Effendi. Pernyataan ini sebagaimana mengutip koran berbahasa Belanda De Preangerbode bertajuk De Statuatie in Bandjar: Batalyon Jago heeft Gen Zware Taak, tanggal 14 Agustus 1953.

Berikut ini akan kita bahas kiprah Batalyon Jago dalam menumpas Gerombolan DI/TII di Banjar dan sekitar Priangan Timur pada tahun 1953.

Sejarah Batalyon Jago Menumpas Pemberontakan Gerombolan DI/TII di Banjar

Menurut Indische Courant voor Nederland tanggal 15 April 1953, sejak awal bulan April tahun 1953 Gerombolan DI/TII sudah berada di daerah Banjar. Gerombolan memaksa warga desa untuk menyerahkan persediaan logistik untuk mereka.

Kurang lebih ada 200 orang yang menenteng senjata api laras panjang. Senjata api ini lengkap dengan peluru aktif yang disorenkannya di setiap badan personil Gerombolan.

Selain memaksa untuk menyerahkan persediaan logistik masyarakat di pedesaan Banjar, para Gerombolan DI/TII ini juga nekat melakukan sabotase Kereta Api jurusan Banjar-Maos. Tujuannya untuk menjarah barang berharga para penumpang.

Karena situasi yang mengintimidasi seluruh awak Kereta Api, akhirnya masinis meluncurkan tanda darurat ke kantor Stasiun Banjar.

Tak lama kemudian signal ini diterima oleh petugas Kereta Api disana dan bantuan segera meluncur ke tempat kejadian. Bantuan ini mengajak satu Batalyon Jago lengkap dengan senjata dan siap menumpas para gerombolan.

Baca Juga: Sejarah Sabotase Kereta Api Maos-Banjar: Masinis Diculik, Penumpang Panik

Sesampainya di lokasi Batalyon Jago pun melakukan kontak senjata dengan para Gerombolan DI/TII. Karena para Gerombolan merasa kalah jumlah akhirnya mereka tersudut dan meloloskan diri.

Semua penumpang selamat, namun nahas sang masinis diculik dan tak kembali. Besar kemungkinan sang masinis gugur terbunuh oleh para Gerombolan.

Sebab peristiwa penculikan yang disertai dengan pembunuhan juga kerap dilakukan oleh para Gerombolan DI/TII, sebagaimana terjadi di daerah Cintaratu, dan Pananjung, Pangandaran.

Memberikan Pasukan Bantuan ke Pangandaran

Setelah menyelesaikan Gerombolan di Banjar, tercatat dalam sejarah, Batalyon Jago kemudian memberikan pasukan bantuan ke daerah Pangandaran.

Di Pangandaran banyak korban yang berjatuhan akibat ulah Gerombolan DI/TII. Sebut saja di Cintaratu, karena mempertahankan masyarakat dari kesewenang-wenangan Gerombolan, Kepala Desa Cinta Ratu bernama Supatawidjaya dibunuh dengan cara yang keji.

Peristiwa ini sesuai dengan berita di koran Belanda Javabode- Nieuws handel en Advertentie Nederlandsc-Indie, tanggal 7 Agustus 1953.

Selain di Cintaratu, juga terdapat dua petugas keamanan desa yang terbunuh Gerombolan di daerah Pananjung.

Menurut De Nieuwsgier bertajuk Moord, tanggal 07 Agustus 1953, karena Gerombolan tersinggung oleh dua orang keamanan desa di pesisir Pangandaran, berakibat 14 rumah dibakar dan dua opsir desa Pananjung terbunuh di tempat.

Karena tidak ingin banyak korban jiwa yang meluas, akhirnya Batalyon Jago dari Banjar datang ke Pangandaran. Satuan militer ini bergegas membantu pengamanan untuk warga terdampak dengan cara mendirikan tenda-tenda patroli di setiap pintu masuk desa.

Namun tak lama setelah Pangandaran dinyatakan aman, Gerombolan DI/TII meneror daerah Ciamis. Informasi ini sebagaimana disampaikan oleh koran Javabode: Tereeur in Tjiamis, tanggal 07 Agustus 1953.

Batalyon Jago Memperketat Perbatasan Banjar-Ciamis

Sejarah kemudian mencatat, teror di Ciamis membuat Batalyon Jago kembali ke Banjar. Satuan Militer pimpinan Letnan Effendi ini memperketat perbatasan antara Banjar dan Ciamis.

Masyarakat diberikan tempat pengungsian sementara untuk menghindari kemungkinan Gerombolan datang ke Ciamis dari arah Selatan Pangandaran.

Baca Juga: Ciamis Lautan Api, Upaya Menahan Laju Agresi Militer Belanda I

Namun setelah berhari-hari Ciamis-Banjar bersiaga, Gerombolan DI/TII tidak juga datang. Ternyata teror itu gagal karena para Gerombolan sudah tahu bahwa Batalyon Jago sudah mengendus taktik mereka dalam menguasai pedesaan Ciamis.

Alhasil Batalyon Jago kini fokus memperbaiki mental masyarakat Banjar-Pangandaran yang terdampak peristiwa ini.

Peristiwa ini menimbulkan dampak yang begitu fatal. Selain banyak masyarakat yang trauma, sebagian besar masyarakat lain kehilangan rumah.

Akhirnya Batalyon Jago bersama Dinas Kepedulian Sosial, dan Palang Merah Indonesia (PMI) memberikan obat-obatan dan pendampingan khusus kepada korban yang traumatis.

Selain itu, mereka juga memberikan bantuan alokasi tempat sementara berupa tenda pengungsian. Jadi bagi korban Gerombolan DI/TII yang rumahnya ludes terbakar untuk sementara waktu bisa tinggal di sini.

Hingga saat ini peristiwa Gerombolan DI/TII menjadi kenangan buruk generasi tahun 1950-an. Bagi mereka yang masih ada kemungkinan besar masih trauma menceritakan peristiwa kelam ini. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)