Minggu, Desember 4, 2022
BerandaBerita TerbaruSejarah Gedung Lawang Sewu, Ornamen Bangunan Simbol Kemakmuran Jawa

Sejarah Gedung Lawang Sewu, Ornamen Bangunan Simbol Kemakmuran Jawa

Sejarah Gedung Lawang Sewu merupakan bangunan zaman Belanda bekas Kantor Dinas Kereta Api Swasta (NISM).

Sejak awal dibangun sampai selesai, dan diresmikan menjadi kantor NISM, gedung Lawang Sewu dikenal sebagai bangunan megah yang menyimpan banyak kisah misteri di dalamnya.

Kendati pun demikian, menurut berbagai kesaksian ahli sejarah, dan arsitektur bangunan kuno di Indonesia menyebut gedung Lawang Sewu punya keunikan tersendiri.

Baca Juga: Sejarah Taman Mini Indonesia Indah, Mega Proyek Tien Soeharto

Salah satu keunikannya adalah gedung bersejarah ini menyimpan simbol kemakmuran pulau Jawa. Simbol tersebut tercermin dari ornamen-ornamen bangunan yang melengkapi kokoh berdirinya gedung Lawang Sewu hingga saat ini.

Saat ini gedung bersejarah Lawang Sewu dikelola oleh PT. Kereta Api Indonesia (KAI) Persero. Meskipun dikelola dan difungsikan menjadi Museum di Semarang, Jawa Tengah, banyak orang yang belum mengetahui sejarah lengkap dari Lawang Sewu.

Pada kesempatan kali ini penulis bermaksud untuk menjelaskan sejarah, dan simbol unik dari ornamen-ornamen kuno dalam pembangunan gedung Lawang Sewu.

Sejarah Gedung Lawang Sewu: Awal Pembangunan Kantor Kereta Api di Semarang

Gedung Lawang Sewu pertama kali digagas oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda di Semarang, Jawa Tengah pada tanggal 27 Februari 1904.

Pembangunan gedung Lawang Sewu pada tahun itu bertujuan untuk mendirikan sebuah kantor urusan transportasi umum (kereta) bernama Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij atau NISM.

Bangunan ini berdiri di atas tanah seluas 18.232 meter perkubik. Tanah kosong ini terletak di pusat kota Semarang dan baru selesai dibangun menjadi gedung Lawang Sewu “Bangunan Pertama” pada Juli 1907.

Karena pemerintah membutuhkan bangunan yang lebih luas untuk mengurus administrasi Kereta Api, akhirnya pembangunan ruang tambahan kantor diresmikan dari tahun 1916-1918.

Catatan sejarah kolonial menyebut arsitektur pembangun gedung Lawang Sewu bernama, Prof. Jacob F. Klinkhamer, dan B.J. Ouendag. Mereka berdua merupakan arsitek kenamaan dari Amsterdam Belanda.

Setiap bangunan yang dirancang oleh kedua arsitek senior itu, biasanya selalu mengedepankan gaya arsitektur khas bangunan-bangunan Amsterdam dengan lengkung klasik dan pernak-pernik unik yang terbuat dari tembaga dan perunggu.

Ornamen Bangunan Menyimbolkan Kemakmuran Alam di Jawa

Meskipun Prof. Jacob F. Klinkhamer, dan B.J. Ouendag membangun gedung Lawang Sewu sama dengan kantor-kantor di Amsterdam, rupanya ada sedikit bentuk yang sesuai dengan kekagumannya pada kekayaan alam di Jawa.

Baca Juga: Sejarah Gedung Bappenas, Tempat Mengadili Gembong PKI

Menurut Amirul Farras Abyyusa dalam Jurnal Riset Arsitektur (RISA) Vol. 3, No. (2) April 2019 berjudul, ”Lawang Sewu’s Monumentality Architecture”, ornamen bangunan yang menyimbolkan kemakmuran alam Jawa terletak pada beberapa material di dalamnya.

Salah satunya ada pada ornamen kaca patri yang dibuat oleh pemilik industri kaca di Belanda bernama, Johannes Lourens Schouten.

Dalam gambar yang tertera pada kaca, Johannes Lourens S juga tidak hanya mempersembahkan kekaguman arsitek pada Jawa. Akan tetapi Johannes sebagai penjajah mengedepankan simbol legitimasi di dalamnya.

Johannes memberikan simbol orang Eropa yang sedang berdiri berpasangan. Menurut pembuat kacanya sendiri, gambar ini menyimbolkan kekuasaan Belanda di Jawa mencakup, lautan, dan daratan.

Adapun kejayaan Belanda di daratan ini tercermin dari penggunaan Kereta Api sebagai transportasi umum yang sangat berguna. Sebab tidak hanya digunakan untuk mendistribusikan barang, Kereta Api ini juga digunakan untuk mengantar penumpang.

Selain simbolisasi yang kentara dalam kaca patri, ornamen unik dan menarik lain di gedung Lawang Sewu juga terletak pada penggunaan perunggu dan tembaga di atap bangunan gedung yang mengerucut.

Simbol penggunaan tembaga dan perunggu pada atap ini adalah lambang kemakmuran Belanda di tanah jajahan. Karena dua elemen penting ini, mereka bisa membangun jalur transportasi modern Kereta Api jalur Semarang-Batavia.

Menjadi Kantor Dinas Pemerintahan di Tiga Zaman yang Berbeda

Pasca pemerintah kolonial Hindia Belanda mundur dari Semarang akibat kalah dalam Perang Dunia II, tanah dan gedung Lawang Sewu kemudian diambil alih oleh pendudukan Jepang (1942-1945).

Pada zaman Jepang gedung Lawang Sewu dijadikan sebagai Kantor Dinas Urusan Transportasi Umum bernama, Riyuku Sakyoku. Pada zaman ini segala urusan transportasi kereta api digunakan untuk keperluan distribusi perang.

Setelah Jepang mundur dan Indonesia Merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, gedung Lawang Sewu kosong. Tidak ada yang mengambil alih kantor ini hingga tahun 1946. Sejak saat itu gedung Lawang Sewu diakuisisi kembali oleh Belanda melalui Sekutu.

Baca Juga: Sejarah Stadion Gelora Bung Karno, Pernah Jadi Lokasi HUT PKI

Ketika diambil alih Sekutu, gedung Lawang Sewu dijadikan sebagai markas tentara NICA (Nederlands Indie Civil Administrations). Hal ini menyebabkan banyak masyarakat Semarang geram, akibat mereka tidak menginginkan Belanda bercokol kembali di sana.

Pertempuran pun terjadi di mana-mana, salah satunya adalah pertempuran di Ambarawa. Banyak tentara Sekutu yang terluka dan dirawat di gedung tua tersebut. Mereka bahkan ada yang sampai meninggal dunia.

Barangkali dari peristiwa ini banyak narasi mistis yang menyelimuti sejarah Gedung Lawang Sewu.

Lalu ketika pertempuran dengan Sekutu usai, gedung Lawang Sewu diambil alih oleh pemerintah Indonesia. Saat itu dijadikan sebagai Markas Kodam IV Diponegoro. Izin kantor ini lumayan lama dari tahun 1949-1994.

Baru ketika tahun 1994-2009 bangunan bersejarah ini kembali pada PT. KAI (Persero), dan sejak 5 Juli 2001 ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya kelas A. Prioritas bangunan bersejarah yang dilindungi undang-undang. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)