Selasa, November 29, 2022
BerandaBerita TerbaruSejarah Hari Guru Nasional dan Kisah Lahirnya PGRI Pasca PD II

Sejarah Hari Guru Nasional dan Kisah Lahirnya PGRI Pasca PD II

Untuk melihat sejarah awal peringatan Hari Guru Nasional, kita bisa melongok ke narasi sejarah pada zaman Belanda.

Tanggal 25 November yang saat ini diperingati sebagai Hari Guru Nasional adalah juga tanggal berdirinya perkumpulan Guru yang saat ini dikenal dengan nama PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia).

Sejarah Hari Guru Nasional dan Perkumpulan Guru Tahun 1851

Jauh sebelum PGRI terbentuk, pendidik kolonial berinisiatif mendirikan Perkumpulan Guru pada tahun 1851 di Surakarta, Jawa Tengah.

Saat itu para Guru Belanda mendirikan sekolah untuk orang-orang Eropa. Sekolah ini merupakan lembaga pendidikan pertama yang berdiri di Hindia Belanda.

Namun sejarah ini hilang akibat penulisan sejarah Indonesia pasca Perang Dunia II alergi dengan aliran penulisan sejarah Nerlandosentrisme. Akibatnya tak ada sedikit sumber sejarah yang mengetahui letak sekolah ini lebih jauh lagi.

Baca Juga: Sejarah Kantor Pos Indonesia, Administrasi Persuratan Belanda Abad 17

Kendati demikian sekolah yang kala itu dibangun oleh pemerintah Kolonial hanya disediakan untuk golongan kulit putih Eropa. Sebagian rakyat pribumi boleh ikut asalkan mereka masih keturunan priyayi, ningrat, atau keluarga Feodalis (Kerajaan).

Para pribumi keturunan kaum Feodalis biasanya diutamakan oleh pengurus sekolah Belanda. Sebab anak-anak dari keluarga Kerajaan memiliki kedekatan khusus dengan pemerintah Hindia Belanda sehingga kedudukannya sama penting dengan anak-anak Eropa pada umumnya.

Politik Etis Mengubah Sistem Sekolah yang Diskriminatif

Perubahan sekolah yang diskriminatif ini kemudian berubah menjelang tahun 1901. Regulasi peraturan sebelumnya dimodifikasi seiring dengan ketetapan Politik Etis yang memberikan hak pada pribumi untuk ikut menikmati Irigasi, Transmigrasi, dan Edukasi.

Maka sejak saat itu sistem pendidikan mulai diberlakukan untuk kelas paling rendah pribumi yang kemudian disebut dengan istilah Inlanders.

Namun meskipun bertujuan menghilangkan kelas sosial dalam sistem pendidikan Belanda, Lembaga-lembaga sekolah orang Eropa masih menjalankan praktik diskriminatif.

Orang pribumi sepintar apapun dipisahkan dan dibedakan sekolahnya. Sekalipun ada anak Eropa yang bodoh, maka anak pribumi yang pintar pun tidak boleh satu ruangan belajar di kelas yang sama.

Hal ini yang kemudian membuat para generasi guru dari pribumi geram. Mereka ingin menciptakan sekolah yang rata, tidak ada kasta sosial yang memperlakukan anak-anak pribumi dengan diskriminatif.

Baca Juga: Profil Artidjo Alkostar, Hakim Agung yang Ditakuti Para Koruptor

Maka sejak tahun 1912 mereka membentuk Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHI). Namun seiring dengan pengetahuan kebangsaan yang luas, pada tahun 1932 mereka yang ada di (PGHI) sepakat merubah nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI).

Momentum Pembentukan PGRI Pasca Perang Dunia II

Ketika PGI diresmikan pada tahun 1932, satu dekade setelah itu Persatuan Guru Indonesia tersebut bubar akibat Perang Dunia II. Jepang sebagai negara penjajah yang baru datang pada tahun 1942, mereka represif dan membubarkan seluruh organisasi perkumpulan di Indonesia warisan Belanda.

PGI berantakan seluruh anggotanya tercerai berai, ada yang masuk dalam Pusat Tenaga Rakyat, dan Poesat Kebudajaan Nippon. Bahkan Jepang menjadikan Guru dan muridnya sebagai media propaganda perang mendukung Nippon menang.

Namun pada kenyataannya Jepang salah. Negeri matahari terbit ini kalah dalam Perang Dunia II. Mereka kemudian meninggalkan Indonesia tatkala Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Setelah peristiwa Proklamasi berkumandang, mantan Anggota PGI berkumpul dan merencanakan pembangunan ulang organisasi Guru di seluruh Indonesia. Peristiwa ini merupakan inisiatif pentolan PGI bernama Amir Singgih, dan R.h. Koesnan.

Undangan pun disebar melalui berbagai media, salah satunya mengumumkan melalui siaran radio. Hasilnya sukses, mereka yang dahulu bergabung dengan PGI berkumpul Surakarta pada tanggal 24-25 November 1945.

Baca Juga: Sejarah Tentara Pelajar, Pasukan Tempur Remaja Intelektual

Hasil pertemuan ini kemudian melahirkan gagasan persatuan seluruh Guru di Indonesia, dengan menyepakati pendirian Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Seluruh anggota yang hadir berjanji untuk memegang teguh sumpah profesi sebagai guru yakni, “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”.

Pemerintah Orde Baru Meresmikan Hari Guru Nasional

Meskipun PGRI sudah disepakati pada tahun 1945, sejarah mencatat pemerintah saat itu belum menetapkan tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional. Sebab keadaan negara masih genting akibat peristiwa Agresi Militer Belanda I dan II yang mengacaukan kedaulatan RI.

Masdar Hilmy dalam buku ”Guru Indonesia dan Kualitas Pendidikan Nasional” (2017), menyebut baru pada jaman Orde Baru Hari Guru Nasional diresmikan menjadi momentum penting yang harus diperingati setiap tanggal 25 November.

Gagasan ini lahir dari Keputusan Presiden No. 78 Tahun 1994. Keputusan tersebut berisi tentang peraturan resmi yang mewajibkan seluruh guru, dan siswa-siswi di Indonesia agar mengikuti upacara peringatan, mengenang pahlawan tanpa tanda jasa.

Melalui Keputusan Presiden (1994) itu juga pemerintah kemudian melahirkan stigma positif untuk guru. Antara lain menjadikan figur guru sebagai orang yang harus dihormati, segala keputusannya harus dipatuhi dan dilarang menjawab apalagi menentangnya sekalipun Guru itu keliru.

Selamat Hari Guru Nasional, semoga pendidik di seluruh Indonesia semakin maju dan tetap menjaga sikap, serta menjunjung tinggi intelektualitasnya untuk masa mendatang. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)