Sabtu, November 26, 2022
BerandaBerita TerbaruSejarah Orang Arab di Pekalongan, Warisi Kuliner dari Olahan Daging

Sejarah Orang Arab di Pekalongan, Warisi Kuliner dari Olahan Daging

Sejarah persebaran orang Arab di Pekalongan bermula pada tahun 1450. Menurut catatan China Abad XIV, fenomena orang Arab bermukim di Pekalongan sudah lama diketahui, tepatnya sejak zaman Dinasti Ming oleh ekspedisi Ceng Ho.

Orang Arab di Pekalongan yang sudah tinggal berabad-abad lamanya kemudian meninggalkan jejak warisan mendalam bagi pribumi di sana. Salah satunya mewariskan struktur sosial masyarakat Islami sehingga daerah ini juga disebut dengan Kota Santri.

Namun banyak orang yang belum mengetahui jika warisan orang Arab untuk masyarakat pribumi di Pekalongan juga terbagi dalam beberapa bidang. Salah satunya persebaran Arab di Pekalongan ternyata mewarisi kuliner olahan daging yang kuat.

Baca Juga: Sejarah Batik Pagi Sore Pekalongan, Siasat Menghemat Pakaian Zaman Jepang

Hampir di setiap sudut kota Pekalongan mesti akan ditemukan warung nasi dengan menu paling laris yaitu kuliner dari olahan daging kambing dan sapi.

Tak jarang masyarakat Pekalongan juga kerap menjual menu khas masakan Arab seperti Nasi Briyani dan daging kambing utuh yang segar.

Orang-orang Arab yang tersebar di Pekalongan telah menurunkan budaya dan tradisi leluhur mereka di Hadramaut yang terasa hingga saat ini.

Golongan Arab di sana juga telah mengajarkan pribumi di Pekalongan menjadi pedagang yang sukses. Salah satunya tercermin dari profesi kebanyakan orang Pekalongan yang berjualan batik. 

Sejarah Awal Persebaran Orang Arab di Pekalongan

Proses masuknya golongan Arab ke Pekalongan tak lepas dari pengaruh Islam yang datang ke Jawa sejak abad ke-13 masehi.

Sebagaimana sumber penjelajah Cina (Cheng Ho) menyebut kedatangan orang-orang Arab ke Pekalongan tahun 1450. Kedatangan mereka tak lama ketika Islam masuk ke pulau Jawa untuk pertama kalinya.

Sedang menurut Abdurrahman Mas’ud, dkk dalam buku berjudul ”Dinamika Pesantren dan Madrasah”, (2002) mengatakan, masuknya Islam dan orang Arab ke Pekalongan seiring dengan munculnya kerajaan Islam seperti, Demak, Cirebon, Banten, dan Mataram di Yogyakarta.

Kemunculan kerajaan Islam tersebut membantu terbukanya pintu lebar kebudayaan Jawa pasca Hindu-Budha untuk orang-orang Islam dari komunitas Arab.

Mas’ud juga mengatakan, kedatangan komunitas Arab di Pekalongan berasal dari hasil diaspora Hadramaut yang ada di Gujarat. Karena terbiasa menjadi bangsa yang berdiaspora akhirnya mengantarkan orang-orang Arab di Gujarat ini ke Nusantara.

Awal mula proses persebaran mereka ke Nusantara untuk berdagang. Orang-orang Arab yang berasal dari Gujarat terkenal sebagai pengepul bahan-bahan pokok perdagangan rempah yang tak kalah hebatnya dengan orang-orang Tionghoa dan Eropa: Belanda.

Baca Juga: Peristiwa Kebon Rojo, Pertempuran Kemerdekaan di Pekalongan

Kehebatan perdagangan orang-orang Arab di Pekalongan kemudian menciptakan pembagian kelas sebagai berikut. Sayyid, golongan Arab terpandang, cucu Nabi Muhammad SAW dari garis keturunan perkawinan keluarganya dengan Ali Bin Abi Thalib.

Kemudian Kaum Syekh, golongan ningrat yang terpelajar (Intelektual Arab). Selanjutnya ada Kaum Qabili, golongan Arab kaya dan biasanya menjadi penguasa. Setelah itu ada Kaum Dha’if, yakni golongan Arab yang biasa-biasa saja. Mereka juga sering tinggal di pinggiran kota, dan desa-desa terpencil (Kabupaten).

Terakhir ada Kaum ‘Abd, yakni golongan Arab yang menjadi budak. Kelas ini merupakan kasta terbawah orang Arab di Pekalongan. Biasanya mereka mengabdi pada kasta Arab dari golongan Kaum Qabili.

Mewarisi Olahan Kuliner Daging yang Kuat

Sejarah persebaran orang Arab di Pekalongan yang berabad-abad telah mewarisi olahan kuliner khas Hadramaut yakni, kuliner daging yang kuat dan lezat.

Hal ini tercermin dari daftar menu kuliner terkenal di Pekalongan yang semuanya terdiri dari bahan baku daging Kambing dan sapi. Salah satunya seperti kuliner olahan Sego Otot. Kuliner ini terbuat dari olahan daging sapi yang diambil dari bagian ototnya.

Selain itu, ada pula nama kuliner populer yang lezat khas Pekalongan bernama Gule Dogdog. Kuliner ini terbuat dari daging kambing yang dihidangkan dengan nasi ketupat khas orang-orang Indonesia tatkala merayakan Hari Raya Idul Fitri (Lebaran).

Sebagian penjual kuliner di Pekalongan pun kerap menjual makanan khas Arab seperti Nasi Briyani dan daging kambing utuh yang segar.

Menurut catatan sejarawan di Indonesia, warisan olahan kuliner daging yang kuat dari komunitas Arab di Pekalongan terjadi akibat ada struktur asimilasi budaya gastronomi yang sukses.

Baca Juga: Sejarah Kecelakaan Pertama di Pekalongan, Satu Keluarga Tewas

Masyarakat Pekalongan mampu menyerap budaya Arab dengan baik. Artinya tidak ada pertentangan budaya lokal terhadap tradisi kuliner Arab yang enak dan lezat.

Barangkali selain karena struktur budaya asimilasi yang lama, makanan khas Arab di Pekalongan diterima dengan baik lantaran cocok dengan lidah pribumi, terutama penduduk lokal Jawa bagian Utara.

Menekuni Profesi Warisan Orang Arab di Pekalongan

Selain mewarisi sejumlah nama kuliner khas Arab yang terbuat dari olahan daging, Komunitas Hadramaut dari Gujarat di Pekalongan juga ternyata memberikan warisan profesi umat Islam sejak zaman Nabi Muhammad SAW yakni, berdagang.

Hampir semua penduduk Pekalongan berprofesi jadi pedagang kain batik. Menurut orang-orang Arab di Pekalongan, profesi jadi pedagang itu sama dengan Sunnatullah. Artinya kita sebagai umat Islam senantiasa meneladani Nabi Muhammad SAW menjadi Pedagang.

Keteladanan ini terjadi lantaran dahulu Nabi Muhammad SAW juga pernah berdagang. Beliau juga sempat mengatakan profesi yang paling menguntungkan adalah Berdagang.

Maka dari itu selain karena warisan orang Arab di Pekalongan, masyarakat pribumi di sana menjadi pengusaha batik akibat ingin meneladani seruan Rasulullah.

Upaya meneladani perintah Nabi Muhammad SAW untuk berdagang, maka keberhasilan pribumi di Pekalongan sebagai pedagang batik pun terbukti. Banyak pengusaha sukses kain batik di sana yang produk jualannya menyebar ke seluruh pelosok negeri.

Kesuksesan para pengusaha batik di Pekalongan juga tercermin dari pemberian nama kota ini dengan istilah Pekalongan Kota Batik. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Diskominfo Kota Banjar