Kamis, Februari 2, 2023
BerandaBerita TerbaruSejarah Perang Kedondong, Rakyat Cirebon Menggempur Belanda

Sejarah Perang Kedondong, Rakyat Cirebon Menggempur Belanda

Sejarah perang Kedondong melibatkan rakyat Cirebon yang melawan pemerintah kolonial Belanda pada pertengahan abad ke-19 masehi. Tragedi berdarah ini merupakan peristiwa yang paling bersejarah di Cirebon sebab menimbulkan revolusi dalam birokrasi kerajaan.

Dalam catatan sejarah Indonesia peristiwa perang Kedondong ini terjadi dua kali di sepanjang abad 19. Perang tahap pertama meletus pada awal tahun 1802-1812. Sedangkan perang tahap kedua terjadi dari tahun 1816-1818.

Adapun salah satu penyebab perang Kedondong yang terjadi dua periode ini akibat kesulitan ekonomi rakyat Cirebon dan tekanan sadis kolonial.

Perlawanan rakyat Cirebon terhadap Belanda ini dikenal dengan sebutan Perang Kedondong lantaran meletusnya perang terjadi di Desa Kedondong, Kecamatan Susukan, Cirebon. Bagaimana sejarah awal mula terjadinya perang Kedondong? Simak penjelasan berikut ini.

Sejarah Awal Mula Terjadinya Perang Kedondong

Edi Roseno dalam penelitian skripsi di Departemen Sejarah, Universitas Indonesia berjudul, ”Perang Kedondong 1818, Suatu Perlawanan Rakyat Cirebon” (1993), menyebut awal mula peperangan ini terjadi karena Belanda mengasingkan pemimpin Cirebon, Pangeran Kanoman ke Ambon.

Rakyat Cirebon tidak memiliki pemimpin yang berasal dari darah keturunan leluhur mereka. Orang-orang Belanda kemudian berkuasa di Cirebon dan menerapkan berbagai peraturan yang terasa memberatkan rakyat Kanoman.

Baca Juga: Sejarah Sultan Sugih: Hamengkubuwono VII, Raja Paling Kaya

Seiring dengan kekosongan kekuasaan di Cirebon akibat pengasingan Pangeran Kanoman ke Ambon, pemerintah kolonial mengambil alih kekuasaan Cirebon.

Namun untuk memperhalus penguasaan ini, pemerintah kolonial menaruh pengganti Pangeran Kanoman yang berasal dari tahta keturunan kerajaan di Cirebon.

Orang-orang Belanda cukup licik, mereka menaruh pemimpin Cirebon yang bisa disetir. Artinya pemerintah kolonial melantik pemimpin baru Cirebon berdasarkan sikap yang lebih loyal dan memihak penjajah (Belanda).

Intrik politik tersebut lambat laun terbuka. Salah satu pentolan prajurit tangguh di Istana Cirebon mengungkap semua permainan licik ini dan menyatakan perang pada Belanda. Adapun aktor dari peristiwa tersebut adalah Sultan Muhammad Syafiuddin.

Beliau bersama kerabat Keraton Kanoman Bernama Pangeran Suryakusuma kemudian mengajak seluruh petinggi daerah di Cirebon untuk berperang melawan Belanda.

Rakyat Cirebon yang sudah benci pada Belanda pun membara, maka sejak tahun 1802-1812 perlawanan rakyat Cirebon terhadap Belanda terjadi pertama kalinya.

Rakyat Cirebon menginginkan kemenangan perang dan mengusir Belanda pulang ke negeri asalnya. Mereka ingin dipimpin oleh raja dan sistem birokrasi berdasarkan tradisi dan nilai-nilai syariat Islam.

Sedangkan Belanda sudah dianggap pemimpin yang Kafir, penyebab kerusakan dunia dan faktor utama kemelaratan bangsa.

Menyerang Etnis Tionghoa di Cirebon

Saat Sultan Muhammad Syafiuddin dan Pangeran Suryakusuma mendeklarasikan peperangan terhadap Belanda, sasaran utama perlawanan rakyat Cirebon menyerang etnis Tionghoa.

Baca Juga: Peristiwa Cimareme 1919, Pembantaian Petani Garut Zaman Belanda

Menurut dua pemimpin berkharisma ini, Tionghoa merupakan sekutu kolonial yang menyebabkan Pangeran Kanoman diasingkan ke Ambon.

Selain itu etnis Tionghoa di Cirebon juga diduga kuat sebagai dalang dibalik perampasan tanah pribumi oleh kolonial. Hal ini terjadi karena ketika tanah itu berhasil dirampas, orang-orang Tionghoa akan menyewa tanah dengan harga mahal pada pemerintah kolonial.

Dengan kata lain mereka (etnis Tionghoa) mendukung praktek perampasan tanah milik pribumi oleh pemerintah kolonial secara kejam.

Bahkan ada satu di antara pribumi tewas akibat berusaha melindungi harta benda satu-satunya. Pribumi ini melawan Belanda namun gugur terkena peluru senapan kolonial yang tajam dan mematikan.

Peristiwa penyerangan etnis Tionghoa oleh rakyat Cirebon ini terjadi sekitar tahun 1806. Selain Sultan Muhammad Syafiuddin dan Pangeran Suryakusuma, meletusnya peristiwa ini juga ditengarai oleh pentolan prajurit Kanoman yang sakti bernama Bagus Rangin.

Menurut Edi Roseno meletusnya peristiwa ini bertujuan untuk menunjukkan eksistensi kekuatan rakyat Cirebon.

Sebelumnya pemerintah kolonial menganggap rakyat Cirebon sudah kalah dan lemah. Mereka ingin menunjukan kekuatan yang tak terduga dari sebelumnya.

Dalam kejadian ini Edi Roseno juga mengatakan, para pemimpin Kanoman mulai mempropagandakan perang bagi pejabat-pejabat lokal di Cirebon. Dengan mengajak mereka untuk mengobarkan perang, maka seluruh rakyat Cirebon akan mengikuti arahannya.

Baca Juga: Ratu Kalinyamat, Bupati Jepara Pertama yang Melawan Portugis

Ajakan tersebut ternyata berhasil. Hal ini terbukti saat rakyat Cirebon menggempur benteng pertahanan Belanda di Kedondong pada tahap awal. Etnis Tionghoa pun ikut terpukul mundur dan menjauhi Cirebon hingga tahun 1812.

Perlawanan Pasukan Kedondong sampai ke Majalengka

Karena semangat yang membakar pasukan Kedondong menyerang Belanda, maka peristiwa berdarah ini berhasil menekan Belanda hingga sampai ke daerah Majalengka. Pasukan Kedondong dari Cirebon sukses memukul mundur Belanda untuk beberapa waktu yang lama.

Perlawanan pasukan Kedondong yang terjadi sampai ke Majalengka merupakan penyerangan tahap kedua. Perang ini untuk membalaskan dendam rakyat Cirebon terhadap peristiwa pengasingan Pangeran Kanoman ke Ambon.

Penyerangan terjadi dari tahun 1816 sampai 1818. Pimpinan perang adalah generasi pejuang Kanoman bernama Bagus Rangin.

Perlawanan dalam peristiwa ini merupakan tragedi berdarah yang besar. Sebab pasukan Kedondong berhasil memporak-porandakan pemerintah kolonial sampai ke daerah Majalengka.

Keberhasilan pasukan Kedondong ini disinyalir oleh akibat penggunaan teknik perang yang mengecoh bernama ”Suluhan”. Menggunakan kunang-kunang sebagai media pengecoh perang di malam hari. 

Para tentara Belanda tertipu dengan sinar kunang-kunang tersebut sehingga menyerang ke arah cahaya dan menghabiskan peluru.

Ketika amunisi persenjataan mereka habis, baru lah pasukan Cirebon berdatangan dari berbagai arah dan menikam para tentara Belanda dengan pusaka-pusaka kerajaan. Teknik perang yang hebat ini ternyata terinspirasi dari lakon pewayangan Jayasuluhan.

Akibat strategi Jayasuluhan yang hebat, perlawanan rakyat Cirebon berhenti pada tahun 1818. Para kombatan perang semesta ini kembali membangun kejayaan Cirebon, namun karena kekuatan Belanda yang semakin bertambah seiring dengan tumbuhnya teknologi Barat, Belanda akhirnya kembali menguasai Cirebon. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)