Senin, Februari 6, 2023
BerandaBerita TerbaruSejarah PKI Bela Kulit Hitam hingga Demo Kedubes AS di Jakarta

Sejarah PKI Bela Kulit Hitam hingga Demo Kedubes AS di Jakarta

Demonstrasi besar-besaran terjadi di kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat (Kedubes AS) di Jakarta pada tahun 1963 jadi catatan sejarah PKI bela kaum kulit hitam.

PKI mempelopori demo tersebut untuk membela kaum kulit hitam dari kekerasan rasial yang kerap menimpanya di negeri Paman Sam.

Menurut berbagai media internasional, kaum kulit hitam di Amerika sering mengalami teror rasial dari golongan kulit putih. Selain teror dan Bully kepada kulit hitam, tak jarang percekcokan yang terjadi antara kulit putih dan kulit hitam kerap memakan korban jiwa.

Kebanyakan korban tewas datang dari kaum kulit hitam. Segerombolan kulit putih akan menyiksa orang kulit hitam sebelum akhirnya menghabisinya sampai tak bernyawa.

Baca Juga: Pemberontakan PKI di Ciamis 1926, 130 Orang Mengungsi ke Tjigoegoer

Hal inilah yang membuat PKI geram. Selain kecewa pada Amerika Serikat akibat peristiwa tersebut, PKI juga mempelopori demo di Kedubes AS akibat negara ini sering mencampuri urusan internal organisasi kepemudaan di Indonesia.

Sejarah PKI Bela Kulit Hitam Sampai Mendemo Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta

Menurut surat kabar Harian Rakjat tanggal 18 Juni 1963 bertajuk, Pemuda dan Mahasiswa Ibukota ke Kedutaan Besar Amerika: Stop Kekerasan Rasialis Terhadap Kaum Kulit hitam, pada tanggal 17 Juni 1963 PKI menggeruduk Kedubes AS di Jakarta.

Tepat pada hari Senin, PKI dan para pemuda serta Mahasiswa yang dipimpin oleh Sumarsono berunjuk rasa di depan kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat dan ditemui oleh Asisten Duta Besar, Mr. Carl Taylor.

Menurut Harian Rakjat, setidaknya terdapat 15 organisasi pemuda yang berdemonstrasi di kantor Kedubes AS sejak pagi hingga sore hari.

Delegasi demo kemudian mengajak diskusi Mr. Carl Taylor dengan menggunakan bahasa Inggris yang sangat baik. Mereka terlibat pembicaraan yang lama.

Dalam diskusi ini Sumarsono pemimpin demo, menyampaikan kekecewaan rakyat Indonesia terhadap aksi kekerasan orang kulit putih terhadap kulit hitam yang terjadi di Amerika Serikat dan Birmingham Inggris pada awal tahun 1960-an.

Para pendemo menuntut Kedutaan Besar AS segera menuntaskan permasalahan ini dengan cepat. Namun bukannya menyetujui aspirasi rakyat Indonesia yang berperikemanusiaan, Asisten Dubes ini malah menantang delegasi berdebat.

Baca Juga: Soetanti Aidit: Istri Ketua PKI, Ahli Akupuntur Pertama di Indonesia

Terlibat Perdebatan yang Sengit

Perdebatan yang panas antara Sumarsono dengan Mr. Carl Taylor pun semakin sengit. Pendemo menunggu di luar tanpa mengetahui situasi ini.

Untuk menghindari pembicaraan yang bertele-tele, Sumarsono kemudian menuntut Dubes Amerika Serikat untuk menarik semua tentara mereka dari perbatasan daerah konflik.

Tuntutan penarikan tentara perdamaian dunia (Peace Corps) ini untuk membantu penyelesaian kasus kekerasan pada kaum kulit hitam di negeri asal mereka yaitu Amerika Serikat.

Pernyataan ini sangat menyindir Mr. Carl Taylor. Karena tidak terima dengan ucapan Sumarsono, Mr. Talyor sedikit bernada keras. Taylor menolak mentah-mentah seluruh tuntutan Sumarsono dan para pemuda yang berdemo.

Bahkan Mr. Carl Taylor sempat ingin meninggalkan delegasi demo dari forum diskusi. Sebab Ia merasa demo ini menghina kualitas pekerjaan orang Amerika.

Ia juga tidak bisa menjadi orang yang netral dalam menghadapi kasus ini, sebab Mr. Carl Taylor merupakan Asisten Duta Besar Amerika Serikat yang pro terhadap golongan rasnya sendiri yaitu, golongan kulit putih.

AS Mencampuri Internal Organisasi Pemuda di Indonesia

Perdebatan panas ini berujung pada saling singgung menyinggung diantara keduanya. Mr. Carl Taylor mencampuri persoalan internal organisasi pemuda di Indonesia.

Ia menyudutkan jika gerakan pemuda dan Mahasiswa yang dipelopori oleh PKI merupakan aksi yang bersifat politis. Demo yang bertujuan untuk membentuk citra buruk pada Amerika di Indonesia.

Tuduhan ini berdasarkan pada posisi PKI saat itu yang merupakan partai kiri, dan berkiblat pada negara musuh Amerika yakni Uni Soviet (sekarang Rusia). Mr. Carl Taylor curiga jika demo ini ditunggangi oleh semangat komunisme dari Soviet.

PKI menganggap pernyataan Taylor sebagai bukti Kedubes AS mencampuri urusan internal organisasi pemuda di Indonesia, saat Taylor menyinggung, “mengapa HMI juga tidak ikut demo?”

Baca Juga: Kisah DN Aidit, Remaja Agamis yang Jadi Tokoh PKI

Jelas HMI merupakan organisasi pemuda Islam yang sering terlibat konflik dengan organisasi pemuda PKI. Menurut Sumarsono pertanyaan ini bersifat adu domba.

Taylor berharap untuk memancingnya berpendapat yang buruk tentang HMI yang absen demo tersebut.

Namun Sumarsono tidak terprovokasi oleh pernyataan tersebut, Ia justru menanyakan balik, mengapa Kedutaan Besar Amerika mencampuri soal-soal internal organisasi pemuda di Indonesia.

Bukankah ini telah melakukan pelanggaran etik. Seharusnya perwakilan Kedutaan Besar tidak menanyakan hal itu. Pertanyaan Mr. Taylor merupakan urusan internal bangsa Indonesia. Orang asing, sekalipun pejabat tinggi tidak boleh mencampuri urusan ini.

Dari pernyataan ini Sumarsono berhasil menjebak Mr. Carl Taylor sebagai Asisten Duta Besar Amerika Serikat yang mengetahui potensi konflik pemecah belah kekuatan pemuda di Indonesia.

Akibatnya, citra Kedubes Taylor buruk di mata pemuda kiri hingga meletusnya peristiwa G30S/PKI 1965. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)