Minggu, November 27, 2022
BerandaBerita TerbaruSejarah Tentara Pelajar, Pasukan Tempur Remaja Intelektual

Sejarah Tentara Pelajar, Pasukan Tempur Remaja Intelektual

Sejarah Tentara Pelajar berawal dari terjadinya peristiwa perpindahan Ibu Kota Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta pada tahun 1946.

Hal ini terjadi karena Belanda mendarat bersama Sekutu dan berhasil menguasai Jakarta. Akibatnya situasi Ibu Kota Republik yang belum genap berusia satu tahun ini terancam bahaya karena Belanda bersama Sekutu kerap menangkapi para pejuang.

Akhirnya melalui surat resmi yang dikirim dari Kesultanan Yogyakarta pada tanggal 2 Januari 1946, Sukarno-Hatta diimbau memindahkan sementara pusat pemerintahan Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta.

Baca Juga: Sejarah Perang Ambarawa, Berawal dari Kekecewaan Pejuang Republik

Usulan tersebut merupakan upaya pengamanan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX bersama rekan sejatinya Sri Pakualam VIII.

Kabar perpindahan Ibu Kota dari Jakarta ke Yogyakarta pun tersebar hingga ke berbagai lapisan masyarakat, tak terkecuali dengan himpunan para pelajar di Yogyakarta.

Karena situasi yang mendesak dan penuh intrik yang mengarah pada peperangan, akhirnya para pelajar berinisiatif membentuk badan resmi pelajar untuk jadi tentara. Mereka kemudian menciptakan satuan tempur ini dengan nama Tentara Pelajar.

Sejarah Awal Pembentukan Tentara Pelajar

A.H. Nasution dalam buku berjudul ”Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia, Jilid 9: Agresi Militer Belanda II”, (1979) mengungkapkan pembentukan awal Tentara Pelajar digagas oleh Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) sejak Ibu Kota Republik Indonesia pindah dari Jakarta ke Yogyakarta.

Pembentukan badan militer yang berfungsi membantu kesatuan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) ini dibentuk berdasarkan usulan para remaja intelektual dari berbagai daerah di kota besar. Salah satunya di Magelang, Jawa Tengah, dan Surabaya, Jawa Timur.

Sejumlah pelajar menginginkan ikut berperan dalam mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia dengan cara mengangkat senjata. Mereka rela berkorban jiwa dan raga untuk membuat Ibu Pertiwi tersenyum bangga, dan bahagia.

Adapun pembentukan awal badan ini terhitung sejak tanggal 17 Juli 1946. Setelah sebelumnya dirembuk secara resmi dan rahasia, dengan melibatkan pasukan militer khusus sebagai saksi penting dalam pelantikan pengurus Tentara Pelajar.

Baca Juga: Sejarah Resolusi Jihad, Peran Ulama Pesantren Berperang Lawan Penjajah

Pelantikan pengurus terjadi di Asrama TKR di Jalan Pingit Yogyakarta. Saat itu Tentara Pelajar diketuai oleh Haryono dan Suyitno. Sementara wakilnya bernama Martono. Tiga pelajar ini terkenal sebagai pribadi yang revolusioner.

Mereka memimpin sumpah sekaligus sukses memobilisasi para remaja intelektual untuk menjadi pejuang dan mengangkat senjata demi mengusir Belanda, dan Sekutu dari Indonesia.

Tentara Pelajar Pasukan Tempur yang Intelektual

Istilah Tentara Pelajar Pasukan Tempur yang Intelektual terkenang hingga saat ini. Pasalnya adagium klasik ini terbentuk akibat dari peristiwa ikrar para pelajar di Solo, dan Surabaya tatkala bersumpah rela membela kedaulatan negara meskipun harus kehilangan jiwa dan raga.

Ketika di Surabaya ikrar intelektual ini dilantunkan pelajar Jawa Timur, seluruh siswa SMP-SMA berapi-api. Mereka ingin segera dilantik menjadi Tentara Pelajar cabang Jawa Timur dan ingin cepat bergerilya melumpuhkan kantung-kantung militer Belanda di Surabaya.

Karena tekad yang bulat dan semangat para siswa SMP-SMA di Surabaya yang membara, akhirnya organisasi militer resmi, TKR yang ada di Gedung milik tentara Jepang: Ho Syo Kyoku menghimbau agar seluruh pelajar membentuk satuan militer.

Usulan pembentukan satuan militer tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh para pelajar di Magelang. Mereka menganggap saran tersebut harus segera direspon cepat oleh organisasi perhimpunan pelajar di seluruh Indonesia alias IPI.

Dalam catatan sejarah, akhirnya IPI merestui pembentukan Tentara Pelajar yang telah didiskusikan sebelumnya. Rapat pembentukan Tentara Pelajar diwarnai oleh demokrasi yang kuat khas pergaulan dalam forum intelektual.

Baca Juga: Sejarah Gedung Lawang Sewu, Ornamen Bangunan Simbol Kemakmuran Jawa

Meskipun satuan ini berbasis pada militerisme, akan tetapi para anggota Tentara Pelajar sangat menjunjung tinggi nilai-nilai demokratis. Mereka tidak mengandalkan satu komando saja. Akan tetapi mempertimbangkan keputusan lain dengan logika dan intuisi jiwa sebagai seorang intelektual sejati.

Pasukan Tempur Intelektual yang Terlatih

Selain tumbuh menjadi tentara intelektual, badan militer yang beranggotakan pelajar SMP-SMA ini berkembang jadi pasukan tempur intelektual yang terlatih.

Hal ini tercermin dari syarat dan pelajaran untuk mendaftar jadi calon siswa Tentara Pelajar. Meskipun saat itu menampung sebanyak-banyaknya anggota, akan tetapi badan militer ini perlu memilih kriteria terbaik agar calon anggotanya militan.

Salah satu pelajaran dasar untuk mendaftar jadi calon anggota Tentara Pelajar yakni harus bisa membongkar, dan memasang senjata secara cepat.

Setelah mereka lulus menjalani seluruh rangkaian perekrutan calon anggota Tentara Pelajar, maka komandan yang melatih dari TKR akan memberikan pembekalan. Tujuannya untuk menyusun strategi perang yang kemudian dikenal dengan istilah “Strategi Gerilya”.

Adapun tokoh militer yang mempopulerkan strategi perang yang cocok diterapkan di hutan tropis ini antara lain, T.B. Simatupang, Jenderal Sudirman, dan A.H. Nasution.

Karena dua tiga nama tokoh militer terkemuka di atas, hampir seluruh anggota Tentara Pelajar menjadi anggota militer yang terampil. Terutama dalam memahami dan menggunakan kode/sandi saat perang berkecamuk. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Diskominfo Kota Banjar