Jumat, Januari 27, 2023
BerandaBerita TerbaruSoe Hok Gie, Aktivis Tionghoa Pendemo Sukarno

Soe Hok Gie, Aktivis Tionghoa Pendemo Sukarno

Nama Soe Hok Gie pernah populer di kalangan remaja aktivis Jakarta pada tahun 1966. Ia merupakan Mahasiswa jurusan sejarah yang kerap berurusan dengan aksi demonstrasi.

Gerakan demonstrasi pria yang akrab dengan panggilan Gie ini bertujuan untuk menghapuskan tirani dan kediktatoran para pemimpin di era Orde Lama (Presiden Sukarno).

Soe Hok Gie tidak setuju Indonesia dipimpin oleh pemimpin bertangan besi. Pemimpin semacam ini akan tumbang pada masa di mana rakyat sudah merasakan kerugian yang sama dengan para Mahasiswa akibat tindakan represif aparat.

Baca Juga: Sutan Syahrir, Pemuda Radikal yang Mendesak Proklamasi

Prediksi Gie tepat, pemerintahan Orde Lama tumbang tidak lama setelah meletusnya peristiwa G30S/PKI 1965. Presiden Sukarno didesak mundur oleh rakyat dan kelompok pendemo yang terkenal dengan nama Aktivis 66’.

Setelah Orde Lama tumbang Gie tetap melakukan kritik terhadap pemerintahan yang baru. Kendati sejak tahun 1969 Gie berprofesi menjadi dosen di jurusan sejarah, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Suharto tidak lepas dari kritikan tulisannya.

Namun sayang nasib Gie mengkritik Orde Baru tidak selama aktivis Tionghoa ini menghajar habis pemerintahan Orde Lama. Sebab pada sehari sebelum menjelang ulang tahunnya ke-27 Gie meninggal dunia akibat menghirup gas beracun di puncak gunung Semeru.

Profil Soe Hok Gie: Anak yang Lahir Ketika Perang Pasifik Berkecamuk

Menurut Soe Hok Gie dalam bukunya berjudul ”Catatan Seorang Demonstran” (1989), Ia lahir pada tanggal 17 Desember 1942. Tepat ketika peristiwa perang di Pasifik sedang berkecamuk.

Pada usia lima tahun, Gie yang saat itu masih trauma dengan suasana perang bersekolah di lembaga pendidikan etnis Tionghoa bernama Shi Hwa School. Di lembaga ini Gie banyak belajar tentang kebudayaan leluhurnya dari Tiongkok.

Soe Hok Gie lahir dari keluarga Tionghoa totok. Ayahnya bernama Soe Lie Piet (Salam Sutrawan) dan ibunya Nio Hoe An.

Kepiawaian Gie dalam menulis kritik yang sering dimuat dalam surat kabar tak lepas dari peran ayahnya. Sebab Soe Lie Piet merupakan sastrawan Tionghoa terkenal pada zaman kolonial Belanda.

Sejak kecil sampai dewasa Soe Hok Gie dibesarkan dalam budaya Tionghoa yang kental. Kendati pun demikian Gie tetap tumbuh menjadi sosok yang memiliki pergaulan luas.

Bahkan seluruh teman-temannya menyukai Gie karena pembawaannya yang egaliter. Ia tidak merasa pintar dan sombong, meskipun pada kenyataannya Gie merupakan tokoh intelektual terkenal di kalangan mahasiswa UI tahun 60-an.

Semenjak mahasiswa pergaulan Gie semakin luas. Hal ini disebabkan karena anak dari seorang sastrawan Tionghoa ini aktif dalam berbagai kegiatan demonstrasi. Hingga pada akhirnya nama Soe Hok Gie terkenal luas sebagai pelopor aktivis 66’.

Aktivis Tionghoa

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, Soe Hok Gie merupakan anak kelima dari saudara Tionghoa keluarga Soe Lie Piet.

Nama awalan Soe merupakan warisan keluarga seperti marga. Soe merupakan nama Tionghoa leluhur keluarga Soe Lie Piet yang berasal dari Hainan.

Keluarga Gie kerap menggelar tradisi Tionghoa apabila masuk ke hari-hari perayaan tertentu dari etnis mereka. Oleh sebab itu seluruh teman-temannya mengetahui kalau Soe Hok Gie merupakan anak dari keluarga Tionghoa yang taat.

Kepeloporan Gie sebagai aktivis sebetulnya tidak hanya tercermin saat Ia berada di bangku perkuliahan. Gie sudah lebih awal memiliki jiwa pemberontak ketika berada di sekolah SMP.

Kala itu Gie memperoleh nilai yang buruk dalam pelajaran ilmu bumi. Gurunya memangkas nilai Gie karena sering kalah berdebat dengan murid kerasnya itu. Jiwa-jiwa aktivis Gie mulai muncul dari peristiwa ini.

Baca Juga: Rasuna Said, Pahlawan Nasional yang Bela Hak Perempuan

Menurutnya ketidak adilan dalam segala hal merupakan pemicu setiap orang untuk melakukan seluruh tindakan yang nekad. Salah satunya dicontohkan oleh Gie ketika Ia merasa tidak diberikan keadilan oleh gurunya itu.

Soe Hok Gie yang bertampang kalem ini justru berubah menjadi anak yang pendendam dan berniat memukuli sang guru. Namun ketika Ia membuntuti gurunya sampai depan rumah, Gie tak tega dan mengurungkan niatnya akibat kasihan.

Guru yang memberi nilai buruk pada Gie itu miskin. Hidup di perumahan kumuh pinggiran kota Jakarta, sedangkan anak-anaknya masih kecil dan terlihat kekurangan gizi.

Demonstrasi Tumbangkan Orde Lama

Ketika Gie masuk ke dunia perkuliahan, dendam-dendam yang dahulu pernah dialaminya di SMP kian membara. Kebetulan saat itu sedang ramai politik Orde Lama yang semakin mengundang kontroversial publik.

Gie pun turun aksi melakukan demonstrasi. Teman-temannya heran, mengapa ada Mahasiswa Tionghoa yang bela mati-matian untuk menurunkan Orde Lama. Apa untungnya bagi mereka.

Kendati Soe Hok Gie berasal dari etnis Tionghoa, pria yang hobi mendaki gunung ini sangat mencintai Indonesia. Ia tidak ingin masa depan Ibu Pertiwi menjadi hancur karena sifat-sifat kediktatoran Orde Lama.

Oleh sebab itu Ia mengkritik pemerintahan Orde Lama dalam berbagai cara. Selain turun aksi (demonstrasi) Gie juga sering menulis yang kemudian dimuat dalam media massa: Kompas, Sinar Harapan, Harian Kami, Indonesia Raya, dan Mahasiswa Indonesia.

Saat ini nama Soe Hok Gie, pelopor aktivis 66’ yang berasal dari etnis Tionghoa tersebut terlupakan. Tak banyak orang yang mengenal namanya, terutama para Mahasiswa generasi tahun 2000-an.

Baca Juga: Riwayat Hidup Buya Hamka, Profil Ulama yang Serba Bisa

Meninggal Muda Akibat Menghirup Gas Beracun di Gunung Semeru   

Sejak Mahasiswa Soe Hok Gie selain aktif dalam berbagai kegiatan demonstrasi, tetapi juga sangat mendalami hobinya mendaki gunung.

Menurut catatan sejarah Indonesia, Soe Hok Gie merupakan salah seorang yang berpengaruh dalam pembentukan organisasi Mapala UI.

Gie dan kawan-kawannya di Mapala UI pernah mendaki hampir seluruh gunung di Indonesia. Namun nahas Gie gugur saat menaklukan puncak Semeru pada 16 Desember 1969.

Ia meninggal muda akibat menghirup gas beracun yang keluar dari perut Gunung Semeru. Gie meninggal bersama dengan salah seorang kawan Mapalanya bernama Idhah Dhanvantari Lubis.

Menurut pengakuan dari berbagai rekan-rekannya di Mapala UI, sebelum Soe Hok Gie meninggal Ia sempat menuliskan firasatnya akan meninggal muda.

Tulisan ini sangat mewakili perasaan seseorang yang tidak lama lagi akan mengalami kematian.

Mendengar berita kematian Gie di Gunung Semeru membuat kesedihan yang tak terhingga dari orang tua dan keluarganya di rumah. Sebab kepergian Gie tepat satu hari sebelum mereka rayakan ulang tahunnya yang ke-27.

Sutradara Riri Riza mengangkat kisah Soe Hok Gie tersebut menjadi sebuah film berjudul Gie pada tahun 2005. Sementara Nicholas Saputra berperan sebagai Soe Hok Gie. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)