Rabu, Februari 8, 2023
BerandaBerita NasionalJalan Tol Cikopo-Palimanan Paling Mematikan di Dunia dan Misteri KM 113

Jalan Tol Cikopo-Palimanan Paling Mematikan di Dunia dan Misteri KM 113

harapanrakyat.com,- Jalan Tol Cikopo-Palimanan paling mematikan di dunia karena memiliki tingkat kecelakaan maut tertinggi dibanding jalan tol lainnya. Meskipun jalan tol tersebut sudah dilengkapi fasilitas keamanan serta marka keselamatan sesuai aturan yang berlaku.

Kementerian Perhubungan RI menyebut bahwa, Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) termasuk salah satu akses jalan tol dengan angka fatalitas tertinggi di dunia.

Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub RI, Hendro Sugiatno menyebutkan, berdasarkan data yang pihaknya miliki tercatat rata-rata per kilometer di Tol Cipali terdapat 1 korban jiwa. Karena itulah banyak yang menyebut Jalan Tol Cikopo-Palimanan paling mematikan di dunia.

Kecelakaan yang terjadi di Tol Cipali terus meningkat dan menjadi jalan tol nomor 1 di dunia yang memiliki fatalitas kecelakaan tertinggi. Perhitungannya 1 kilometer berapa jumah korban. Jadi ada hitung-hitungannya,” terang Hendro Sugiatno, saat rapat kerja Kemenhub Bidang Perhubungan Darat, Senin (05/12/2022), yang disiarkan melalui YouTube resmi Direktorat Jenderal Perhubungan Darat.

Jalan Tol Cikopo-Palimanan Terpanjang di Pulau Jawa

Baca Juga: Tol Cipularang Terkenal Rawan Kecelakaan, Kenali 5 Fakta Ini!

Hendro juga menjelaskan, Tol Cipali merupakan jalan tol paling panjang di Pulau Jawa. Totalnya sepanjang 116,75 kilometer terbentang dari mulai Cikopo KM 72 hingga Palimanan KM 188.

Jalan tol sepanjang itu melewati 5 kabupaten yang meliputi, Kabupaten Purwakarta, Subang, Indramayu, Majalengka dan berakhirnya di Kabupaten Cirebon.

Tol Cipali juga memiliki 6 pintu gerbang tol, yakni Gerbang Tol Subang, Kalijati, Cikedung, Kertajati, gerbang tol Sumberjaya dan terakhir Palimanan.

Dari 6 gerbang tol tersebut terdapat gardu dengan jumlah totalnya 44 unit. Selain itu, Tol Cipali juga mempunyai 6 Interchange serta 99 jembatan.

Misteri KM 113

Baca Juga: Kecelakaan Maut di Garut, Truk Box Terjun ke Jurang, 3 Korban Terjepit Kendaraan

Sementara itu, Kepala Dept. Komunikasi Astra Jalan Tol Cikopo-Palimanan, Theresia Dyah menyebutkan, mengenai seringnya terjadi kecelakaan di Tol Cipali pada kilometer 113, karena selain panjang jalurnya juga relatif lurus.

Kondisi jalan seperti itu kerap membuat para pengemudi kendaraan menjadi lelah dan bosan. Apalagi kilometer tersebut menjadi puncak lelahnya para pengendara saat mereka melintas.

“Kalau kita amati, itu adalah titik lelahnya. Terlebih kondisi arus lalu lintas tidak begitu padat,” ujar Theresia Dyah.

Ia menjelaskan, akibat jalur jalan tol yang tidak begitu padat, maka pengemudi yang ingin segera sampai biasanya memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Bahkan hingga melebihi batas maksimal, yakni 100 km per jam.

Berdasarkan kajian KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi), jalan Tol Cikopo-Palimanan dengan karakteristik lurus memiliki faktor terhadap reaksi manusia. Dampaknya terjadi kecelakaan.

Baca Juga: Aturan Mengemudi di Jalan Tol Guna Hindari Kecelakaan Maut

Fasilitas Keamanan Lengkap

Astra Tol Cikopo-Palimanan selaku pengelola jalan tentunya concern pada keselamatan berkendara bagi pengguna jalan.

Oleh karena itu, lanjut Theresia, pihaknya melengkapi Jalan Tol Cikopo-Palimanan itu dengan sejumlah fasilitas keamanan. Termasuk marka keselamatan sesuai aturan yang berlaku.

Pihaknya juga secara rutin melakukan kampanye keselamatan supaya pengguna jalan bisa merasakan keamanan, kelancaran, serta kenyamanan ketika mengemudi di Tol Cipali.

Untuk layanan keamanan lalu lintas, pihak Astra Jalan Tol Cipali mempunyai 12 unit mobil derek, 12 unit kendaraan patroli, dan kendaraan rescue 12 unit.

Sedangkan, untuk layanan informasi, pihak pengelola jalan Tol Cipali punya 9 unit VMS (Variable Message Sign), serta 47 unit kamera CCTV.

“Sepanjang ruas Jalan Tol Cikopo-Palimanan sudah terpasang rambu dan marka. Terdapat juga perangkat kamanaan lainnya sebagai bentuk dari keseriusan kami dalam memberikan layanan keselamatan,” jelas Theresia. (R3/HR-Online/Editor-Eva)