Minggu, Januari 29, 2023
BerandaBerita TerbaruKehidupan Orang India di Jawa Abad 20: Anti Potong Rambut

Kehidupan Orang India di Jawa Abad 20: Anti Potong Rambut

Kehidupan menarik orang India di Jawa abad 20 nampaknya penting kita ulas sebagai kajian sejarah budaya yang unik dan menggelitik. Pada abad 20 orang-orang India di Jawa memiliki kebiasaan aneh yaitu, tidak pernah memotong rambut, janggut, dan memilih bekerja menjadi penjaga malam.

Orang Jawa begitu aneh melihat orang-orang India yang punya kebiasaan anti potong rambut. Konon kebanyakan orang Jawa yang penuh dengan klenik mempercayai bahwa pantangan potong rambut orang India adalah jimat.

Mereka akan kebal pada senjata dan juga titipan santet dari orang tak bertanggung jawab. Namun apabila mereka sekali-kali memotong rambut yang sudah tumbuh dari kecil itu, maka musnahlah sudah seluruh kekuatan kanuragan mereka seketika.

Menurut berbagai literasi yang membahas sejarah orang India di Indonesia, kebanyakan dari mereka yang tidak memotong rambut berasal dari kelompok India Sikh. 

Baca Juga: Sejarawan Ong Hok Ham dan Tulisannya yang Bikin Naik Darah Mafia Orba

Tradisi tidak memotong rambut dan janggut adalah salah satu kebiasaan yang lahir dari orang India Sikh. Mereka yakin bahwa memotong rambut sama seperti memotong nyawa sendiri.

Adapun tempat persebaran golongan orang India Sikh di Jawa saat itu antara lain ada di Batavia, Banten, dan wilayah pantai Utara Jawa seperti di Tegal, Pemalang, Pekalongan hingga Semarang.

Kehidupan Menarik Orang India di Jawa: Anti Potong Rambut

Menurut Olivier Johannes Raap dalam buku berjudul, “Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe” (2017), rata-rata orang India dari garis keturunan golongan Sikh memang anti potong rambut. Kebudayaan mereka mengharamkan memangkas rambut di berbagai area tubuh manusia.

Menurut orang India dari golongan Sikh, rambut merupakan bagian dari organ tubuh yang hidup. Apabila satu dari golongan mereka berani memangkasnya, maka hukumnya sama dengan memangkas umur dirinya sendiri.

Konon orang-orang India Sikh percaya tidak memotong rambut akan membawa mereka hidup selaras dengan alam dan yang paling penting akan membuat mereka “panjang umur”.

Untuk merawat rambut panjangnya mereka biasa menutupi kepala dengan turban tinggi. Rambut panjangnya tergulung bersama seiring dengan lipatan turban. Jadi rambut terlindungi oleh kain turban sehingga meminimalisir kerontokan dan bau.

Berprofesi jadi Penjaga Malam: “Toekang Poekoel

Karena perawakan tinggi besar dan juga berambut serta berjanggut panjang, orang-orang India dari golongan Sikh kebanyakan bekerja sebagai penjaga malam.

Tugasnya memberikan pengamanan di perumahan-perumahan elit Belanda seperti yang ada di daerah Batavia.

Baca Juga: Kretek Haji Agus Salim dan Sindiran untuk Pangeran Philip

Selain menjadi security elit sosial Belanda, tak jarang mereka berubah profesi jadi “Toekang Poekoel” atau centeng alias preman orang-orang berduit. 

Salah satunya preman orang Eropa terutama Belanda. Orang India Sikh terbiasa dengan pekerjaan seperti ini bahkan mereka sering adu jotos dengan lawan lain yang kondisi body lebih besar dari padanya.

Karena keberanian dari tekadnya yang keras, orang India Sikh mendapatkan penghormatan yang lebih tinggi ketimbang masyarakat Timur Asing lainnya (China, Arab, dst) dari para pribumi.

Mereka takut dengan orang India, karena ini mereka tidak pernah melawannya sebagaimana pribumi dengan orang China.

Oleh sebab itu sudah menjadi wajar apabila orang India memiliki prestise tertinggi dari kelompok Timur Asing di Hindia Belanda. Karena punya kedudukan tinggi dan ditakuti banyak orang termasuk rakyat pribumi alias Inlanders.

Orang India Sikh Lebih Awal Datang ke Nusantara

Masih menurut Olivier Johannes dan beberapa sumber lain, kebanyakan melaporkan orang India Sikh merupakan orang Timur Asing pertama yang datang dan tinggal di wilayah Nusantara.

Mereka datang melalui jalur perdagangan jauh sebelum abad ke-13 masehi. Rata-rata dari orang India Sikh selain sebagai pedagang tetapi juga menjadi pendeta agama Hindu-Budha. Sehingga dari merekalah awal peradaban Hindu-Budha di Nusantara itu muncul dan berkembang.

Baca Juga: KH Sholeh Darat, Guru Pendiri NU dan Muhammadiyah

India Sikh terkenal sebagai pelayar yang hebat. Hal ini membuktikan mengapa China bisa kalah oleh orang India dalam bidang berlayar. Alhasil India lebih cepat mendarat di Nusantara ketimbang para pelayar China yang notabene jaraknya tempuhnya tidak jauh berbeda.

Perkembangan kedatangan orang-orang India Sikh ke Nusantara terus berlangsung sampai dengan kedatangan bangsa Barat di tanah melayu tersebut. Mereka bahkan masih aktif melakukan transmigrasi ilegal ke Hindia Belanda sampai tahun 1930-an.

Adapun faktor yang melatarbelakangi mereka datang ke Hindia Belanda sampai pertengahan abad ke-20 tidak lain untuk menjadi ladang pekerjaan. 

Sama seperti dahulu sejak awal kedatangan bangsa mereka, orang India masih laku jadi  “pekerja kasar” bagi Belanda. Salah satunya jadi Toekang Poekoel dan petugas keamanan malam di perumahan elit kolonial yang megah dan luas. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)