Kamis, Januari 26, 2023
BerandaBerita BanjarMengintip Proses Pembuatan Arang Kayu Tradisional di Kota Banjar

Mengintip Proses Pembuatan Arang Kayu Tradisional di Kota Banjar

harapanrakyat.com,- Aktivitas proses pembuatan arang kayu tradisional di Kota Banjar sangat mudah dijumpai. Salah satunya di Dusun Cigadung, Desa Karyamukti, Kecamatan Pataruman.

Hampir setiap hari, sejumlah warga tampak mengolah sejumlah bahan arang, seperti batok kelapa, kayu dan lainnya. 

Namun, ada salah satu warga yang sudah cukup lama menggeluti usaha itu, bahkan sejak tahun 1960-an. 

Tatang, warga Cigadung berprofesi sebagai pembuat arang sejak tahun 1960-an saat usia 10 tahun. Hingga saat ini, profesi tersebut masih ia geluti. 

Meski saat ini banyak pembuat arang batok kelapa maupun briket yang dikirim ke luar negeri, namun ia masih mempertahankan profesi warisan orang tuanya. 

Baca juga: Gerakan Pramuka di Kota Banjar Hijaukan Buper dengan Tanam Pohon

“Saya membuat arang karena ayah saya dulu buat begini. Tahun 1960 sempat tidak memproduksi, tapi mulai lagi tahun 1965-an,” kata Tatang, Minggu (22/1/23). 

Dalam proses membuat arang kayu, jelas Tatang, ia biasa menggunakan berbagai jenis kayu, kecuali albasia. Pasalnya, kayu tersebut kurang bagus dan kerap jadi abu. 

Sebelum proses pembakaran, ia terlebih dahulu memotong dan menata rapat kayu yang akan ia jadikan arang di tempat pembakaran. 

Kemudian, setelah dibakar lalu ia tutup kayu itu menggunakan rumput dan pasir. 

“Kalau 3 kubik bisa satu malam beres. Sedangkan kapasitas satu tempat ini bisa 10-15 kubik kayu yang mana prosesnya bisa mencapai 4-5 harian,” jelas Tatang. 

Proses Pembuatan Arang Kayu

Tatang mengaku kayu sebagai bahan utama arang tersebut ia beli dari warga sekitar Karyamukti. 

Untuk satu kubik harganya sekitar Rp 60 ribu dan setelah proses pembakaran akan menjadi 3 karung seharga Rp 30 ribu per karungnya atau Rp 90 ribu. 

Sehingga, ia bisa mendapatkan keuntungan Rp 30 ribu dari pembuatan arang kayu per kubiknya. 

“Saya di sini bersama tetangga menggarapnya, ada 4 orang berikut saya,” kata Tatang. 

Sedangkan penjualan hasil produksinya itu, Tatang menjualnya ke pengepul yang mengambil langsung ke lokasi pembakaran. 

“Kalau menjual langsung ke pasaran belum pernah, soalnya waktunya tidak cukup. Lebih baik seperti ini saja,” ujarnya.

Tantangan Membuat Arang Kayu

Selama berpuluh-puluh tahun membuat arang, Tatang mengaku tak menemui kendala apapun. Hanya saja tantangannya adalah harus memantau terus ketika saat proses pembakaran. 

Sebab, ketika pembakaran luput dari pantauan, bisa-bisa kayu tersebut terbakar dan hasilnya malah jadi abu. 

Karena saat proses ini banyak asap yang muncul, ia menyebut asapnya tidak bau, karena itu adalah uap.

“Sampai sekarang saya belum pernah mengalami sakit pernafasan gara-gara asap ini, jadi aman. Mungkin berbeda dengan lainnya yang terkadang kepulan asapnya bau. Walaupun begitu, makanya tempat proses ini di pegunungan,” imbuhnya. 

Tatang juga mengaku tidak tertarik untuk membuat arang dari batok kelapa. Pasalnya, yang ia ketahui prosesnya cukup ribet dan bau asapnya menyengat.

“Kerja begini saja lah, nggak mau ke yang lain. Ini dari hasil pembuatan arang kayu sudah alhamdulillah dan masih bertahan sampai saat ini,” pungkasnya. (Muhafid/R6/HR-Online/Editor: Muhafid)