Jumat, Januari 27, 2023
BerandaBerita TerbaruMitos Dewi Sri, Kepercayaan Masyarakat Jawa Meminimalisir Gagal Panen

Mitos Dewi Sri, Kepercayaan Masyarakat Jawa Meminimalisir Gagal Panen

Mitos Dewi Sri merupakan sebuah kepercayaan masyarakat Jawa terutama para petani dalam meminimalisir kegagalan panen. Para petani di Jawa merepresentasikan Dewi Sri sebagai penolong mereka dari keadaan paceklik.

Sebagian pendapat mengatakan Dewi Sri adalah simbol penolong petani dari ambang kehancuran. Mereka percaya Dewi Sri bisa melindungi seluruh petani melalui keajaiban-keajaiban alam, salah satunya mampu menurunkan hujan untuk kesuburan tanaman padi sebagai komoditas utama orang Jawa sebagai bahan pokok makanan sehari-hari.

Selain menurunkan hujan mitos Dewi Sri juga kerap menjadi obrolan simpang siur masyarakat Jawa tentang faktor pengusir hama. Dewi Sri bisa menyamar jadi binatang pengusir hama yang menyebabkan rusaknya kualitas padi saat panen raya tiba.

Menurut catatan kuno naskah-naskah Nusantara mengatakan mitos Dewi Sri muncul sejak masa kejayaan Hindu di Indonesia.

Baca Juga: Sejarah Wonosobo, Kota Bekas Pemukiman Prajurit Diponegoro

Masyarakat Hindu saat itu mempercayai Dewi Sri adalah tiang pelestari alam terutama jadi simbol kesuburan. Banyak pula anggapan zaman itu yang menyebut Dewi Sri sebagai jelmaan Dewa Kehidupan.

Mitos Dewi Sri, Membantu Petani Panen Padi Melimpah

Menurut Nurani Fajri Nawangsing dalam tulisan berjudul, “Padi: Antara Mitos dan Simbolisme” (2021), masyarakat Jawa menganggap Dewi Sri sebagai Dewi Padi yang dapat membantu petani menghasilkan panen padi yang sukses.

Para petani di Jawa menganggap Dewi Padi ada di pihaknya tatkala hasil panen padi mereka berhasil. Tak heran para petani kemudian menempatkan Dewi Sri sebagai sosok yang dikeramatkan.

Banyak persembahan-persembahan berupa sesaji para petani untuk Dewi Sri. Mereka berharap pada sang Dewi Padi bisa memberi perlindungan pada tanaman padi mereka sebelum panen berlangsung.

Selain itu, para petani ingin panen padinya berhasil. Sukses 100% tanpa ada faktor penghambat lain yang bisa menyebabkan kualitas buruk pada hasil tandurannya. Kepercayaan pada Dewi Sri begitu melegenda dan menjadi mitos hingga saat ini. Lalu dari manakah sumber awal mitos ini?

Kisah Dewi Sri bersumber dari naskah kuno berjudul “Serat Cariyos Dewi Sri” yang berbentuk tulisan beralaskan daun lontar.

Isi naskah menceritakan kisah perjalanan hidup Dewi Sri dan Ki Sedana. Dua tokoh ini bak malaikat kehidupan orang Jawa karena bisa mengatasi paceklik.

Selain itu ada pula kisah dari naskah Dewi Sri yang menceritakan tentang intrik politik feodalisme di tanah Jawa. Hal ini tercermin dari adegan Dewi Sri, Ki Sedana dan musuhnya (hama) memperebutkan wilayah kekuasaan yang disimbolkan melalui benih padi.

Baca Juga: Sejarah Tahun Baru Imlek: Tradisi Tionghoa dari Folklore yang Melegenda

Saat ini Serat Cariyos Dewi Sri tersimpan baik Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Serat ini tergolong dalam kriteria naskah kuno yang unik sebab naskah Dewi Sri berbentuk tembang macapat yang terbagi ke dalam 15 pupuh, dan terdiri dari 3 teks berisi suluk, cerita Dewi Sri Sedang, dan Ajaran Islam.

Mitos Legendaris Dewi Sri Tidak Hanya ada di Jawa

Ternyata mitos Dewi Sri tidak hanya tumbuh dalam kepercayaan kolektif masyarakat Jawa, melainkan juga ada di kebudayaan masyarakat luar Jawa. Salah satunya kepercayaan mitos Dewi Sri dalam budaya orang Sunda.

Masyarakat Sunda mempercayai figure Dewi Sri sebagai penolong kesuburan padi berdasarkan Wawacan Sulanja. Isi dari naskah kuno ini menceritakan tentang asal muasal Dewi Sri yang ternyata lahir dari tetesan air mata Dewa Anta.

Tetesan air mata itu kemudian berubah menjadi telur yang melahirkan seorang bayi perempuan bernama Dewi Sri.

Selain di dalam kepercayaan masyarakat Sunda, mitos Dewi Sri juga berkembang dalam kebudayaan masyarakat Bali. Berbeda dengan makna simbol Dewi Sri di Jawa sebagai Dewi Padi, di Bali Dewi Sri disimbolkan sebagai lambang kesuburan bagi tumbuhan sayur dan buah-buahan.

Kepercayaan Dewi Padi pada masyarakat Madura juga cenderung unik dan menarik. Pasalnya masyarakat di sana merepresentasikan Dewi Sri sebagai Dewi Kehidupan yang menolong mereka dari “rongrongan kekuasaan yang rakus”.

Sedangkan di Ende, Flores Indonesia bagian Timur, masyarakatnya mempercayai Dewi Sri sebagai akar permasalahan. Pusat konflik sedarah, sebab Dewi Sri berpasangan dengan adiknya dan melakukan hubungan haram.

Hukum adat saat itu memutuskan mengeksekusi mereka apabila tetap keukeuh ingin tetap berdua dan melakukan kumpul kebo dengan adiknya sendiri.

Karena mereka saling jatuh cinta maka Dewi Sri memilih untuk dieksekusi. Setelah eksekusi selesai jasadnya kemudian berubah seketika menjadi tumbuhan padi.

Baca Juga: Sejarah Pelacuran Zaman Jepang: Kisah Gadis Belanda Layani Nafsu Kadet Nippon

Simbolisme Dewi Sri dalam Kepercayaan Masyarakat Hindu

Dalam kepercayaan masyarakat Hindu, Dewi Sri memiliki posisi sebagai Dewa Kehidupan. Masyarakat Hindu mempersonifikasikan Dewi Sri dengan ragam nama Dewa Kehidupan. Antara lain, Dewi Laksmi, Dewi Sri Laksmi, Gauri, Gaya Laksmi, Sriwedari, Singhawaktra, dan Makarawaktra.

Selain memberikan nama-nama agung untuk Dewi Sri, masyarakat Jawa zaman kejayaan Hindu juga membentuk sebuah material arca. Mereka membuat arca (patung) yang menggambarkan Dewi Sri. Salah satunya Arca Dewi Sri yang ada di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta.

Material arca ini terbuat dari perunggu. Konon arca ini merupakan satu-satunya patung yang memulai pembuatannya dari bahan perunggu. Berdasarkan penelitian arkeologis Arca Dewi Sri yang ada di Sonobudoyo sudah ada sejak abad ke-9 masehi.

Masyarakat Jawa zaman Hindu menyimbolkan Dewi Sri layaknya sosok Dewa yang punya hak memberi kehidupan bagi umat manusia.

Mereka percaya pada keagungan dan kekuatan Dewi Sri sebagai sosok pemberi kehidupan. Oleh sebab itu masyarakat Hindu di Jawa kerap menaruh arca Dewi Sri sejajar dengan arca persembahan agung Siwa di altar doa. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)