Rabu, Februari 8, 2023
BerandaBerita TerbaruSejarah Kuliner Keraton Jogja, Makanan Kesukaan Raja Terpengaruh Budaya Eropa

Sejarah Kuliner Keraton Jogja, Makanan Kesukaan Raja Terpengaruh Budaya Eropa

Sejarah menu kuliner di Keraton Jogja menarik perhatian bagi sebagian kelompok di Indonesia, terutama bagi mereka yang ada dalam komunitas kuliner dan sejarah gastronomi.

Tak sangka rupanya ragam kuliner yang ada di Keraton Jogja tidak sepenuhnya menu dari masakan khas Jawa, tetapi masakan dengan gaya campuran budaya Jawa dan Eropa. Proses enkulturasi budaya ini sudah berjalan sejak era kejayaan Mataram Islam.

Di Jogjakarta sendiri, makanan kesukaan Raja pun ikut terpengaruh budaya Eropa. Banyak masakan-masakan kersanan dhalem (Kesukaan Raja) yang sama dengan menu orang-orang Barat di restoran megah.

Salah satunya adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang menyukai hidangan kuliner Eropa di Keraton Yogyakarta.

Baca Juga: Sejarah Rempah Nusantara yang Diburu Bangsa Barat

Kendati Keraton sudah mengenal kuliner Eropa sejak zaman kejayaan Mataram Islam pertama, beberapa arsip menyebut Keraton Jogja baru beradaptasi dengan masakan Eropa sejak masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono V pada tahun 1823-1855.

Kuliner percampuran dari budaya Eropa dan Jawa menjadi simbol keakraban antar suku Jawa dan Belanda di Indonesia. Bahkan karena hal ini pula dua etnis yang sering bertentangan ini dahulu mendadak damai karena simbol kekuasaan mereka begitu dekat dengan Belanda.

Masyarakat Jawa khususnya di Jogja akan tenang apabila sang Raja memperlihatkan keadaan politik mereka dengan Belanda baik-baik saja.

Sejarah Kuliner di Keraton Jogja dan Kisah HB V Berlangganan Sembako di Toko Milik Belanda

Menurut Fajar Wijanarko dalam tulisan sejarah berjudul, “Pertalian Jawa-Eropa dalam Cita Rasa di Keraton Yogyakarta” (2021), Sri Sultan Hamengkubuwono V memiliki kebiasaan unik yaitu berbelanja sembako untuk kebutuhan dapur pada toko milik orang Belanda.

Raja Jogja kelima itu berlangganan sembako pada Belanda karena sejak masa kecil suka dengan masakan-masakan Eropa. Ketika ia dinobatkan menjadi Raja, ia semakin leluasa menikmati menu masakan Eropa kesukaannya.

Hampir setiap hari hidangan Raja di meja makan Keraton pasti ada masakan khas Eropa yang bercampur dengan budaya Jawa.

Kendati sering mempromosikan Pasar Beringharjo dengan slogan Belanda “een de Mooiste Passer op Java” atau pasar terindah yang ada di Jawa, Sri Sultan Hamengkubuwono V tetap memilih toko grosir sembako Belanda yang ada di sekitar Toegoe dan Malioboro.

Baca Juga: Sejarah Jamu, Ramuan Tradisional Eksis Sejak Zaman Majapahit

Salah satu toko sembako swasta milik Belanda langganan Sultan ke-5 bernama Toko Berrety. Kebiasaan HB V berlangganan ke toko ini tak lepas dari peran Residen di Jogja bernama R. de. Filliettaz Bousquet.

Ia memperkenalkan HB V kepada temannya yang berjualan sembako dan bahan dapur pilihan untuk membuat hidangan istimewa ala Eropa yaitu Toko Berrety.

Toko Barrety Punya Banyak Pilihan Bahan Dapur Kesukaan Eropa

Selain karena pertolongan Residen Belanda Bousquet mencarikan toko bahan dasar pembuatan menu kuliner Eropa untuk hidangan Keraton, Sultan kelima memilih Toko Barrety jadi langganan karena toko ini punya bahan dapur pilihan kesukaan orang Eropa di Jogja.

Seperti minimarket tersohor zaman sekarang, Toko Barrety menyediakan berbagai macam sayur, buah-buahan, daging-dagingan, olahan keju, dan bumbu-bumbuan khas makanan Eropa terutama kesukaan orang-orang Belanda.

Namun salah satu pilihan yang paling dicari di toko ini tidak lain adalah kualitas minuman anggurnya yang istimewa.

Sultan Mataram ke-5 nampaknya memiliki kebiasaan minum anggur. Hal itu sebagaimana yang tertulis dalam catatan kunjungan Raja Chulalongkorn ke Keraton Jogja pada tahun 1853-1910 sebagai berikut:

L’orchestere traditionnel se remet a jouer lorsque nous portons le vin a nos levres. Quelle que soit la boisson que j’ale choisie, the, café ou vin. Le Sultan a pris la meme chose” – [Kelompok orchestra tradisional mulai bermain ketika kami akan minum anggur. Apa pun minuman yang saya pilih, teh, kopi, atau anggur, Sultan mengambil yang sama].

Karena jatuh cinta dengan kualitas anggur yang istimewa itu, Sultan ke V meminta bantuan Residen Jogja, Bousquet untuk menego harga anggur secara grosir di toko Baretty.

Persoalan nego-menego selesai setelah pemilik Barrety sendiri tahu jika orang yang ingin berlangganan itu adalah penguasa Jogja.

Masakan Kolaborasi Antar Budaya Eropa dan Jawa

Bahan-bahan dapur yang berasal dari Toko Barrety akhirnya berubah menjadi masakan kolaborasi antar budaya Eropa dan Jawa.

Antara lain menghasilkan menu makanan kesukaan para Sultan Jogja yang terdiri dari, Roti Jok, Bir Jawa (Sultan VII), Selat Usar, Panekuk, en Manuk Enom (Sultan VIII), Havermut, Zwaartzuur, dan Bluderdeg (Sultan IX).

Baca Juga: Sejarah Gudeg, Kuliner Tradisional Jogja dari Zaman Kerajaan Mataram

Namun yang paling terkenal sering memasak hidangan Eropa di Keraton yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono ke VI.

Ia sering menggelar banyak pesta dengan orang Belanda, abdi dalem memasak dan mempersiapkan kudapan kesukaan orang Belanda.

Menurut berbagai sejarawan peristiwa inilah tanda awal enkulturasi gastronomi Jawa-Eropa mulai terbentuk di Keraton Jogja

Bahkan terdapat alah satu penggalan serat di Keraton Jogja yang menunjukan pagelaran pesta untuk persahabatan Hamengkubuwono VI dengan Belanda sebagaimana yang tertulis berikut ini:

“Sinuwun dhateng para walandi rapet sanget, ingkang sakedhap-sakedhap angawontenaken pista Ageng.”

Meskipun terdapat sisi negatif seperti pemborosan dan tidak merasa simpati pada rakyat yang sedang kelaparan, tradisi menggelar pista ageng (Pesta Agung) ini justru yang membentuk Jogja 20 dasawarsa berikutnya sebagai kota budaya. Terutama simbol keharmonisan dalam hubungan Internasional orang Jawa dengan Belanda di masa lalu. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)