Kamis, Februari 9, 2023
BerandaBerita TerbaruSejarah Lief Java, Grup Musik Keroncong Pertama di Indonesia

Sejarah Lief Java, Grup Musik Keroncong Pertama di Indonesia

Lief Java adalah grup musik keroncong pertama di Indonesia yang legendaris. Kehadiran grup musik tersebut terjadi sejak era pemerintah kolonial Hindia Belanda. Lief Java menjadi tontonan modern orang Eropa di ibukota Batavia.

Selain menjadi grup musik keroncong legendaris pertama di Batavia, Lief Java juga mengilhami lahirnya komponis paling populer di Hindia Belanda bernama Ismail Marzuki. Berbagai literasi mengatakan Ismail Marzuki adalah “anak asuh Lief Java”.

Sudah sejak kecil pencipta lagu Gugur Bunga ini terjun bergaul dengan anak-anak musik di Lief Java yang lebih senior seperti, Kartolo, Atjep, Miss Rukiah, dan Miss Netty. Bahkan sejak umur 4 tahun Ismail Marzuki sangat akrab dengan pendiri Lief Java yang ia panggil dengan sebutan “om Wang”.

Baca Juga: Ismail Marzuki, Pencipta Halo-halo Bandung yang Memikat Istri dengan Lagu

Lief Java, Tonggak Pertama Grup Keroncong di Indonesia

Menurut Ninok Leksono dalam buku berjudul, “Seabad Ismail Marzuki: Senandung Melintas Zaman” (2014), Lief Java adalah grup musik keroncong pertama di Indonesia dari golongan pribumi.

Lief Java lahir pada tahun 1918 dari orang Jawa bernama Suwardi. Karena cinta daerah dan bangga dengan kebudayaan Jawa, Suwardi menamakan grup keroncong ini dengan Rukun Anggawe Santoso. Dalam bahasa Indonesia berarti Bersatu Kita Jaya.

Rukun Anggawe Santoso bertambah sukses dan jadi grup musik keroncong populer sampai dengan tahun 1922.

Karena memiliki visi dan misi mengembangkan grup ini menjadi lebih besar, Suwardi dan kawan-kawan resmi mengubah namanya dengan memakai bahasa Belanda yakni Lief Java.

Alasan penggantian nama grup keroncong tersebut karena mengikuti tren waktu itu. Kebetulan juga sasaran penggantian nama Lief Java untuk mendapatkan perhatian orang-orang Eropa yang ada di ibukota Batavia.

Grup main musik keroncong ini sering tampil di beberapa tempat-tempat kesenian besar di Batavia. Salah satunya pernah tampil mengisi panggung Nasional di gedung kesenian Batavia yang sekarang jadi Gedung Kesenian Jakarta di jalan Djuanda Jakarta Pusat.

Ketika Ismail Marzuki Ikut Terlibat di Lief Java

Nampaknya Suwardi sebagai pendiri grup musik keroncong Lief Java terampil mendidik musisi hingga jadi pemusik hebat seperti, Kartolo, Atjep, Miss Rukiah, dan Miss Netty. Selain itu Suwardi juga ternyata jadi orang di balik layar lahirnya komponis legendaris Ismail Marzuki.

Baca Juga: Kisah Buruh Batik Jadi Priyayi Cilik di Surakarta Tahun 1919-1922

Ismail Marzuki sudah terlibat dengan Lief Java sejak lama, tepatnya sejak ia berumur 4 tahun. Kedekatan Ismail Marzuki dengan Lief Java karena Suwardi adalah teman dekat ayah Ismail. Ayahnya yang juga hobi musik ingin Suwardi melatihnya.

Karena Suwardi tak pernah menolak pertolongan teman dekat, pria yang punya panggilan om Wang dari Ismail kecil ini menyetujui keinginan temannya tersebut. Ismail Marzuki tumbuh jadi pemusik hebat dalam Lief Java, di grup musik keroncong itu ia punya relasi banyak.

Pergaulan itulah yang kemudian melatih dirinya jadi komponis legendaris. Sejarawan Ninok Leksono penulis autobiografi Ismail Marzuki bahkan menyebut Lief Java sebagai, “Ibu” seni suara dan seni musik Indonesia.

Baca Juga: Profil Ismail Marzuki, Berjuang Demi Kemerdekaan Melalui Melodi

Namun sayang sekalian sejarah tentang grup musik keroncong pertama di Indonesia ini jarang ditulis oleh sejarawan lain. Padahal Lief Java merupakan tonggak sejarah musik klasik-modern Indonesia yang sudah ada di pertengahan abad ke-20.

Grup Musik Keroncong Lief Java, Punya Alat Musik Modern Lengkap

Selain mencetak pemusik legendaris hebat seperti Ismail Marzuki, Lief Java terkenal sebagai grup musik keroncong kaya. Grup keroncong ini punya semua alat musik modern pada zaman itu.

Hal ini bertujuan untuk memicu ketertarikan penonton sehingga mengundang perhatian pemusik lain dan ikut belajar bersamanya.

Suwardi ingin mencetak regenerasi pemusik khususnya musik genre keroncong. Alat musik modern yang terdiri dari biola, seruling Eropa, gitar, dan Cello bahkan bisa dipinjam secara cuma-cuma asal mereka ikut terlibat dalam keorganisasian Lief Java.

Strategi menarik penonton ini rupanya berhasil, Lief Java sering mendapatkan proyek di berbagai pertunjukan kesenian. Seperti menjadi pengisi musik drama klasik Stambul dan sandiwara modern (Theater) di gedung-gedung kesenian Batavia.

Selain menjadi pengisi musik di acara teater, Lief Java juga sering menjadi grup musik keroncong yang tampil di restaurant khusus untuk orang-orang Eropa.

Hal ini terjadi karena Lief Java terkenal piawai mengaransemen genre lagu paling laku di ranah orang Belanda saat itu yakni, mengkolaborasikan langgam Barat dan Melayu. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)